Rekor Gol dan Teror Fisika dalam Bola Trionda di Piala Dunia 2026

- Piala Dunia 2026 mencetak rekor jumlah gol tertinggi, melampaui edisi 2022, dipicu oleh ekspansi peserta dan karakter bola Trionda yang unik.
- Penelitian fisikawan Hong dan Asai membuktikan bola Trionda dapat mengalami perubahan kecepatan mendadak akibat krisis hambatan dan struktur sambungan panelnya.
- FIFA menegaskan desain empat panel dan jahitan dalam pada bola Trionda justru meningkatkan stabilitas serta kontrol saat meluncur di udara maupun kondisi lembap.
Jakarta, IDN Times - Piala Dunia 2026 menjadi edisi yang telah menghadirkan rekor baru dalam urusan gol. Karena ekspansi jumlah peserta, probabilitas gol meningkat dan telah memecahkan catatan di edisi 2022 lalu.
Tercatat, setelah laga Senegal versus Irak dan Norwegia kontra Prancis dalam penyisihan Grup I, jumlah golnya sudah melewati catatan Piala Dunia 2022, yakni 187.
1. Bola juga jadi faktornya

Bukan cuma akibat ekspansi peserta, banyaknya gol yang tercipta juga disebabkan oleh karakter bola Trionda. Eks kiper Inggris, Joe Hart, merasa bola Trionda yang dikeluarkan Adidas memiliki karakter berbahaya dan menjadi momok tersendiri untuk para pengawal mistar. Dari pengamatan Hart, bola Trionda bisa melesat lebih cepat di titik tertentu.
"Bola datang ke kiper lebih cepat daripada ketika diterima kaki. Lihat ketika Luca Zidane (kiper Aljazair) harus menghadapi tendangan Lionel Messi. Seharusnya dia bisa menanganinya," kata Hart, dilansir BBC.
Lantas, benarkah demikian?
2. Penelitian membuktikan adanya potensi perubahan kecepatan mendadak
Sebuah penelitian yang diinisiasi oleh dua fisikawan, Sungchan Hong dan Takeshi Asai, berjudul Orientation-Dependent Drag Crisis and Flight Response of the FIFA World Cup Match Ball Trionda yang dipublikasikan lewat MDPI, menunjukkan adanya kecenderungan pernyataan Hart benar.
Hong dan Asai melakukan eksperimen terhadap bola Trionda dalam terowongan angin. Bola ditempatkan dalam enam posisi berbeda dalam terowongan angin tersebut dan ditemukan hasil yang konsisten. Tujuannya, mereka ingin menguji dan menemukan efek aerodinamis pada bola ini.
Hasil dari temuan dalam eksperimen di dalam terowongan angin kemudian dituangkan dalam perhitungan menggunakan rumus tertentu. Hingga mereka mendapatkan kesimpulan mengenai karakter bola Trionda.
Dari penelitian Hong dan Asai, ada kecenderungan bola Trionda mengalami krisis hambatan ketika melaju dengan kecepatan tertentu. Hal ini juga disebabkan oleh susunan sambungan dan alur di bagian ujungnya yang menciptakan krisis hambatan.
Ketika bola meluncur dengan kecepatan tertentu, lajunya semakin tinggi. Dalam studi tersebut, kondisi ini juga bisa terjadi ketika bola berada di ketinggian tertentu dan berpindah dari kondisi halus ke turbulensi, yang membantunya meluncur lebih cepat.
3. FIFA klaim Trionda bola paling stabil
Meski begitu, ada pendapat berbeda dari FIFA. Mereka menyatakan desain Trionda, yang menggunakan empat panel dan jahitan dalam, justru membantu dalam stabilisasi pergerakan di udara.
"Dengan pola dan permukaan yang diusung, bola bisa meluncur dengan minim hambatan ketika bergerak di udara. Pola-pola timbul yang samar dan hanya terlihat dari dekat, meningkatkan daya lengket saat menendang dan menggiring bola dalam kondisi basah hingga lembab," begitu pernyataan FIFA.
















