Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Game yang Dinyatakan Berbahaya untuk Anak oleh Komdigi

5 min read
7 Game yang Dinyatakan Berbahaya untuk Anak oleh Komdigi
Goddess of Victory: Nikke (dok. Level Infinite/Goddess of Victory: Nikke)
  • Komdigi memasukkan tujuh game dalam 22 aplikasi berisiko bagi anak berdasarkan evaluasi PP TUNAS, mencakup Age of Empires Mobile, Nikke, VALORANT, TFT Mobile, Crossfire: Legends, Ludo World, dan Sola Mahjong.
  • Risiko utama mencakup konten vulgar, kekerasan, bahasa kasar, cyberbullying, voice atau global chat tanpa filter, serta interaksi berpotensi berbahaya dengan orang asing.
  • Sejumlah game juga dinilai berisiko karena monetisasi agresif, transaksi mikro, iklan dewasa, dan mekanisme taruhan atau permainan dadu yang dapat mengarah pada unsur perjudian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru saja mengumumkan 22 aplikasi yang dinyatakan berbahaya bagi anak-anak berdasarkan evaluasi penerapan aturan PP TUNAS (Perlindungan Anak dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik) oleh pemerintah. Aplikasi yang disinyalir berbahaya ada berbagai jenis, mulai dari jejaring sosial, platform streaming, e-commerce, hingga video game.

Bicara soal video game, dalam 22 aplikasi tersebut, ada 7 game yang masuk kriteria berbahaya untuk dimainkan anak versi Komdigi. Ada banyak faktor sebagai bahan pertimbangan. Contohnya, muatan konten tidak layak untuk anak dan fitur yang rawan disalahgunakan. Nah, penasaran apa saja gamenya? Berikut daftarnya!

  1. 1. Age of Empires Mobile berbahaya karena monetisasi agresif untuk memancing anak mengeluarkan uang

    cuplikan gameplay Age of Empires Mobile
    cuplikan gameplay Age of Empires Mobile (dok. Level Infinite/Age of Empires Mobile)

    Kalau kamu gamer, pastinya gak asing dengan waralaba Age of Empires. Ia merupakan game real-time strategy (RTS) dengan mengambil tema peristiwa bersejarah. Sebenarnya, dengan bimbingan orang tua, game ini bisa jadi sarana edukasi sejarah yang menyenangkan untuk anak. Namun, beda ceritanya kalau yang dimainkan adalah versi mobile, Age of Empires Mobile.

    Berbeda dengan versi PC dan konsol yang umumnya dimainkan offline, Age of Empires Mobile dirancang untuk fokus pada permainan multiplayer. Oleh sebab itu, ia punya penyakit yang sama dengan semua game multiplayer lainnya, yakni kolom chat global yang penuh dengan cyberbullying dan kata-kata kasar. Selain itu, ia juga dimonetisasi secara agresif. Anak-anak bisa khilaf dan menghabiskan uang untuk bersaing di game pay-to-win ini.

  2. 2. Goddess of Victory: Nikke mengandalkan konten vulgar yang tidak layak dimainkan anak

    cuplikan gameplay Goddess of Victory: Nikke
    cuplikan gameplay Goddess of Victory: Nikke (dok. Level Infinite/Goddess of Victory: Nikke)

    Kalau kamu sudah pernah melihat cuplikan gameplay-nya, tidak sulit menebak kenapa game Goddess of Victory: Nikke termasuk game berbahaya untuk anak. Pasanya, Goddess of Victory: Nikke bukan kombinasi shooter dan role-playing game (RPG) biasa. Ia punya daya tarik utama pada karakter. Dalam game ini kamu bisa merekrut prajurit perempuan yang karakternya sudah diseksualisasi.

    Tentunya tidak pantas bagi anak di bawah umur untuk mengendalikan perempuan berpakaian minim yang ditampilkan dengan angle sugestif. Apalagi, ia memiliki mekanisme jiggle physics yang bahkan bikin orang dewasa gagal fokus. Komdigi sudah tepat untuk mewaspadai game ini. Anak-anak memang harus dijauhkan dari paparan pornografi.

  3. 3. VALORANT adalah game kompetitif panas, fitur voice chat bisa sangat toksik untuk anak

    cuplikan gameplay VALORANT
    cuplikan gameplay VALORANT (dok. Riot Games/VALORANT)

    VALORANT adalah game action shooter yang sangat populer. Ia tidak mencoba mengambil pendekatan realistis, tetapi lebih ke arah fantasi. Selain menggunakan berbagai senjata api, setiap karakter memiliki kemampuan dan kekuatan unik. Tak ayal, ia menjadi salah satu game kompetitif yang ramai di Indonesia.

    Meskipun sangat populer, ia termasuk game yang dianggap berbahaya bagi anak. Alasannya kemungkinan besar adalah komunitas playernya sendiri. Game ini punya fitur voice chat tanpa filter antarpemain. Bukannya dipakai untuk mempermudah koordinasi atau mencari teman bermain, ia malah dipenuhi pembicaraan toksik, cyberbullying, ejekan agresif, hingga ancaman.

  4. 4. Teamfight Tactics Mobile mengandung adegan kekerasan dan bahasa kasar

    cuplikan gameplay Teamfight Tactics Mobile
    cuplikan gameplay Teamfight Tactics Mobile (dok. Riot Games/Teamfight Tactics Mobile)

    Teamfight Tactics (TFT) adalah permainan auto-battler yang sangat populer dari Riot Games. Adapun, karakternya diambil dari para Champion dari game League of Legends (LoL). Versi mobile-nya juga menawarkan kombinasi item dan hero yang kompleks dan dinamis. Karena itu, sebenarnya ia cukup susah dimainkan oleh anak-anak.

    Game ini juga mendapatkan rating 16+ karena mengandung banyak adegan kekerasan, bahasa yang kasar, serta transaksi mikro. Riot Games sendiri sebenarnya membatasi game mereka untuk anak di bawah umur. Usia minimum untuk registrasi Teamfight Tactics Mobile adalah 13 tahun dan wajib mendapatkan persetujuan dari orang tua yang akan dikirim melalui email oleh Riot Games.

  5. 5. Crossfire: Legends mengandung kekerasan ekstrem serta global chat yang bebas disalahgunakan

    cuplikan gameplay Crossfire: Legends
    cuplikan gameplay Crossfire: Legends (dok. Smilegate/Crossfire: Legends)

    Game ini merupakan spin-off dari Crossfire (2007) yang dulu sempat booming di PC. Ia juga menghadirkan gameplay first-person shooter (FPS) yang kompetitif dan intens. Sama seperti kebanyakan FPS di HP, kamu harus berusaha menjadi yang terbaik dalam baku tembak PvP dengan berbagai mode permainan seru.

    Di Google Play Store, Crossfire: Legends memiliki label rating 16+ yang artinya hanya boleh dimainkan oleh remaja. Sebab, ia menampilkan kekerasan ekstrem, terutama dengan senjata api. Selain itu, game PvP seperti ini memang tidak baik untuk dimainkan oleh anak-anak karena memiliki tingkat stres yang tinggi.

  6. 6. Ludo World punya unsur taruhan dan bermain dadu yang bisa mengajari anak berjudi

    cuplikan Ludo World
    cuplikan Ludo World (dok. Level Infinite/Ludo World)

    Ludo World adalah simulasi virtual game papan, Ludo. Ia dirancang sebagai game multiplayer yang kompetitif. Dalam game ini, kamu bisa bermain hingga empat pemain. Meskipun gameplay-nya sederhana, ia memang adiktif untuk berbagai usia.

    Sayangnya, ia memang kurang cocok dimainkan oleh anak. Sebab, game ini punya mekanisme adu keberuntungan lewat kocokan dadu menggunakan taruhan koin. Tentu saja, ia seperti sebuah perjudian yang tidak cocok dimainkan pada usia anak-anak. Belum lagi, fitur chat bebas dapat berujung pada perundingan siber atau malah interaksi berbahaya dengan orang asing yang sudah dewasa.

  7. 7. Sola Mahjong adalah game mahjong yang diasosiaksikan sebagai game kasino

    cuplikan gameplay Sola Mahjong
    cuplikan gameplay Sola Mahjong (dok. Next Initiative Limited/ Sola Mahjong)

    Game Sola Mahjong merupakan simulasi permainan papan ubin populer dari China, yakni mahjong. Ia menawarkan simulasi yang akurat dan gak kalah seru dari game nyata. Sebenarnya, di Google Play, ia memiliki rating 3+ yang artinya cocok untuk semua umur. Namun, game ini termasuk salah satu game yang masuk dalam daftar berisiko tinggi untuk anak menurut Komdigi.

    Masalahnya kemungkinan besar terletak pada temanya sendiri. Mahjong sering dianggap sebagai permainan kasino yang kurang pantas dimainkan oleh anak-anak. Selain itu, ada banyak alasan teknis mengapa game ini termasuk kategori berbahaya. Pertama, ia memiliki unsur transaksi mikro yang agresif dan dapat dieksploitasi kalau anak sudah kecanduan. Kedua, karena game ini freemium, ia mengandalkan iklan untuk bertahan. Nah, sebagian iklan pihak ketiga di game ini mengandung unsur dewasa.

    Selain game di atas, sebenarnya ada ratusan game dengan muatan serupa yang bisa diunduh secara gratis di toko aplikasi seperti Google Play Store dan Steam. Oleh sebab itu, Komdigi harus kembali memperketat pengawasan dan menerapkan aturan batas usia yang jauh lebih ketat. Sementara itu, orang tua juga harus lebih selektif dan aktif dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dimainkan oleh anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More