Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejarah Pembangunan Estadio Azteca, Termegah di Meksiko

Sejarah Pembangunan Estadio Azteca, Termegah di Meksiko
Suasana Estadio Azteca di Mexico City, Meksiko, salah satu stadion penyelenggara pertandingan Piala Dunia 2026. (unsplash.com/Alberto GG)
Intinya Sih
  • Estadio Azteca dibangun pada era Presiden Adolfo Lopez Mateos sebagai simbol modernisasi Meksiko, dirancang oleh arsitek Pedro Ramirez Vazquez dan Rafael Mijares Alcerreca untuk Olimpiade 1968 dan Piala Dunia 1970.
  • Pembangunannya menghadapi tantangan besar di lahan batuan vulkanis Santa Ursula, melibatkan ratusan pekerja serta memerlukan peledakan jutaan ton batu demi fondasi kokoh stadion megah ini.
  • Meski anggaran membengkak hingga lebih dari dua kali lipat dan sempat molor dua tahun, Estadio Azteca akhirnya diresmikan pada Mei 1966 dan kini menjadi tuan rumah tiga edisi Piala Dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Estadio Azteca, salah satu stadion penyelenggara pertandingan di Piala Dunia 2026, bukan sekadar arena sepak bola yang megah. Ambisi besar melatarbelakangi pembangunan arena berkapasitas 80 ribu penonton tersebut. Stadion yang berada di Mexico City itu diniatkan sebagai simbol pembangunan Meksiko modern untuk Olimpiade 1968 dan Piala Dunia 1970.

Pembangunan stadion termegah di Meksiko pada dekade 1960-an dipenuhi tantangan luar biasa. Bahkan, sebelum masuk tahap groundbreaking, mereka sudah melibatkan 17 teknisi, 35 insinyur, dan 800 pekerja. Seperti apa sejarah lengkap pembangunan Estadio Azteca tersebut?

1. Lahir dari rencana ambisius Presiden Adolfo Lopez Mateos, dieksekusi duo arsitek legendaris Meksiko

Ide pembangunan Estadio Azteca digagas pada masa pemerintahan Presiden Adolfo Lopez Mateos setelah Mexico City ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade 1968. Dilansir situs resmi Olympics, untuk mewujudkan rencana ambisius tersebut, 3 proposal pembangunan disodorkan 3 arsitek berbeda. Hasilnya, dua arsitek legendaris, Pedro Ramirez Vazquez dan Rafael Mijares Alcerreca, terpilih menjalankan proyek ini. Demi menciptakan stadion yang tak tertandingi, mereka melakukan riset mendalam dengan mengunjungi stadion-stadion terbaik di Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol.

2. Tantangan sudah dihadapi bahkan sebelum proses peletakan batu pertama

Tantangan terberat proses konstruksinya sudah dimulai sebelum peletakan batu pertama. Lokasi yang dipilih adalah kawasan Santa Ursula, Mexico City. Lahan tersebut bekas aliran lava purba dari gunung berapi Xitle yang telah membeku menjadi batuan keras. Dilansir Buenos Aires Herald, para pekerja harus meledakkan 180 juta ton batuan vulkanis demi menanam fondasi kokoh yang mampu menahan beban struktur beton untuk pembangunan stadion.

3. Anggaran pembangunannya membengkak dan sempat molor selama 2 tahun

Proyek ini memakan pengorbanan besar karena ratusan keluarga petani harus direlokasi demi pembangunan stadion, area parkir, dan akses jalan. Dilansir situs resmi FIFA, anggaran awal yang direncanakan sebesar 95 juta peso (Rp27 miliar) juga membengkak hingga melebihi 200 juta peso (Rp58 miliar). Lebih jauh, kendala dana dan teknis membuat pembangunannya sempat molor selama 2 tahun dari jadwal semula. Beruntung, Estadio Azteca resmi dibuka pada Mei 1966.

4. Diresmikan pada 29 Mei 1966 dengan uji coba antara Club America melawan Torino

Setelah dibangun sejak 1962, Estadio Azteca resmi dibuka pada tanggal 29 Mei 1966. Kapasitas awalnya terbilang fantastis, bisa menampung 107.000 penonton. Dilansir CCE Online News, laga peresmiannya mempertemukan klub lokal, Club America, melawan klub papan atas Italia saat itu, Torino. Pertandingan bersejarah tersebut berakhir dengan skor imbang 2-2. Gol pertama di stadion ini dicetak pemain asal Brasil, Arlindo Dos Santos.

5. Oksigen tipis sebab stadion ini berada di ketinggian lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut

Di balik kemegahannya, terdapat sisi kelam nepotisme saat pembangunan. Kemenangan Pedro Ramirez Vazquez sebagai arsitek disinyalir kuat berkat kongkalikong dengan saudaranya, Miguel Ramirez Vazquez, yang merupakan bagian dari konsorsium pemilik stadion. Dilansir Remezcla, lewat informasi orang dalam, Pedro mengubah desainnya pada menit-menit terakhir demi mengutamakan boks penonton privat (private boxes) untuk memikat taipan media pemilik Televisa, Emilio Azcarraga.

Kini, Estadio Azteca menjadi satu-satunya stadion di dunia yang menjadi penyelenggara Piala Dunia sebanyak tiga kali. Arena tersebut bahkan menjadi saksi bisu banyak momen bersejarah sepak bola. Beberapa di antaranya kejayaan Pele dan Brasil pada 1970 dan gol tangan Tuhan Maradona pada 1986. Jika mujur, kita bisa kembali menyaksikan hal luar biasa berlangsung di Azteca di Piala Dunia 2026 ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
savira Ivanka
Gagah N. Putra
savira Ivanka
Editorsavira Ivanka

Related Articles

See More