Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Always on Display Bisa Merusak Layar Smartphone?

4 min read
Apakah Always on Display Bisa Merusak Layar Smartphone?
ilustrasi Always on Display (unsplash.com/Victor Carvalho)

  • Always on Display tidak merusak layar secara masif, tetapi gambar statis yang tampil lama dapat meningkatkan risiko burn-in pada panel OLED.
  • Fitur ini juga mengonsumsi baterai; dalam 24 jam daya dapat berkurang hingga 20 persen. Risiko bisa ditekan dengan jadwal aktif, kecerahan rendah, dan widget minimal.
  • Always on Display umumnya optimal pada OLED/AMOLED karena hemat saat menampilkan hitam, sementara layar IPS lebih cepat menguras baterai. Fitur ini menampilkan jam, notifikasi, dan widget esensial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kamu pasti sudah tak asing dengan fitur di layar smartphone yang bernama Always on Display (AoD). Fitur tersebut bekerja dengan cara menghitamkan layar ketika dimatikan dan hanya menampilkan notifikasi esensial. Dengan begitu, kamu bisa lebih fokus, tidak terdistraksi, tapi tetap bisa memantau hal penting dari layar smartphone.

Meski tak signifikan, Always on Display tetap menguras daya baterai. Always on Display juga tak sepenuhnya mematikan layar sehingga secara teori perangkat masih menyala untuk menampilkan notifikasi. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa Always on Display bisa merusak layar smartphone. Apakah anggapan tersebut benar? Temukan jawabannya di bawah ini, yuk!

  1. 1. Apakah Always on Display bisa merusak layar smartphone?

    ilustrasi Always on Display
    ilustrasi Always on Display (unsplash.com/Max Duzij)

    Always on Display sebenarnya tidak merusak layar smartphone secara masif. Fitur tersebut tak akan membuat layar mengalami green line, retak, atau tiba-tiba tak bisa disentuh. Namun, laman Make Use Of menjelaskan bahwa penggunaan Always on Display bisa meningkatkan risiko burn-in pada layar OLED. Burn-in bisa terjadi jika Always on Display selalu menampilkan gambar statis dalam waktu yang lama.

    Jika sudah mengalami burn-in, layar akan menampilkan 'bayangan' ketika menyala. Bayangannya bisa berupa teks atau gambar yang tercetak permanen akibat piksel yang aus. Masalah lain yang bisa terjadi akibat Always on Display yang terus menyala adalah baterai yang berkurang. Dalam jangka pendek, pengurangannya tak terlalu signifikan, tapi dalam 24 jam kamu bisa kehilangan daya yang cukup banyak hingga 20 persen.

  2. 2. Cara menggunakan Always on Display dengan benar

    ilustrasi Always on Display
    ilustrasi Always on Display (unsplash.com/Cedrik Wesche)

    Risiko penggunaan Always on Display bisa diminimalisir dengan mengatur beberapa hal. Laman Androxus menjelaskan bahwa kamu bisa mengatur Always on Display untuk tidak selalu menyala. Di banyak smartphone, kamu diberi pilihan untuk membuat Always on Display selalu aktif atau hanya mengaktifkannya ketika layar diketuk sekali. Pengaturan tersebut bisa membuat layar lebih sehat, baterai makin awet, dan mengurangi risiko burn-in.

    Cara lain agar layar tetap aman ketika menggunakan Always on Display adalah dengan menurunkan kecerahan layar. Jika kecerahan diatur ke level yang rendah (bukan yang tertinggi), layar jadi lebih dingin, tidak mengalami overheat (panas berlebih), dan akhirnya aman dari segala masalah. Disarankan juga untuk tidak menampilkan banyak widget, pastikan tampilan Always on Display tetap sederhana untuk mengurangi pixel yang menyala.

  3. 3. Tak semua smartphone punya Always on Display

    ilustrasi Always on Display
    ilustrasi Always on Display (unsplash.com/Michael Förtsch)

    Berbagai sumber menerangkan bahwa Always on Display adalah fitur yang umumnya digunakan di layar OLED atau turunannya seperti AMOLED. Always on Display biasanya ada di smartphone mid-range hingga flagship yang harganya mulai Rp3 jutaan. Layar OLED sangat cocok menggunakan fitur Always on Display karena lebih hemat baterai ketika menampilkan warna hitam. Layar OLED di smartphone flagship juga punya teknologi LTPO yang bikin refresh rate bisa turun hingga 1 Hz, sehingga baterai makin awet. Meski begitu, ada juga smartphone entry level Rp2 jutaan dengan layar IPS yang punya Always on Display seperti Infinix Hot 50. Hanya saja, Always on Display di layar IPS tidak semaksimal di layar OLED karena baterai bisa terkuras lebih cepat.

  4. 4. Fungsi utama dari Always on Display di layar smartphone

    ilustrasi Always on Display
    ilustrasi Always on Display (unsplash.com/Vimal Krishnattri)

    Laman resmi Samsung menjelaskan bahwa Always on Display memiliki banyak fungsi, seperti menampilkan jam, notifikasi, hingga berbagai widget penting ketika layar dimatikan. Always on Display umumnya tak akan menampilkan wallpaper, animasi bergerak (kecuali kamu memilih untuk mengaktifkannya), atau hal lain yang akan mengganggu. Sebab, fungsi utama dari fitur tersebut adalah untuk menampilkan berbagai hal esensial di layar smartphone. Saat Always on Display aktif, kamu diharapkan untuk tidak tertarik bermain smartphone dan lebih fokus pada pekerjaan apa pun yang sedang dilakukan. Dalam jangka panjang, hal tersebut akan membuatmu semakin produktif.

    Meski anggapan bahwa Always on Display bisa merusak layar smartphone tidak benar, fitur tersebut memang memiliki efek pada layar smartphone. Sebenarnya hal tersebut tak jauh berbeda dari fitur lain di smartphone. Contohnya, fitur refresh rate 120 Hz bikin baterai tambah boros, pengecasan cepat membuat suhu smartphone naik, atau perekaman 4K bisa membuat storage cepat penuh karena ukuran file yang besar. Jadi, Always on Display sama dengan fitur lain, tak merusak, tapi ada risiko dan efek yang menyertainya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More