Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kekhawatiran Pedro Acosta soal Format Pekan Balap MotoGP

Kekhawatiran Pedro Acosta soal Format Pekan Balap MotoGP
Pedro Acosta saat menjalani pekan balap GP Malaysia 2025. (commons.wikimedia.org/Liauzh)

Kalender balap MotoGP mengalami ekspansi dalam 2 musim terakhir. Ajang balap tersebut menggelar 22 seri balap yang dimulai sejak awal Maret hingga pertengahan November. Sebelumnya, MotoGP memilik 20 seri balap dalam kalender kejuaraan pada 2022--2024.

Tak hanya jumlah seri balap, format pekan balap MotoGP juga mengalami perubahan sejak 2023. Pihak kejuaraan melangsungkan balapan sprint pada Sabtu siang. Hal ini membuat pembalap melakoni dua balapan dalam sepekan.

Pedro Acosta menanggapi padatnya jadwal pekan balap MotoGP yang berlaku saat ini. Pembalap KTM Factory Racing itu khawatir akan umur karier pembalap di kejuaraan. Mengapa kemungkinan itu bisa terjadi?

1. Pembalap memikul beban untuk tampil maksimal sejak awal pekan balap yang berpotensi memengaruhi aspek psikologis

Perubahan jumlah seri dan format pekan balap MotoGP menambah beban pembalap. Mereka harus mempersiapkan diri sejak sesi awal untuk mendapat hasil terbaik. Itu tak lepas dari adanya sesi latihan Jumat siang yang menentukan pembalap bisa lolos langsung kepada sesi kualifikasi kedua (Q2).

Kemudian, pembalap melakoni sesi kualifikasi pada Sabtu pagi demi memperoleh posisi start terbaik pada balapan sprint dan utama. Berselang beberapa jam, pembalap kembali menunggangi motor untuk menjalani balapan sprint. Durasi balapan sprint adalah setengah dari total lap balapan utama.

Setelah itu, pembalap bakal saling adu cepat pada balapan utama yang berlangsung pada Minggu siang. Sebelum itu, pembalap lebih dulu memutari sirkuit dalam sesi warm-up. Sesi tersebut berlangsung pada Minggu pagi.

Intensitas pekan balap MotoGP yang kian meningkat memantik respons Pedro Acosta. Juara Moto2 2024 itu menilai padatnya jadwal berpotensi memengaruhi aspek psikologis pembalap. Sebab, tingkat stres berpeluang meningkat seiring banyaknya seri balap yang harus dihadapi.

"Mustahil untuk bertahan selama 22 seri balap dengan sesi krusial yang digelar tiap siang. Itu dimulai dari sesi latihan Jumat, kualifikasi, sprint, dan balapan utama. Tidak ada momen pada akhir pekan saat kamu bisa turun ke lintasan, menemukan ritme secara perlahan, dan sekadar berkendara. Ini akan memperpendek segala sesuatu karena tingkat stres yang mampu kami pikul akan mencapai batasnya," jelas Pedro Acosta dilansir Motorsport.

2. Risiko cedera menghantui pembalap seiring perubahan jumlah seri balap dan format pekan balap MotoGP

Selain tingkat stres, Pedro Acosta juga menyoroti risiko cedera pembalap selama penerapan format baru pekan balap MotoGP. Pembalap asal Spanyol itu melihat risiko itu kian meningkat selaras dengan intensitas agenda balap yang kian padat. Jika hal tersebut tidak diperhatikan, maka risiko cedera yang mengintai pembalap akan semakin bertambah pada kemudian hari.

"Aku pikir balapan sprint adalah ide bagus. Begitu juga dengan sesi kualifikasi dan latihan yang lebih singkat. Namun, kita tidak bisa terus-menerus mengambil risiko jika ingin pembalap memiliki karier yang panjang. Semakin tinggi risiko yang harus ditanggung, maka semakin besar pula peluang terjadinya cedera," kata Pedro Acosta dikutip Motorsport.

Kekhawatiran Acosta terhadap risiko cedera pembalap bukannya tanpa dasar. MotoGP 2025 adalah salah satu contoh terdekat. Setidaknya ada sembilan pembalap harus melewatkan pekan balap akibat cedera yang membekap. Pembalap tersebut dapat dilihat pada daftar berikut.

  1. Marc Marquez
  • Patah tulang selangka akibat insiden pada balapan utama GP Indonesia 2025. Ini menyebabkan Marquez absen pada empat seri tersisa musim lalu.
  1. Jorge Martin
  • Patah tulang tangan kanan dan kaki kiri akibat highside di tikungan 2 saat tes pramusim hari pertama di Sirkuit Sepang, Malaysia. Ini mengakibatkan Martin absen pada sisa tes Sepang dan Buriram.
  • Patah tulang tangan kiri saat latihan menjelang GP Thailand. Kejadian tersebut membuat Martin absen pada tiga seri perdana MotoGP 2025.
  • Patah tulang rusuk kanan posterior setelah terjatuh pada lap 14 dalam balapan utama GP Qatar. Cedera tersebut memaksa Martin absen dalam tujuh pekan balap dari GP Spanyol hingga GP Jerman.
  • Patah tulang selangka kanan karena terjatuh di tikungan 1 pada lap pertama balapan sprint GP Jepang. Martin absen pada GP Indonesia, Australia, Malaysia, dan Portugal.
  1. Luca Marini
  • Dislokasi pinggul kiri, kerusakan ligamen lutut kiri, patah tulang dada dan tulang selangka kiri, serta pneumotoraks sisi kanan. Cedera tersebut terjadi akibat insiden saat tes hari kedua Suzuka 8 Hours. Marini absen pada pekan balap GP Aragon, Italia, dan Belanda.
  1. Maverick Vinales
  • Patah tulang bahu kiri imbas insiden saat Q2 GP Jerman. Vinales melewatkan pekan balap GP Jerman, Republik Ceko, Austria, dan Hungaria. Ia juga absen pada pekan balap GP Indonesia, Australia, Malaysia, dan Portugal untuk fokus pemulihan cedera.
  1. Franco Morbidelli
  • Cedera bahu kiri akibat insiden pada balapan sprint GP Jerman. Morbidelli tak berpartisipasi pada balapan utama seri tersebut. Selain itu, Morbidelli juga tak ikut pekan balap GP Republik Ceko.
  1. Raul Fernandez
  • Cedera bahu kiri usai insiden pada FP1 GP Portugal. Kondisi tersebut membuat Fernandez tak melanjutkan sisa pekan balap di Sirkuit Algarve.
  1. Ai Ogura
  • Patah tulang tubia kanan saat FP1 GP Inggris. Ogura melewatkan sisa pekan balap di SIrkuit Silverstone dan tak ikut pekan balap GP Aragon.
  • Merasa tidak nyaman saat sesi warm-up GP Jepang. Itu akibat cedera tangan imbas insiden pada pekan balap GP San Marino. Ogura tak turun pada balapan utama di Sirkuit Motegi. Ia juga absen pada pekan balap GP Indonesia.
  1. Miguel Oliveira
  • Dislokasi ligamen sternoklavikular bahu kiri akibat insiden saat balapan sprint GP Argentina. Oliveira absen pada balapan utama seri tersebut. Ia juga tak berpartisipasi pada pekan balap GP Amerika Serikat, Qatar, dan Spanyol.
  1. Somkiat Chantra
  • Absen pada pekan balap GP Prancis pascaoperasi arm pump.
  • Cedera ligamen kolateral kaki kanan saat berlatih dengan motor off-road. Ini menyebabkan Chantra absen pada pekan balap GP Jerman, Republik Ceko, Austria, dan Hungaria.

3. Carlos Ezpeleta punya pembelaan terkait kekhawatiran penerapan format baru pekan balap MotoGP

Format pekan balap MotoGP yang mengalami perubahan sejak 2023 tak hanya menimbulkan keresahan pada aspek beban psikologis dan risiko cedera. Potensi tergerusnya nilai tradisional balapan utama juga tak luput dari perhatian pembalap. Namun, Carlos Ezpeleta punya pembelaan terhadap perubahan format yang terjadi.

Direktur Olahraga MotoGP Sports Entertainment Group itu justru menilai penerapan format balap yang ada saat ini dapat menarik minat penggemar baru. Ezpeleta juga membantah anggapan balapan sprint dapat mengurangi daya tarik balapan utama.

"Aku tidak melihat itu terjadi. Selisih poin yang diperebutkan terlalu besar. Memang butuh waktu bagi pembalap dan tim untuk memahami format pekan balap ini, terutama menentukan momen untuk menyerang dan bersikap hati-hati saat balapan. Tentu saja, cedera adalah bagian tak terpisahkan dari olahraga kami dan kami akan melakukan apa pun untuk mencegahnya. Namun, hal terpenting adalah aksi di lintasan dan pembalap telah menunjukkan peningkatan signifikan berkat pengalaman mereka," papar Carlos Ezpeleta dilansir Reuters.

Penerapan format baru pekan balap MotoGP memang meningkatkan jumlah penonton televisi. Mengutip Reuters, jumlah penonton melalui layar kaca pada 2025 mengalami kenaikan sebesar 26 persen untuk sesi Sabtu berkat adanya balapan sprint. Adapun peningkatan secara keseluruhan penonton televisi untuk pekan balap adalah sebesar 9 persen. Selain itu, MotoGP berhasil menarik 3,6 juta penonton untuk menyaksikan aksi pembalap secara langsung di sirkuit.

Pemberlakukan format pekan balap baru di MotoGP ibarat dua sisi mata uang. Pada satu sisi, MotoGP mendapatkan keuntungan dari pertambahan jumlah penggemar baru yang berpotensi menaikkan popularitas kejuaraan. Pada aspek lain, beban pembalap kian bertambah karena tuntutan untuk tampil maksimal sejak sesi Jumat pada tiap pekan balap. Hal ini tentu memerlukan jalan tengah guna meminimalisasi kerugian yang dapat timbul tehadap pihak-pihak yang terlibat dalam kejuaraan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Latest in Sport

See More

Raih Perunggu di Kejuaraan Asia 2026, Veddriq Leonardo Evaluasi Performa

17 Apr 2026, 21:14 WIBSport