Pernah gak, sih, kamu lagi scroll media sosial, lalu tiba-tiba merasa wajahmu terlihat 'kurang' dibandingkan dengan orang-orang di layar? Kulit mereka mulus tanpa pori, hidung tampak lebih mancung, rahang lebih tegas, dan warna kulit terlihat merata seperti habis treatment mahal. Padahal, bisa jadi yang kamu lihat bukan wajah asli, melainkan hasil sentuhan filter foto yang super halus dan nyaris tak terdeteksi. Tanpa sadar, standar visual yang kamu anggap normal perlahan berubah. Dari yang awalnya realistis menjadi sesuatu yang terasa harus sempurna setiap saat.
Fenomena ini gak lepas dari kehadiran filter foto di berbagai media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat. Filter yang awalnya sekadar hiburan kini berevolusi jadi alat 'penyempurna' wajah instan. Sekali klik, kamu bisa terlihat lebih glowing, lebih tirus, bahkan lebih simetris. Masalahnya, ketika versi berfilter itu jadi kebiasaan, otakmu mulai menganggapnya sebagai standar baru. Lalu, bagaimana sebenarnya cara filter foto di media sosial mengubah standar visual masyarakat?
