Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tekanan Meningkat, LaLiga Minta Infantino Mundur dari FIFA

Tekanan Meningkat, LaLiga Minta Infantino Mundur dari FIFA
Presiden FIFA Gianni Infantino berbicara dalam Kongres FIFA ke-76 di Vancouver Convention Centre, 30 April 2026, di Vancouver, Kanada. (Foto: Don MacKinnon/AFP)
Intinya Sih
  • Presiden LaLiga Javier Tebas meminta Gianni Infantino mundur sebagai Presiden FIFA, menilai gaya kepemimpinannya sejak lama merusak ekosistem sepak bola demi kepentingan elite politik.
  • Tebas menyoroti pemberian Peace Prize kepada Donald Trump dan penangguhan kartu merah Folarin Balogun sebagai contoh masuknya pengaruh politik yang mengganggu independensi sepak bola.
  • Menurut Tebas, masalah FIFA bukan hanya Infantino, melainkan sistem internalnya; ia mendesak audit serta reformasi tata kelola dan manajemen bersama pergantian kepemimpinan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Desakan terhadap Gianni Infantino terus berdatangan, terutama dari otoritas sepak bola di Eropa. Terbaru, LaLiga menegaskan tak mendukung Infantino untuk meneruskan jabatannya sebagai Presiden FIFA.

Presiden LaLiga, Javier Tebas, meminta adanya perubahan di kursi orang nomor satu FIFA. Tebas merasa Infantino harus mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIFA karena secara fundamental telah merusak ekosistem sepak bola usai mementingkan kepentingan sejumlah elite politik.

"Bagi saya, Gianni Infantino sudah selesai sejak lama. Saya tak bicara ini karena insiden-insiden yang terjadi belakangan, tapi sudah menyadari gaya manajemen buruknya sejak lama. Meski, sejumlah orang baru menyadarinya sekarang," kata Tebas, dilansir Le Monde.

1. Infantino sudah bikin sepak bola jadi sempit

Menurut Tebas, tindakan-tindakan Infantino yang membuka ruang bagi kekuatan politik untuk masuk, dengan memberikan Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi salah satu noda dalam kepemimpinannya di FIFA.

Selain itu, keputusan FIFA menangguhkan kartu merah Folarin Balogun di Piala Dunia, ditegaskan Tebas, telah merusak sepak bola karena kental aroma politik dengan membiarkan Trump mengintervensi independensi Piala Dunia dari kekuatan luar.

"Sepak bola tak terbatas untuk kaum elite. Bagi saya, era Infantino sudah selesai. Apa yang tersisa sekarang, kapan reformasi berlangsung, dan bagaimana proses suksesinya digelar? Saya berharap bukan cuma pergantian orang-orang dengan lainnya, tapi perbaikan yang bermoral," ujar Tebas.

2. Kebobrokan FIFA juga pada sistem

Kebobrokan di FIFA, ditegaskan Tebas, tak hanya berhenti pada Infantino. Namun, sistem yang bekerja di internal FIFA juga harus diaudit agar tradisi lama tidak bertahan dan kesalahan bisa diperbaiki.

"Apa yang terjadi tak mengagetkan saya. Saya terkejut, ketika melihat reaksi orang-orang yang selama ini diam bertahun-tahun. Masalah tak berhenti di satu orang, tapi sistem secara keseluruhan," kata Tebas.

3. Berharap ada reformasi di FIFA

Kini, Tebas berharap pemimpin baru bisa membawa penyegaran di tubuh FIFA. Reformasi, diminta Tebas, tak cuma berkutat pada struktur organisasi, melainkan juga pada tata kelola organisasi dan manajemen.

"Mari berharap semuanya benar-benar berubah. Pemimpin berganti, pemerintahan baru bisa digulirkan di FIFA," kata Tebas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More