Keikutsertaan Aljazair di Piala Dunia 1982 Spanyol bukan tentang sepak bola saja. Sebagai negara yang saat itu baru 2 dekade meraih kemerdekaan, ajang tersebut adalah cara lain untuk meneguhkan eksistensi mereka di panggung internasional. Kejutan bisa mereka hadirkan. Namun, siapa sangka sepak terjang Aljazair di Piala Dunia 1982 justru berakhir karena main mata dua tim Eropa.
Saat Aljazair Jadi Korban Konspirasi di Piala Dunia 1982

1. Aljazair membawa misi politis ke Piala Dunia 1982 setelah meraih kemerdekaan dari Prancis
Keikutsertaan Aljazair di Piala Dunia 1982 menjadi instrumen politik untuk melegitimasi identitas nasionalisme setelah merdeka dari Prancis. Menurut jurnal Soccer & Society edisi Agustus 2022, skuad Les Fennecs dibentuk di bawah ideologi sosialis ketat. Pemerintah Aljazair bahkan menerapkan seleksi terhadap pemain diaspora yang lahir di Prancis dengan melarang anak-anak mantan kaki tangan penjajah untuk membela tim nasional.
Misi menegaskan kedaulatan bangsa ini juga ditunjukkan lewat penolakan tegas pemerintah terhadap sponsor olahraga asing dari blok Barat seperti Adidas dan Puma. Sebagai gantinya, para pemain mengenakan seragam buatan perusahaan tekstil lokal milik negara, Sonitex, untuk menjaga prinsip kemandirian ekonomi. Langkah berani ini sengaja diambil sebagai bentuk diplomasi kultural demi meruntuhkan warisan kolonial.
2. Sempat dipandang sebelah mata, Aljazair mempermalukan Jerman Barat
Laga pertama Grup 2 mempertemukan Aljazair dengan tim raksasa, Jerman Barat. Sebelum pertandingan yang berlangsung pada 16 Juni 1982 tersebut, kubu Jerman Barat melontarkan pernyataan meremehkan dan arogan. Dilansir All Blue Daze, pelatih Jerman Barat, Jupp Derwall, bahkan sesumbar akan mendedikasikan tujuh gol yang dilesakkan timnya untuk para istri pemain. Di depan wartawan, Derwall terang-terangan meragukan kualitas para pemain Aljazair.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat para pemain Jerman terdiam. Disaksikan 41 ribu penonton yang memenuhi Estanio El Molinon di Gijon, Aljazair membalikkan prediksi. Tim yang dipimpin seorang kapten, Ali Fergani, menundukkan Jerman Barat dengan skor 2-1. Kemenangan ini memiliki pengaruh politik yang masif. Bayangkan, sebuah negara berkembang yang baru merdeka berhasil meruntuhkan arogansi negara barat.
3. Di laga terakhir gase grup, Aljazair sukses mengantongi poin penuh saat berjumpa Chile
Meski mengawali perjalanan dengan poin penuh, Aljazair takluk 0-2 di tangan Austria dalam laga kedua fase grup. Tak pelak, tim asuhan Mahieddine Khalef dan Rachid Mekhloufi tersebut harus menang melawan Chile di partai terakhir. Lebih apes, saat itu pertandingan penutup fase grup tidak dilangsungkan bersamaan.
Aljazair yang bertanding lebih dulu pada 24 Juni 1982 sukses menekuk Chile dengan skor 3-2. Jerman Barat dan Austria, yang baru bertanding keesokan harinya, menyadari kemenangan 1-0 atau 2-0 untuk Jerman Barat pada laga keesokan harinya akan meloloskan kedua negara Eropa tersebut sekaligus menyingkirkan Aljazair. Hal yang terjadi kemudian adalah skandal yang pamor dengan nama Disgrace of Gijon.
4. Disgrace of Gijon terjadi karena Jerman Barat dan Austria sepakat menyingkirkan Aljazair
Pertandingan Jerman Barat melawan Austria berlangsung pada 25 Juni 1982 di Gijon. Setelah Horst Hrubesch mencetak gol untuk Jerman Barat pada menit ke-10, kedua tim secara terang-terangan berhenti menyerang. Para pemain hanya mengalirkan bola tanpa arah selama 80 menit demi mempertahankan skor 1-0. Tak ada gol tercipta hingga peluit ditiup wasit, Bob Valentine.
Publik bereaksi negatif atas apa yang diperlihatkan kedua tim di atas lapangan. Dilansir The Guardian, Eberhard Stanjek, komentator saluran televisi Jerman ARD, menangis meratapi jalannya pertandingan. "Apa yang terjadi di sini benar-benar memalukan dan sama sekali bukan sepak bola. Silakan beralasan apa pun, tapi kemenangan tidak bisa diraih dengan menghalalkan segala cara," ucap Stanjek seperti dikutip The Guardian. Sementara itu, seorang komentator asal Austria meminta para penonton untuk mematikan televisi dan memilih diam pada 30 menit terakhir pertandingan.
5. Meski protes ditolak, Aljazair membuat FIFA mengubah regulasi demi kompetisi yang lebih adil
Kubu Aljazair murka melihat jalannya pertandingan Jerman Barat melawan Austria. Dilansir Middle East Eye, Benali Sekkal selaku Presiden Federasi Sepak Bola Aljazair saat itu mengecamnya sebagai tindakan yang memalukan dan tidak bermoral. Namun, protes resmi Aljazair kepada FIFA yang mendesak agar kedua tim didiskualifikasi dari turnamen akhirnya ditolak.
Pada akhirnya, baik Austria maupun Jerman Barat gagal menjuarai Piala Dunia, terlebih Jerman takluk 1-3 dari Italia pada final. Kendati demikian, Disgrace of Gijon terus membekas hingga hari ini. Regulasi Piala Dunia pun ikut berubah. Seluruh laga terakhir babak penyisihan grup wajib dimainkan secara serentak demi mencegah main mata.
Aljazair sendiri sudah berpartisipasi sebanyak lima kali di Piala Dunia, termasuk pada 2026. Namun, Disgrace of Gijon tetap diingat banyak orang. Dari kacamata antikolonialisme, insiden tersebut seolah menjadi bukti, negara-negara Eropa bersedia menghalalkan segala cara demi menjaga dominasi mereka.