McLaren Masih Fokus dalam Perebutan Titel Juara Formula 1 2026

Fase awal Formula 1 2026 menjadi momen menantang bagi McLaren. Tim yang berbasis di Woking, Inggris, tersebut gagal mendulang kemenangan pada tiga balapan awal musim ini. Capaian tersebut menempatkan mereka di belakang Mercedes dan Ferrari.
Hasil kurang mengesankan tak lantas membuat McLaren menyerah. Ambisi mempertahankan titel juara belum sepenuhnya padam. Apalagi, Formula 1 2026 masih memiliki 19 seri balap yang belum dihelat.
1. McLaren gagal meraih kemenangan pada tiga balapan perdana Formula 1 2026
Formula 1 2026 menandai penerapan regulasi baru yang mengubah sejumlah aspek pada mobil. Seperti tim lain, McLaren juga beradaptasi terhadap regulasi yang ada. Namun, langkah awal mereka menghadapi fase awal musim ini terbilang tidak mudah.
Pada pekan balap GP Australia, McLaren gagal meraih pole position. Oscar Piastri hanya mampu menempati posisi start kelima dengan jarak 0,862 detik dari George Russell. Sementara itu, Lando Norris berada di posisi start keenam dengan selisih waktu 0,095 detik dari Piastri.
Catatan kurang oke itu berlanjut pada sesi Minggu di Sirkuit Albert Park. Piastri gagal start balap setelah mobilnya menabrak dinding di area exit tikungan 4 saat putaran menuju grid. Di sisi lain, Norris melintasi garis finis di posisi kelima sehingga membawa pulang 10 poin.
Pekan balap GP China justru menjadi bencana untuk McLaren. Piastri dan Norris gagal ikut balapan setelah mobil keduanya mengalami masalah teknis. McLaren hanya mampu meraup 8 poin dari Negeri Tirai Bambu berbekal hasil saat balapan sprint. Pada sesi tersebut, Norris finis keempat dan Piastri menuntaskan balapan di posisi keenam.
McLaren meraih podium perdana di Formula 1 2026 pada balapan utama GP Jepang. Memulai balapan dari posisi ketiga, Piastri menutup balapan berdurasi 53 lap dengan finis di posisi kedua sehingga merengkuh 18 poin. Pada lain pihak, Norris mempersembahkan 10 poin setelah finis kelima. Ini menjadi torehan terbaik McLaren dalam tiga seri perdana Formula 1 2026.
2. Lando Norris menilai belum ada urgensi bagi McLaren mengalihkan fokus untuk mengembangkan mobil versi musim depan
Hasil kurang memuaskan McLaren dalam tiga balapan awal Formula 1 2026 memantik respons Lando Norris. Ia mengakui capaian McLaren awal musim ini tidak sesuai harapan. Walau begitu, Norris menegaskan dirinya dan tim tetap mengupayakan peningkatan pada seri berikutnya.
Pembalap asal Inggris tersebut menilai belum ada urgensi bagi McLaren mengalihkan fokus sepenuhnya pada pengembangan mobil versi musim depan. McLaren masih punya peluang dalam persaingan perebutan titel juara pada tahun ini. Norris optimistis McLaren bisa menemukan solusi sehingga kembali bersaing secara intens di barisan depan.
"Ada banyak contoh saat kami tidak tampil optimal pada awal musim, tetapi meraih posisi jauh lebih baik pada akhir musim. Itu seperti pada 2023, 2024, dan seterusnya. Kami adalah tim yang lebih kuat ketimbang sebelumnya. Kami pernah berada pada situasi tersebut, menjalaninya, dan memetik pelajaran dari tantangan yang ada. Aku yakin tim ini tahu cara mengulangi kesuksesan yang terjadi sebelumnya," kata Lando Norris dilansir Motorsport.
3. McLaren dapat berkaca dari pendekatan yang diambil Alpine dan Red Bull dalam pengembangan mobil versi 2026
Pandangan Lando Norris mengenai pendekatan McLaren pada awal Formula 1 2026 mengingatkan pada penerapan strategi dari dua tim berbeda musim lalu. Alpine dan Red Bull mengambil keputusan kontras menyongsong regulasi baru 2026. Itu berkaitan dengan rencana pengembangan mobil musim ini dan keberlanjutan pengembangan mobil musim lalu.
Alpine menetapkan langkah berani dengan menghentikan pengembangan mobil A525 sejak GP Spanyol pada awal Juni 2025. Keputusan itu memang berdampak pada posisi mereka di klasemen konstruktor musim lalu. Tim yang berbasis di Enstone, Inggris, itu menduduki posisi juru kunci dengan meraup 22 poin.
Namun, pengorbanan Alpine terlihat membuahkan hasil pada awal musim ini. Mereka kini menduduki peringkat kelima lewat koleksi 16 poin. Alpine berjarak 2 poin dari Haas yang bertengger di peringkat keempat.
Di sisi lain, Red Bull terus melakukan pengembangan pada RB21. Keputusan itu berlandaskan pada peluang yang masih dimiliki tim dalam pertarungan titel juara pembalap. Red Bull memberikan peningkatan performa pada mobil mereka hingga GP Meksiko pada akhir Oktober. Sayangnya, Max Verstappen gagal menyabet gelar tersebut karena tertinggal 2 poin dari Lando Norris.
Kini, Red Bull menanggung risiko atas keputusan mereka yang berfokus mengembangkan RB21. Mobil RB22 masih tertinggal di antara tim papan atas lainnya. Hasilnya, Red Bull berada di peringkat keenam setelah mengumpulkan 16 poin.
Dua contoh pendekatan tersebut bisa menjadi pertimbangan McLaren menyongsong seri berikutnya di Formula 1 2026. Masing-masing pendekatan memiliki keuntungan dan konsekuensi yang berbeda. McLaren perlu cermat dalam mengambil keputusan agar mereka tetap bisa bertarung dalam kontestasi titel juara.
McLaren saat ini masih berfokus pada pengembangan mobil MCL40. Namun, pendekatan bisa saja berubah mengingat dinamika pertarungan di kejuaraan. Strategi mana yang bakal diambil McLaren dalam waktu dekat? Menarik untuk dinantikan bersama!



















