Sempat Berjaya, Kenapa LG Berhenti Bikin HP?

- LG resmi menutup bisnis smartphone pada 31 Juli 2021, meski pernah dikenal inovatif lewat LG Prada dan mencatat penjualan lebih dari 10 juta unit melalui LG G3.
- Pangsa pasar global LG turun menjadi sekitar 2 persen pada 2020; pengiriman kuartal IV hanya 7,6 juta unit, jauh di bawah Apple, Samsung, dan Xiaomi.
- Divisi mobile merugi hampir enam tahun dengan total sekitar 4,5 miliar dolar AS, sehingga LG mengalihkan sumber daya ke komponen kendaraan listrik, B2B, AI, dan smart home.
Nama LG pernah menjadi salah satu pemain besar di industri smartphone global. Perusahaan asal Korea Selatan ini menghadirkan berbagai smartphone inovatif yang bahkan sempat mendahului para pesaingnya dalam menghadirkan teknologi baru. Selama bertahun-tahun, LG juga menjadi salah satu merek yang cukup diperhitungkan di berbagai negara. Namun, perjalanan tersebut berakhir ketika LG resmi menutup bisnis smartphone pada 31 Juli 2021.
Keputusan tersebut cukup mengejutkan mengingat LG pernah memiliki posisi kuat di sejumlah pasar, termasuk Amerika Utara. Merek ini juga dikenal berani bereksperimen menghadirkan desain dan fitur yang berbeda dibandingkan kompetitornya. Meski begitu, penurunan penjualan, persaingan yang semakin ketat, hingga kerugian yang terus membengkak membuat perusahaan memilih fokus pada bisnis lain yang dinilai lebih menjanjikan. Lantas, mengapa LG memutuskan berhenti membuat HP?
1. LG rajin menghadirkan smartphone inovatif

Sebelum meninggalkan industri smartphone, LG dikenal sebagai salah satu produsen yang kerap menghadirkan inovasi. Perusahaan ini telah mengembangkan HP yang menjalankan berbagai sistem operasi, mulai dari Adobe Flash, Windows Mobile, Symbian, hingga Android. Kemampuan beradaptasi terhadap berbagai platform membuat LG cukup disegani pada masanya. Inovasi menjadi salah satu identitas utama perusahaan dalam mengembangkan perangkat seluler.
Salah satu produk ikoniknya adalah LG Prada yang diperkenalkan pada 2006. Smartphone tersebut hadir lebih dulu dibandingkan iPhone sebagai smartphone pertama yang menggunakan layar kapasitif. Pada saat itu, sebagian besar smartphone masih memakai layar resistif atau bahkan belum mengadopsi layar sentuh sepenuhnya. Kehadiran LG Prada pun menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi smartphone modern.
LG juga meraih kesuksesan melalui LG G3 yang menggunakan sistem operasi Android. Smartphone tersebut berhasil terjual lebih dari 10 juta unit di seluruh dunia, menjadikannya perangkat LG dengan angka penjualan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Capaian itu menunjukkan bahwa LG sempat memiliki daya saing kuat di pasar smartphone global. Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak mampu dipertahankan dalam jangka panjang.
2. Pangsa pasar LG kian melemah di pasar smartphone global

Meski sempat menikmati masa kejayaan, posisi LG perlahan melemah di pasar smartphone global. Perusahaan memang masih menjadi produsen smartphone terbesar ketiga di Amerika Utara dengan pangsa pasar sekitar 10 persen. Namun, kondisi tersebut tidak sejalan dengan performanya di pasar global. Penurunan pangsa pasar menjadi sinyal bahwa daya saing LG mulai melemah.
Pada 2020, LG hanya menguasai sekitar 2 persen pasar smartphone dunia dan menempati peringkat kesembilan sebagai produsen smartphone terbesar. Data Counterpoint Research menunjukkan perusahaan hanya mengirimkan 7,6 juta unit smartphone pada kuartal keempat 2020. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan masa-masa kejayaannya beberapa tahun sebelumnya. Penurunan pengiriman perangkat juga berdampak langsung terhadap kinerja bisnis perusahaan.
Jumlah tersebut tertinggal sangat jauh dibandingkan Apple yang mengirimkan 81,9 juta unit. Samsung mencatat pengiriman sekitar 62,5 juta unit, sementara Xiaomi mencapai 43 juta unit pada periode yang sama. Ketimpangan tersebut memperlihatkan betapa sulitnya LG bersaing dengan para pemimpin pasar. Penurunan volume penjualan itu pun ikut menekan pendapatan divisi smartphone LG.
3. Rugi selama hampir enam tahun

Penurunan penjualan akhirnya berdampak langsung terhadap kondisi keuangan perusahaan. Menjelang penutupan bisnis smartphone, divisi mobile LG telah membukukan kerugian selama hampir enam tahun berturut-turut. Akumulasi kerugian tersebut terus membebani kinerja perusahaan dari tahun ke tahun. Situasi itu membuat keberlangsungan bisnis smartphone semakin sulit dipertahankan.
Total kerugian yang dialami divisi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 4,5 miliar dolar Amerika Serikat (81 triliun rupiah) hingga 2021. Di sisi lain, kontribusi divisi mobile terhadap pendapatan grup LG hanya sekitar 7 persen. Porsi tersebut merupakan yang terkecil dibandingkan unit bisnis utama lainnya di dalam perusahaan. Kondisi itu membuat peluang mempertahankan bisnis smartphone semakin kecil.
Persaingan juga semakin berat bagi LG di berbagai segmen pasar. Perusahaan harus menghadapi Apple dan Samsung di segmen premium maupun kelas menengah, sementara pasar entry-level dikuasai berbagai merek asal China seperti Xiaomi, OPPO, dan vivo yang menawarkan harga lebih kompetitif. LG bahkan dikabarkan sempat mencoba menjual sebagian bisnis smartphone kepada Vingroup dari Vietnam, tetapi kesepakatan tersebut tidak pernah terwujud. Pada akhirnya, perusahaan memilih mengakhiri bisnis smartphone dan mengalihkan fokus ke sektor lain.
4. LG memilih fokus ke bisnis masa depan

Mengutip BGR, LG mengatakan keputusan keluar dari bisnis smartphone diambil agar perusahaan dapat memusatkan sumber daya pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan lebih besar. Bidang tersebut meliputi komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung (connected devices), smart home, robotika, kecerdasan buatan (AI), solusi business-to-business (B2B), hingga platform dan layanan digital. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat bisnis yang lebih menguntungkan. LG menilai sektor-sektor tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar dibandingkan smartphone.
Keputusan itu kini dinilai membuahkan hasil positif. Hingga 2026, divisi komponen kendaraan LG dilaporkan memiliki nilai pesanan mencapai sekitar 90 triliun won Korea hingga 100 triliun won Korea atau sekitar 75 miliar dolar Amerika Serikat (Rp1,3 kuadriliun). Sementara itu, bisnis B2B juga terus berkembang dan kini menyumbang sekitar 36 persen dari total pendapatan perusahaan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa keputusan meninggalkan bisnis smartphone menjadi langkah strategis yang membantu LG memperkuat posisi di industri teknologi masa depan.





















