Apple memperkenalkan sejumlah perangkat baru, termasuk iPhone 18 Pro, iPhone 18 Pro Max, dan HP lipat iPhone Duo dalam acara peluncuran di Cupertino, California, Amerika Serikat, pada 9 September 2026 waktu setempat. Tak hanya itu, Apple juga memperkenalkan AirPods 5 yang membawa sejumlah fitur baru untuk membuat pengguna bisa berinteraksi tanpa harus selalu menyentuh HP. Salah satunya adalah kemampuan merespons Siri menggunakan gerakan kepala.
Cara AirPods 5 Bisa Tahu saat Kamu Mengangguk dan Menggeleng

- Apple memperkenalkan AirPods 5 pada 9 September 2026, dengan fitur respons Siri melalui anggukan untuk jawaban positif dan gelengan untuk jawaban negatif.
- AirPods 5 tidak memakai kamera; motion-detecting accelerometer menangkap perubahan gerakan earbud saat kepala bergerak, lalu sistem membedakan pola atas-bawah dan kiri-kanan.
- Head gesture hanya berlaku pada interaksi kompatibel seperti Siri, panggilan, dan notifikasi. AirPods 5 tersedia mulai 129 dolar AS, dengan pre-order 9 September dan penjualan 18 September 2026.
Pengguna cukup menganggukkan kepala untuk memberikan respons positif atau menggelengkan kepala untuk memberikan respons negatif. Apple memperkenalkan fitur tersebut bersama sejumlah kemampuan AirPods 5 lainnya, termasuk Active Noise Cancellation (ANC) pada desain open-ear dan Live Translation. Sekilas, fitur ini membuat AirPods 5 seolah-olah bisa “melihat” gerakan kepala penggunanya. Padahal, earbud tersebut tidak membutuhkan kamera untuk mengetahui apakah pengguna sedang mengangguk atau menggeleng. Lantas, bagaimana cara AirPods 5 bisa tahu saat kamu mengangguk dan menggeleng?
1. AirPods 5 dibekali motion-detecting accelerometer

Apple AirPods 5 (apple.com) AirPods 5 dibekali motion-detecting accelerometer atau akselerometer pendeteksi gerakan. Apple juga mencantumkan speech-detecting accelerometer pada masing-masing earbud, selain mikrofon dan sensor optik. Sensor-sensor tersebut menjadi bagian dari sistem yang memungkinkan AirPods mengenali berbagai aktivitas pengguna.
Secara sederhana, akselerometer merupakan sensor yang dapat mendeteksi perubahan gerakan dan percepatan. Karena AirPods terpasang di telinga, gerakan earbud ikut berubah ketika kepala pengguna bergerak. Dari perubahan tersebut, sistem dapat mengenali pola gerakan tertentu yang digunakan sebagai input.
2. Apakah AirPods bisa "melihat" kamu mengangguk?

ANC pada AirPods 5 dapat mengurangi suara eksternal hingga 50 persen lebih banyak (apple.com) Jawabannya, tidak. AirPods 5 tidak perlu menggunakan kamera untuk mengetahui gerakan kepala pengguna. Earbud memanfaatkan sensor gerak yang terpasang di dalam perangkat untuk menangkap perubahan gerakan ketika pengguna mengangguk atau menggeleng. Ketika kepala digerakkan ke atas dan ke bawah, pola pergerakan yang diterima sensor berbeda dari gerakan kepala ke kiri dan ke kanan. Sistem kemudian dapat mengenali pola tersebut sebagai dua jenis input yang berbeda. Apple menjelaskan bahwa pengguna dapat menganggukkan kepala untuk memberikan respons positif dan menggelengkan kepala untuk memberikan respons negatif.
Namun, Apple tidak menjelaskan secara terperinci algoritma yang digunakan untuk membedakan kedua pola tersebut. Karena itu, kurang tepat jika dikatakan bahwa chip H2 atau kecerdasan buatan tertentu secara spesifik “membaca” anggukan pengguna. Yang diketahui secara resmi adalah bahwa AirPods 5 memiliki sensor gerak dan mendukung interaksi melalui head gesture.
AirPods 5 sebenarnya tidak “melihat” kepala penggunanya. Perangkat tersebut menggunakan motion-detecting accelerometer untuk menangkap perubahan gerakan pada earbud ketika kepala bergerak. Sistem kemudian mengenali pola gerakan tersebut sebagai input, termasuk anggukan untuk respons positif dan gelengan untuk respons negatif.
Teknologi ini menunjukkan bahwa interaksi dengan earbud kini tidak lagi terbatas pada sentuhan, tekanan pada batang, atau perintah suara. Pada AirPods 5, gerakan kepala juga bisa menjadi cara untuk memberikan perintah tertentu. Meski detail algoritma di baliknya belum dijelaskan oleh Apple, fitur tersebut memperlihatkan bagaimana sensor berukuran kecil dapat mengubah gerakan tubuh menjadi input digital yang praktis.
3. Ada syarat untuk menggunakan head gesture

Apple AirPods 5 (apple.com) Pengguna juga tidak bisa menganggap bahwa cukup memakai AirPods 5 lalu menganggukkan kepala untuk menjalankan semua perintah. Dalam dokumentasi Apple, head gesture digunakan sebagai cara untuk memberikan respons dalam interaksi yang didukung, seperti merespons Siri, panggilan, dan pemberitahuan pada perangkat yang kompatibel. Berkat mekanisme tersebut, pengguna dapat memberikan respons tanpa harus berbicara atau menyentuh AirPods. Anggukan dan gelengan kepala berfungsi sebagai metode input tambahan yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara lebih hands-free.
AirPods 5 juga menggunakan H2 headphone chip. Chip tersebut menjadi bagian penting dari sistem AirPods 5 yang menangani berbagai kemampuan audio dan fitur perangkat. Namun, Apple tidak mengungkapkan secara spesifik bagaimana H2 membagi tugas dengan akselerometer dalam proses mengenali head gesture.
Menariknya, head gesture sebenarnya bukan fitur yang sepenuhnya baru di AirPods 5. Apple sudah menghadirkan kemampuan serupa pada sejumlah model AirPods sebelumnya, termasuk AirPods 4. Dokumentasi Apple menjelaskan bahwa perangkat yang kompatibel dapat menggunakan anggukan dan gelengan kepala untuk merespons Siri, panggilan, dan pemberitahuan. AirPods 5 merupakan kelanjutan dari upaya Apple untuk membuat interaksi dengan earbud semakin hands-free. Bedanya, kemampuan tersebut kini hadir bersama sejumlah fitur lain yang membuat pengguna semakin jarang perlu beralih ke layar HP untuk melakukan tindakan tertentu.
4. Kenapa fitur ini menarik pada AirPods 5?

AirPods 5 juga membawa Adaptive EQ dan arsitektur akustik multiport baru (apple.com) AirPods 5 menggunakan desain open-ear, tetapi Apple tetap membekalinya dengan Active Noise Cancellation. Apple mengklaim ANC pada AirPods 5 dapat mengurangi suara eksternal hingga 50 persen lebih banyak dibandingkan dengan AirPods 4 dengan ANC. AirPods 5 juga membawa Adaptive EQ dan arsitektur akustik multiport baru.
Dalam konteks tersebut, head gesture menjadi menarik karena pengguna bisa melakukan lebih banyak interaksi tanpa harus mengambil HP. Ketika tangan sedang sibuk, pengguna dapat menggunakan gerakan kepala untuk memberikan respons tertentu. AirPods 5 juga menawarkan akses hands-free ke Siri AI dan Live Translation sebagai bagian dari pengalaman tersebut.
5. AirPods 5 ada dua versi

AirPods 5 dan AirPods 5 dengan Wireless Charging Case (apple.com) Apple menyediakan AirPods 5 dalam dua pilihan. AirPods 5 dibanderol mulai 129 dolar Amerika Serikat (Rp2,3 juta). Sementara itu, AirPods 5 dengan Wireless Charging Case dijual seharga 149 dolar Amerika Serikat (Rp2,7 juta). Model yang lebih mahal menawarkan daya tahan baterai lebih lama dan kontrol volume melalui gerakan swipe pada batang AirPods.
Untuk ketersediaannya, Apple membuka pre-order mulai 9 September 2026 di Amerika Serikat dan di lebih dari 65 negara atau wilayah lainnya. AirPods 5 dan AirPods 5 dengan Wireless Charging Case dijadwalkan mulai tersedia di toko pada Jumat, 18 September 2026. Perlu dicatat bahwa harga 129 dolar Amerika Serikat dan 149 dolar Amerika Serikat tersebut merupakan harga resmi untuk pasar Amerika Serikat, sehingga harga ketika masuk ke Indonesia dapat berbeda karena faktor pajak, distribusi, dan kebijakan harga regional.
AirPods 5 sebenarnya tidak “melihat” kepala penggunanya. Cara AirPods 5 bisa tahu saat kamu mengangguk dan menggeleng adalah berkat fitur motion-detecting accelerometer untuk menangkap perubahan gerakan pada earbud ketika kepala bergerak. Sistem kemudian mengenali pola gerakan tersebut sebagai input, termasuk anggukan dan gelengan dalam interaksi yang didukung.
Teknologi ini menunjukkan bahwa interaksi dengan earbud kini tidak lagi terbatas pada sentuhan, tekanan pada batang, atau perintah suara. Pada AirPods 5, gerakan kepala juga bisa menjadi cara untuk memberikan perintah tertentu. Meski detail algoritma di baliknya belum dijelaskan oleh Apple, fitur tersebut memperlihatkan bagaimana sensor berukuran kecil dapat mengubah gerakan tubuh menjadi input digital yang praktis.




















