Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Rekomendasi Game untuk Kamu yang Suka A Space for the Unbound
cuplikan A Space for the Unbound (dok. Mojiken/A Space for the Unbound)
  • Artikel ini merekomendasikan tiga game dengan nuansa emosional dan naratif yang mirip A Space for the Unbound, yaitu Until Then, To the Moon, dan Omori.
  • Until Then menyoroti kisah remaja penuh refleksi dengan visual piksel lembut dan tema kehilangan, sementara To the Moon menghadirkan perjalanan emosional tentang cinta serta penyesalan melalui ingatan seseorang.
  • Omori menawarkan pengalaman psikologis yang lebih gelap lewat dunia mimpi dan kenyataan yang kontras, membahas trauma serta emosi manusia secara mendalam dan simbolis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada game yang tidak hanya mengajak kita bermain, tetapi juga merasa. A Space for the Unbound (2023) salah satunya. Game buatan Mojiken Studio yang dipublikasikan Toge Productions ini membawa kita menyusuri masa remaja dengan latar Indonesia yang hangat sekaligus sendu.

Nah, jika kamu menyukai kisah yang tenang, tetapi menghantam perasaan seperti A Space for the Unbound, beberapa judul lain bisa memberi pengalaman serupa. Berikut tiga rekomendasi game yang bisa kamu coba:

1. Until Then (2024)

cuplikan Until Then (dok. Polychroma Games/Until Then)

Until Then menghadirkan kisah remaja dengan balutan misteri dan nuansa kehilangan. Ceritanya mengikuti seorang siswa SMA yang menjalani hari-hari biasa di kota kecil. Dia berinteraksi dengan teman, guru, dan keluarganya dalam suasana yang terasa akrab. Namun, kejadian aneh perlahan mengganggu ritme hidupnya.

Game ini menggunakan gaya visual piksel yang lembut dan detail. Tiap latar, seperti ruang kelas, jalan kota, dan kamar tidur, menampilkan warna yang tenang. Sementara itu, musik latar mengiringi adegan dengan nada melankolis yang konsisten. Kamu bisa merasakan suasana sepi yang mirip dengan momen sunyi dalam A Space for the Unbound.

Narasi dalam game buatan Polychroma Games yang dipublikasikan Maximum Entertainment ini bergerak pelan dan penuh dialog. Kamu membaca percakapan yang terasa alami dan jujur. Tiap pilihan kecil di dalam game akan memberi dampak kepada hubungan antarkarakter. Ceritanya menyoroti tema ingatan, trauma, dan penerimaan diri dengan cara yang membumi.

Until Then cocok untuk kamu yang menyukai cerita remaja yang reflektif. Game ini tidak mengejar aksi cepat atau tantangan sulit. Game ini lebih fokus kepada perjalanan emosional yang intim. Kamu akan duduk, membaca, dan merenung bersama karakternya.

2. To the Moon (2011)

cuplikan To the Moon (dok. Freebird Games/To the Moon)

To the Moon lebih lawas dari A Space for the Unbound dan Until Then. Sebab, ia dirilis Freebird Games pada 2011. Game ini sendiri menceritakan dua dokter yang dapat masuk ke ingatan seseorang. Mereka membantu seorang pria tua untuk memenuhi keinginan terakhirnya. Mereka menelusuri potongan memori dari masa tua hingga masa kecilnya.Tiap potongan memori membuka rahasia tentang cinta dan penyesalan.

Game ini menampilkan grafis piksel sederhana dengan sudut pandang atas. Visualnya mungkin terlihat klasik, tetapi kekuatan utamanya terletak pada cerita. Musik piano yang lembut membantunya mengikat tiap adegan dengan kuat. Banyak pemain mengingat lagu-lagunya bahkan setelah tamat.

Cerita dalam To the Moon berjalan linear dan fokus kepada dialog. Kamu tidak perlu menguasai mekanisme rumit untuk menikmati kisahnya. Sebab, game ini menempatkan emosi sebagai pusat pengalaman bermain. Hubungan antarkarakter bisa terasa nyata dan menyentuh.

Jika kamu tersentuh oleh hubungan Atma dan Raya dalam A Space for the Unbound, game ini bisa memberi rasa yang sejenis. To the Moon berbicara tentang cinta yang rumit dan waktu yang tidak bisa diulang. Game ini mengajakmu menerima, hidup rupanya tidak selalu memberi jawaban yang rapi. Ia justru meninggalkan bekas yang tenang, tetapi dalam.

3. Omori (2020)

cuplikan Omori (dok. Omocat/Omori)

Omori menggabungkan dunia mimpi yang cerah dengan kenyataan yang kelam. Ceritanya mengikuti seorang anak laki-laki yang hidup dalam dua dunia berbeda. Dia menjelajahi ruang imajinasi yang penuh warna bersama teman-temannya. Namun, kenyataan menyimpan trauma yang tidak mudah dihadapi.

Omori menggunakan sistem pertarungan role-playing game (RPG) klasik berbasis giliran. Kamu perlu mengatur emosi karakter untuk memengaruhi kekuatan serangan dan pertahanannya. Mekanisme ini mencerminkan tema psikologis yang mengangkat cerita. Emosi tidak hanya menjadi narasi, tetapi juga sistem permainannya.

Visual game buatan Omocat ini berganti antara gaya gambar tangan yang polos dan piksel yang detail. Perubahan gaya ini menegaskan perbedaan antara mimpi dan kenyataan. Musiknya juga berganti dari ceria menjadi menegangkan sesuai situasi. Atmosfer game ini sering terasa tidak nyaman, tetapi tetap memikat.

Jika kamu menyukai sisi psikologis dan simbolisme dalam A Space for the Unbound, Omori menawarkan pengalaman yang lebih gelap. Game ini membahas rasa bersalah, depresi, hingga penyangkalan dengan cara yang berani. Ceritanya berkembang perlahan hingga mencapai titik yang menghentak. Game ini sebenarnya tidak ringan, tetapi pengalamannya justru terasa jujur.

Game seperti A Space for the Unbound mengingatkan kita bahwa medium game mampu bercerita dengan cara yang intim. Until Then, To The Moon, dan Omori menunjukkan, kisah sederhana bisa menyentuh sisi terdalam manusia. Mereka tidak mengandalkan ledakan besar atau dunia luas untuk memikat pemain. Mereka mengandalkan karakter, dialog, dan perasaan yang tulus. Di antara piksel dan teks, kita bisa juga menemukan potongan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team