Profil Al Qadsiah, Klub Kaya Arab Saudi Pemboyong Tijjani Reijnders

- Al Qadsiah merekrut Tijjani Reijnders dari Manchester City senilai 52 juta poundsterling pada 20 Agustus 2026, menegaskan agresivitas klub di bursa transfer.
- Klub asal Khobar yang berdiri pada 1967 ini bangkit setelah promosi sebagai juara Saudi First Division 2023/2024, serta pernah menjuarai Asian Cup Winners' Cup 1993/1994.
- Sejak diambil alih Saudi Aramco pada 2023, Al Qadsiah membangun skuad bertabur bintang, finis keempat selama dua musim terakhir, dan akan debut di ACL Elite 2026/2027.
Bursa transfer awal musim 2026/2027 diguncang pergerakan agresif klub-klub kawasan Timur Tengah. Kejutan besar datang dari Al Qadsiah yang secara resmi mengumumkan Tijjani Reijnders sebagai rekrutan baru mereka pada Kamis (20/8/2026) lalu. Dilansir BBC, gelandang berdarah Indonesia tersebut diboyong dari Manchester City dengan nilai transfer fantastis, yakni mencapai 52 juta pound sterling (sekitar Rp1,25 triliun).
Langkah berani Al Qadsiah mendatangkan bintang Timnas Belanda tersebut menegaskan ambisi mereka untuk merusak dominasi klub-klub tradisional di kancah Saudi Pro League. Penasaran seperti apa sejarah dan prestasi klub baru Tijjani Reijnders ini? Yuk, simak enam fakta tentang Al Qadsiah berikut ini!
1. Nama klub berasal dari pertempuran bersejarah di masa Kekhalifahan Rasyidin
Berdiri pada 1967 di kota pesisir Khobar, Al Qadsiah adalah salah satu klub dengan sejarah panjang di kancah sepak bola Arab Saudi. Namun, mereka lebih sering berada di papan tengah dan bawah sepanjang dekade 2000-an. Sempat terdegradasi pada akhir musim 2020/2021, klub berjuluk Abna al-Qadisiyyah (Anak-Anak Qadsiah) ini berhasil bangkit. Mereka mengunci tiket promosi ke Saudi Pro League dengan status sebagai juara Saudi First Division 2023/2024.
Dilansir Saudipedia, nama klub tersebut berasal dari Pertempuran Al-Qadsiah. Ini adalah perang besar antara pasukan Kekhalifahan Rasyidin dan Kekaisaran Sasanid Persia pada 636 M di Qadsiah, Irak. Perang yang dimenangkan kubu Rasyidin ini menjadi titik awal kekuasaan Islam di Persia dan meruntuhkan kekuatan salah satu imperium besar dunia saat itu.
2. Sukses meraih tiga gelar juara sepanjang dekade 1990-an, termasuk Asian Cup Winners' Cup
Meskipun baru 3 musim kembali meramaikan persaingan kasta tertinggi, Al Qadsiah memiliki sejumlah piala yang mengisi lemari prestasi klub. Sepanjang sejarahnya, klub ini pernah merengkuh gelar juara Asian Cup Winners' Cup 1993/1994, sebuah ajang antarklub Asia bergengsi pada masanya (kini setara AFC Champions League 2). Selain itu, mereka juga pernah meraih gelar juara Crown Prince Cup 1991/1992 dan Saudi Federation Cup 1993/1994. Ini membuktikan bahwa identitas juara sudah melekat dalam DNA klub sejak 1990-an dan menunggu untuk dibangkitkan.
3. Mengalami kebangkitan sejak diambil alih oleh perusahaan minyak, Saudi Aramco
Perubahan besar-besaran Al Qadsiah tak lepas dari dukungan finansial luar biasa dari balik layar. Pada pertengahan 2023, Kementerian Olahraga Arab Saudi mengumumkan pengambilalihan kepemilikan Al Qadsiah oleh Saudi Aramco, perusahaan minyak multinasional terbesar di dunia. Suntikan modal tak terbatas dari Aramco menyulap Al Qadsiah menjadi kekuatan baru yang sanggup bersaing secara head-to-head dengan klub-klub milik Public Investment Fund (PIF) seperti Al-Hilal dan Al-Nassr.
4. Skuad Al Qadsiah kini dihuni beberapa pemain bintang asal Eropa dan Amerika Latin
Sejak diambil alih Saudi Aramco, Al Qadsiah kerap menyita perhatian pada masa bursa transfer. Dilansir Transfermarkt, sebelum meresmikan Tijjani Reijnders, mereka sudah lebih dulu mendaratkan beberapa pemain berpengalaman. Mulai dari Koen Casteels, Nacho Fernandez, Otavio, dan Mateo Retegui.
Turut pula dua talenta Amerika Latin, yakni Gaston Alvarez asal Uruguay serta Julian Quinones asal Meksiko. Al Qadsiah juga diperkuat sebagian penggawa Timnas Arab Saudi, di antaranya bek, Jehad Thakri, dan gelandang, Musab Al-Juwayr. Ambisi besar tersebut disempurnakan dengan penunjukan pelatih berpengalaman, Brendan Rodgers, sejak Desember 2025 untuk meracik strategi tim.
5. Mengusung misi meruntuhkan dominasi klub-klub Big Four di Saudi Pro League
Dengan sokongan dana melimpah, Al Qadsiah tak ingin menumpang lewat di kasta tertinggi. Mereka membidik posisi papan atas demi mengamankan tiket ke kompetisi antarklub Asia, AFC Champions League Elite (ACL Elite). Selain itu, mereka memiliki misi merobohkan dominasi Big Four sepak bola Arab Saudi yang berisi Al-Hilal, Al-Nassr, Al-Ittihad, dan Al-Ahli. Hasilnya, mereka finis di peringkat 4 pada 2 musim terakhir. Anak asuh Brendan Rodgers tersebut juga akan tampil di ACL Elite 2026/2027 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub.
6. Akan pindah kandang ke Aramco Stadium pada akhir 2026 mendatang
Al Qadsiah selama ini memainkan laga-laga kandang mereka di Prince Saud bin Jalawi Stadium yang berkapasitas sekitar 20 ribu penonton. Kendati demikian, mereka akan pindah ke Aramco Stadium, arena berkapasitas 47 ribu orang yang akan beroperasi mulai akhir 2026 ini. Kehadiran bintang-bintang kelas dunia seperti Tijjani Reijnders berpotensi membuat antusiasme suporter Al Qadsiah kian meningkat sepanjang musim ini.
Al Qadsiah jelas memiliki segalanya. Mulai dari skuat tertabur bintang, hingga sokongan dana tak terbatas. Lantas, mampukah Tijjani Reijnders membawa klubnya sekarang berbicara banyak di Saudi Pro League dan AFC Champions League Elite 2026/2027?




















