7 Tim yang Juara Liga Champions via Adu Penalti pada Abad 21

- PSG sukses mempertahankan gelar Liga Champions 2025/2026 setelah menang adu penalti 4-3 atas Arsenal usai imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.
- Sejak awal abad ke-21, hanya tujuh tim yang menjuarai Liga Champions lewat adu penalti, termasuk Bayern Munich, AC Milan, Liverpool, Manchester United, Chelsea, Real Madrid, dan kini PSG.
- Laga-laga final tersebut memperlihatkan drama luar biasa di mana mental juara dan ketenangan para penendang menjadi faktor utama dalam menentukan siapa yang mengangkat trofi Si Kuping Besar.
Paris Saint-Germain (PSG) sukses menjuarai Liga Champions Eropa 2025/2026. Klub Ibu Kota Prancis ini berhasil mempertahankan trofi Si Kuping Besar. Pada partai final, PSG menang 4-3 via adu penalti kontra Arsenal usai imbang 1-1 pada waktu normal dan babak tambahan. Keberhasilan tim meraih juara Liga Champions melalui adu penalti terbilang jarang. Tercatat, hanya ada enam tim yang juara setelah menang adu penalti pada abad 21.
1. Bayern Munich mengalahkan Valencia untuk menjuarai Liga Champions pada 2001
Bayern Munich dan Valencia bertemu pada final Liga Champions 2000/2001 yang berlangsung di San Siro, Italia. Kedua tim bermain imbang 1-1 pada waktu normal dan tambahan. Menariknya, kedua tim sama-sama mencetak gol melalui titik putih. Valencia unggul dulu melalui Gaizka Mendieta, sedangkan gol Bayern Munich tercipta berkat Stefan Effenberg.
Pada babak adu tos-tosan, Bayern Munich sejatinya memulai dengan kegagalan Paulo Sergio. Namun, Bayern Munich mampu bangkit. Sebaliknya, Valencia dua kali beruntun gagal mencetak gol. Bayern Munich juga sempat kehilangan kesempatan usai kegagalan Patrik Andersson. Namun, Oliver Kahn tampil sebagai pahlawan setelah menepis sepakan Mauricio Pellegrino. Bayern Munich juara untuk yang keempat kalinya berkat kemenangan 4-3.
2. Di Liga Champions 2003, AC Milan juara usai mengalahkan Juventus via adu penalti
Duel sesama tim Italia tersaji di final Liga Champions 2002/2003. AC Milan dan Juventus bentrok di Old Trafford, Inggris. Namun, kedua tim tak mampu mencetak gol pada waktu normal dan extra time. AC Milan berhasil juara setelah menang adu penalti dengan skor 3-2.
Juventus mengalami kekalahan setelah tiga penendangnya gagal, yakni David Trezeguet, Marcelo Zalayeta, dan Paolo Montero. AC Milan sejatinya juga kehilangan dua gol setelah Clarence Seedorf dan Kakha Kaladze tak mampu menyarangkan bola ke gawang. Namun, AC Milan berhasil mengunci gelar juara keenam melalui gol dari Andriy Shevchenko.
3. Liverpool juara secara dramatis dengan mengalahkan AC Milan di final Liga Champions 2005
Final Liga Champions 2004/2005 menjadi salah satu partai bersejarah. Final ini tersohor dengan Miracle of Istanbul setelah kemenangan dramatis Liverpool kontra AC Milan di Ataturk Olympic Stadium, Turki. Liverpool menang adu penalti dengan skor 3-2.
Pada final musim tersebut, Liverpool bukan sebagai unggulan. AC Milan yang dihuni banyak bintang dengan skuad lebih matang menjadi favorit. Ini terbukti melalui keunggulan 3-0 AC Milan pada babak pertama berkat satu gol Paolo Maldini dan brace Hernan Crespo.
Namun, Liverpool menunjukkan magisnya dengan menyamakan skor hanya dalam waktu 6 menit. Steven Gerrard membuka asa Liverpool melalui golnya pada menit 54. Ini disusul gol Vladimir Smicer 2 menit setelahnya. Xabi Alonso membuat skor sama via gol penaltinya pada menit 60. Kedudukan 3-3 ini bertahan hingga waktu normal dan tambahan usai.
Pada awal adu penalti, dua penendang AC Milan gagal, yakni Serginho dan Pirlo. Sementara, Liverpool memimpin 2-0 berkat keberhasilan Dietmar Hamann dan Djibril Cisse. AC Milan memperkecil menjadi 1-2 melalui gol Jon Dahl Tomasson. Liverpool sempat gagal karena John Arne Riise. Setelah itu, Kaka mencetak gol dan dibalas Smicer. Jerzy Dudek keluar sebagai pahlawan kemenangan Liverpool setelah menggagalkan sepakan Andriy Shevchenko.
4. Pada final Liga Champions 2008, Manchester United menumbangkan Chelsea
Manchester United mengalahkan Chelsea untuk menjuarai Liga Champions 2007/2008. Kedua tim bermain imbang 1-1 pada waktu normal dan tambahan. Manchester United unggul dahulu via gol Cristiano Ronaldo sebelum berhasil disamakan Chelsea melalui Frank Lampard. Manchester United menang adu penalti dengan skor 6-5 untuk meraih trofi ketiga.
Dalam adu penalti, satu-satunya eksekutor yang gagal adalah Cristiano Ronaldo. Namun, Chelsea lebih banyak dengan dua kegagalan. Pertama, John Terry sebagai kapten tak menuntaskan tugasnya dengan gol. Ketika penentuan penendang keenam, Nicolas Anelka gagal mencetak gol. Edwin van der Sar menjadi penentu kemenangan Manchester United.
5. Chelsea susah payah mengalahkan Bayern Munich di final Liga Champions 2012
Chelsea merasakan gelar juara Liga Champions perdananya pada 2011/2012. Kemenangan ini diperoleh secara dramatis melawan Bayern Munich. Secara kebetulan, final tersebut dihelat di Allianz Arena yang merupakan kandang Bayern Munich. Meski begitu, Chelsea mampu menahan imbang 1-1. Chelsea keluar sebagai juara setelah menang 4-3 saat adu penalti.
Duel kedua tim ini berlangsung alot. Bayern Munich mampu memimpin melalui gol Thomas Mueller pada menit 83. Namun, Chelsea menyamakan skor via gol Didier Drogba hanya 5 menit kemudian. Skor imbang membuat laga berlanjut ke extra time. Bayern Munich sejatinya punya kans mencetak gol lagi pada menit 95. Namun, penalti Arjen Robben gagal berbuah gol.
Chelsea sempat gagal pada penendang pertama setelah sepakan Juan Mata ditepis Manuel Neuer. Sementara, Bayern Munich tanpa cela dengan tiga eksekutor awalnya membuat gol. Namun, keadaan berbalik pada pemain keempat dan kelima mereka. Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger gagal melakukan tugasnya. Didier Drogba akhirnya menjadi penentu kemenangan Chelsea untuk meraih trofi Si Kuping Besar pertama sepanjang sejarah klub.
6. Real Madrid mengalahkan Atletico Madrid untuk menjuarai Liga Champions pada 2016
Dua tim Ibu Kota Spanyol bersua di final Liga Champions 2015/2016. Real Madrid dan Atletico Madrid bentrok memperebutkan trofi San Siro. Kedua tim hanya imbang 1-1 pada waktu normal dan tambahan. Namun, Real Madrid mampu menang 5-3 via adu penalti.
Real Madrid bisa memimpin dahulu berkat gol Sergio Ramos pada awal permainan. Namun, Atletico Madrid mampu menyamakan skor melalui Yannick Carrasco. Setelah extra time tidak ada gol, pemenang ditentukan via penalti. Real Madrid menang meyakinkan setelah lima eksekutornya berhasil. Sementara, Atletico Madrid sekali gagal melalui Juanfran.
7. Di final Liga Champions 2026, PSG mempertahankan trofi usai menang kontra Arsenal
PSG menghadapi Arsenal di final Liga Champions 2025/2026 dengan status juara bertahan. Kendati begitu, PSG mengalami kesulitan. Arsenal unggul dahulu via gol Kai Havertz pada menit 6. Beruntungnya, PSG bisa menyamakan skor melalui penalti Ousmane Dembele pada babak kedua. Skor tidak berubah hingga waktu normal berakhir. Begitu pun dengan extra time.
Ketika adu penalti, 4 dari 5 penendang PSG berhasil. Satu-satunya yang tidak mencetak gol adalah Nuno Mendes. Namun, Arsenal tidak beruntung dengan 2 dari 5 eksekutornya mengalami kegagalan. Pertama, tendangan Eberechi Eze meleset ke sisi kanan gawang. Sementara, Gabriel Magalhaes sebagai penentu di penendang kelima gagal setelah sepakannya melambung di atas mistar gawang. PSG juara setelah menang adu penalti 4-3.
PSG menunjukkan kesiapannya untuk mempertahankan trofi Si Kuping Besar pada 2026. Kendati kesulitan sepanjang permainan, faktor mental berbicara dengan mampu juara melalui adu penalti. Dengan hasil ini, PSG mengoleksi dua gelar juara Liga Champions dalam sejarah klub.



















