Perkembangan Game Harry Potter dari Masa ke Masa, Penuh Lika-liku

- Franchise Harry Potter berkembang dari adaptasi film menjadi berbagai game, dimulai dengan seri action adventure EA yang mengikuti alur cerita film sejak tahun 2001.
- Perjalanan gamenya mencakup variasi genre seperti Quidditch, LEGO, AR, hingga mobile RPG yang sukses besar lewat Hogwarts Mystery dan Magic Awakened.
- Hogwarts Legacy (2023) menandai era baru dengan konsep open world, meraih pendapatan sekitar 850 juta dolar AS dalam dua minggu pertama perilisannya.
Berawal dari novel fantasi karangan J.K. Rowling, Harry Potter menjelma menjadi salah satu franchise paling ikonis di dunia. Popularitasnya mencapai puncak ketika kisah Harry bersama Ron dan Hermione dibawa ke layar lebar melalui Harry Potter and the Sorcerer's Stone (2001) yang kemudian berlanjut hingga delapan seri film. Franchise ini juga bakal menghadirkan serial Harry Potter and the Philosopher's Stone (2026) yang dijadwalkan tayang di HBO pada akhir 2026.
Hampir semua franchise film populer pernah diadaptasi menjadi game, tak terkecuali Harry Potter. Seiring kesuksesannya, ia pun mulai merambah ke industri game. Adaptasinya sudah ada sejak film pertama dan terus menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu.
Seperti apa perjalanan panjang dan evolusi game Harry Potter? Simak ulasannya berikut ini!
1. Game adaptasi Harry Potter awalnya hanya mengikuti cerita dari filmnya

Sejarah Harry Potter dalam game dimulai ketika Argonaut Games bekerja sama dengan Electronic Arts (EA) untuk meluncurkan Harry Potter and the Sorcerer's Stone (2001). Sesuai judulnya, game bergenre action adventure ini mengadaptasi cerita film pertama Harry Potter. Berbeda dari kebanyakan game adaptasi film yang sering terkesan dibuat seadanya, Harry Potter and the Sorcerer's Stone justru hadir dengan gameplay yang menyenangkan, imersif, serta mampu mempertahankan nuansa magis khas sekolah sihir Hogwarts.
Kesuksesan ini berlanjut ketika EA secara konsisten merilis game Harry Potter yang mengikuti alur filmnya. Setelah Harry Potter and the Sorcerer's Stone, mereka meluncurkan Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002) dengan gameplay yang serupa. Kemudian, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004) memperkenalkan inovasi melalui mekanisme pergantian karakter yang memungkinkanmu mengendalikan Harry, Ron, atau Hermione secara bergantian.
2. Game adaptasi Harry Potter mulai menunjukkan variasi selama 2003—2005

Game-game Harry Potter sebelumnya hanya menyesuaikan dengan alur cerita film tanpa banyak menawarkan hal yang baru. Namun, Harry Potter: Quidditch World Cup (2003) muncul sebagai angin segar karena tidak lagi berfokus pada cerita utama. Ia justru mengangkat olahraga khas dunia sihir Harry Potter sebagai inti permainannya.
Eksperimen pun berlanjut saat Harry Potter and the Goblet Fire (2005) debut. Adaptasi film keempat ini membawa perubahan drastis dengan meninggalkan fitur eksplorasi dari game-game sebelumnya dan menggantinya dengan sistem action co-op berbasis level. Dalam Harry Potter and the Goblet Fire, kamu dapat mengendalikan Harry, Ron, dan Hermione untuk bertarung melawan musuh menggunakan berbagai kemampuan serta mantra sihir.
3. Sepanjang 2007—2011, game Harry Potter hadir dengan dua konsep berbeda

Mayoritas game adaptasi Harry Potter masih mengusung eksplorasi linear yang mengakibatkan ruang penjelajahan terasa terbatas. Pendekatan eksplorasi secara bebas mulai terlihat saat Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007) dirilis dengan konsep semi-open world. Formula ini kemudian disempurnakan dalam Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009) dengan tambahan fitur menarik, seperti dueling serta Quidditch.
Pada saat itu, Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 (2010) dan Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2 (2011) turut dihadirkan. Namun, alih-alih melanjutkan konsep semi-open world dari pendahulunya, keduanya malah menerapkan third-person shooter ala Gears of War. Alhasil, Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 beserta sekuelnya menuai kritik pedas karena dianggap terlalu menyimpang dari formula yang telah dibangun oleh pendahulunya.
4. LEGO Harry Potter muncul sebagai petualangan Wizarding World yang santai

Banyak franchise film yang diadaptasi menjadi game LEGO, misalnya Indiana Jones dan Jurassic Park. Tak mau ketinggalan, Harry Potter juga muncul dalam bentuk LEGO lewat LEGO Harry Potter: Years 1—4 (2010) dan LEGO Harry Potter: Years 5—7 (2011). LEGO Harry Potter: Years 1—4 mengadaptasi film Harry Potter and the Sorcerer's Stone sampai Harry Potter and the Goblet of Fire, sementara LEGO Harry Potter: Years 5—7 mencakup cerita dari Harry Potter and the Order of the Phoenix sampai Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2.
Seperti ciri khas game LEGO pada umumnya, duologi LEGO Harry Potter menawarkan mekanisme permainan yang ringan dan penuh humor. Kamu diajak mengunjungi berbagai lokasi ikonik sambil menyelesaikan puzzle yang menantang. Selain itu, kamu juga perlu mengumpulkan LEGO studs sebagai mata uang in-game serta membuka karakter baru yang dapat dimainkan.
5. Harry Potter berkesempatan diadaptasi menjadi game berbasis AR

Perkembangan game Harry Potter mulai menunjukkan kemajuan saat merambah augmented reality (AR). Teknologi ini memungkinkanmu berinteraksi dengan objek virtual yang diproyeksikan ke dunia nyata. AR memanfaatkan perangkat kamera dan sensor untuk menciptakan efek visual yang tampak nyata dan berlangsung secara real-time.
Wonderbook: Book of Spells (2012) menjadi game Harry Potter pertama yang membawa konsep dunia sihir Hogwarts ke dunia nyata. Melalui teknologi AR, kamu dapat merasakan sensasi membaca buku sihir yang terasa hidup dan ajaib. Kamu juga dapat mempelajari sekitar 20 mantra sehingga membuatmu seolah-olah menjadi murid Hogwarts sungguhan.
6. Harry Potter mulai memperluas pasar ke game mobile pada periode 2018—2021

Pasar game mobile memang menjanjikan untuk menjangkau gamer yang tidak memiliki PC atau konsol di rumahnya. Melihat potensi tersebut, Jam City meluncurkan Harry Potter: Hogwarts Mystery (2018), sebuah role-playing game (RPG) yang mengajakmu menjalani kehidupan sebagai siswa Hogwarts sebelum kedatangan Harry. Ia mampu meraup pendapatan lebih dari 300 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp5 triliun dalam tiga tahun pertama sejak perilisannya, dilansir Sensor Tower.
Mengikuti kesuksesan Harry Potter: Hogwarts Mystery, berbagai developer mulai berlomba-lomba mengembangkan game Harry Potter di platform mobile dengan pendekatan berbeda. Harry Potter: Wizards Unite (2019) yang mengusung mekanisme permainan berbasis AR ala Pokémon GO (2016), sedangkan Harry Potter: Puzzles and Spells (2020) menawarkan gameplay match-3 puzzle mirip Candy Crush (2012). Kemudian, Harry Potter: Magic Awakened (2021) hadir dengan kombinasi RPG dan pertarungan berbasis kartu yang strategis.
7. Hogwarts Legacy menandai era baru Harry Potter berkat konsep open world

Selama bertahun-tahun, game adaptasi Harry Potter belum pernah menyentuh konsep dunia terbuka yang biasa dikenal sebagai open world. Padahal, tren ini semakin populer karena memberikan kebebasan untuk menjelajahi dunia game tanpa batas, seperti pada seri Grand Theft Auto dan The Witcher. Tak heran, para Potterhead lama menantikan kedatangan game Harry Potter yang mengusung konsep open world.
Harapan mereka akhirnya terkabul ketika Avalanche Software bersama Warner Bros. Games merilis Hogwarts Legacy (2023). Ia menjadi game Harry Potter pertama yang menerapkan konsep open world. Meraih pemasukan sekitar 850 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp14 triliun dalam dua minggu pertama perilisannya, Hogwarts Legacy membuktikan besarnya antusiasme dan dukungan Potterhead terhadap evolusi Harry Potter di dunia game.
Game Harry Potter menunjukkan bagaimana sebuah franchise mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Awalnya sebatas game adaptasi film dengan formula sederhana, kini bertransformasi menjadi game open world yang mencapai kesuksesan hingga ratusan dolar Amerika Serikat. Seiring kemajuan teknologi, akan semakin menarik untuk melihat perkembangan game Harry Potter di masa depan.

















