Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI Memperkuat Penipuan Siber, Komdigi Serukan Aksi Preventif
ilustrasi artificial intelligence AI (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut AI, termasuk deepfake dan rekayasa sosial, mempercepat penipuan siber sehingga keamanan harus diterapkan sejak tahap desain teknologi.
  • Penipuan berbasis AI di Indonesia disebut menimbulkan kerugian Rp9,1 triliun, dengan modus suara sintetis yang meniru orang terdekat atau tokoh terkenal.
  • Komdigi mendorong tata kelola AI, infrastruktur anti-scam, regulasi UU PDP dan keamanan siber, serta penguatan talenta dan literasi digital secara preventif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) telah mengubah cara kejahatan siber dilakukan. Deepfake dan rekayasa sosial yang memanfaatkan AI telah membuat penipuan semakin sulit dikenali.

Oleh karena itu, dia menegaskan keamanan siber harus dirancang sejak awal dalam pembangunan teknologi dan platform digital, bukan baru ditangani setelah serangan terjadi.

“Kita perlu bergeser ke desain atau proses bisnis yang mengutamakan keamanan. Ini yang kita sebut sebagai security by design,” ujarnya dalam acara Kaspersky's Academic Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/08/2026).

AI perluas kemampuan penjahat digital

Wamen Nezar menjelaskan perkembangan AI tidak hanya memperkuat kemampuan pertahanan siber, tetapi juga memperluas kemampuan pelaku kejahatan. Deepfake dan model AI canggih telah menjadi teknologi yang dapat digunakan semua orang untuk melakukan kejahatan siber.

“AI tidak menciptakan ancaman ini dari ketiadaan, tetapi mempercepat perkembangan, kualitas, dan jangkauannya,” jelasnya lebih dalam.

Di Indonesia, ancaman tersebut terlihat melalui banyaknya penipuan berbasis AI yang menggunakan suara sintetis untuk meniru orang terdekat atau tokoh terkenal.

Nezar menyebut gelombang penipuan berbasis AI telah menyebabkan kerugian Rp9,1 triliun. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan kerugian akibat penipuan daring di kawasan Asia-Pasifik dapat mencapai USD114 miliar tahun ini.

Komdigi dorong tata kelola AI

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria (IDN Times/Misrohatun)

Untuk merespons ancaman tersebut, Komdigi mendorong tata kelola keamanan AI yang membangun ketahanan tanpa menghambat inovasi.

“Tujuan kita adalah membangun kerangka kerja tata kelola keamanan AI yang komprehensif dan kuat, yang memungkinkan inovasi untuk terus maju sambil memastikan bahwa keamanan, akuntabilitas, dan ketahanan dibangun sejak awal,” jelas Wamen Nezar.

Mereka juga mendorong pelindungan masyarakat melalui infrastruktur anti scam, pencegahan di tingkat operator, dan verifikasi pengguna dengan memanfaatkan AI.

“Sistem deteksi penipuan yang diterapkan secara nasional harus dapat digunakan oleh seluruh masyarakat, termasuk yang di pedesaan,” lanjutnya.

Perlindungan melalui regulasi

Dari sisi regulasi, Komdigi tengah mengembangkan peraturan pelaksana Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) serta Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber.

Pemerintah mengundang industri, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk membagikan pengalaman dari lapangan agar regulasi tetap praktis, adaptif, dan berbasis risiko. Penguatan keamanan juga dilakukan melalui pertukaran data intelijen antara mitra industri dan pemerintah serta pengembangan deteksi ancaman siber berbasis AI.

Komdigi juga turut mendorong penguatan talenta keamanan siber berbasis AI melalui kolaborasi universitas dan industri serta perluasan literasi digital bagi kelompok rentan, termasuk pengguna internet pemula, pensiunan dan pemilik usaha kecil.

Pengalaman serangan terhadap Pusat Data Nasional menjadi pelajaran penting bagi penguatan keamanan sektor publik. Wamen Nezar menilai insiden tersebut menunjukkan perlunya memperkuat kemampuan keamanan siber dan mengubah pendekatan dari reaktif menjadi preventif.

“Pengalaman itu telah memberi kita pelajaran yang sangat berharga,” Wamen Nezar mengatakan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article