Kekhawatiran terhadap dehidrasi saat puasa merupakan hal yang wajar. Ini karena tubuh tidak memperoleh asupan cairan selama belasan jam di tengah aktivitas padat. Banyak orang baru menyadari kondisi dehidrasi ketika rasa haus sudah terasa di tenggorokan, padahal tanda-tanda awal sering muncul lebih dulu.
Mengacu pada temuan dalam PubMed Central, tubuh sebenarnya mulai kekurangan cairan bahkan ketika kehilangan 1–2 persen dari total cairan tubuh. Gejala ringan seperti lelah, sakit kepala, hingga sulit berkonsentrasi kerap dianggap sebagai efek biasa saat puasa, sehingga indikasi dehidrasi ringan sering tidak disadari. Melihat kondisi tersebut, smartwatch mulai dilirik sebagai perangkat pendukung untuk memantau kondisi kesehatan secara lebih proaktif, termasuk potensi dehidrasi.
Smartwatch modern kini dilengkapi dengan sensor yang mampu memantau suhu kulit, detak jantung, dan aktivitas secara kontinu sepanjang hari. Perubahan parameter fisiologis, termasuk suhu pergelangan tangan dan respons kardiovaskular, dapat memberikan gambaran awal tentang kondisi tubuh saat kekurangan cairan. Oleh karena itu, pemanfaatan data biometrik dari smartwatch menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam dalam konteks pemantauan hidrasi selama puasa. Lantas, apakah smartwatch bisa mendeteksi tanda dehidrasi saat puasa?
