Facebook pernah menjadi media sosial paling populer di kalangan anak muda. Pada era 2000-an hingga awal 2010-an, hampir semua pengguna internet memiliki akun Facebook untuk bermain game, mengunggah status, berbagi foto, hingga berinteraksi dengan teman sekolah.
Kenapa Generasi Muda mulai Bosan dengan Facebook?

- Generasi muda mulai meninggalkan Facebook karena tampilannya dianggap terlalu ramai, penuh iklan, dan tidak relevan dengan gaya konsumsi konten cepat masa kini.
- Kebiasaan baru yang dipengaruhi TikTok membuat Gen Z lebih menyukai video pendek dan algoritma cepat dibandingkan format panjang khas Facebook.
- Facebook kini lebih identik sebagai platform orang tua dan lintas generasi, sehingga anak muda merasa kehilangan ruang eksklusif untuk berekspresi.
Namun, situasinya mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Generasi muda sekarang cenderung lebih aktif memakai TikTok, Instagram, atau platform lain. Facebook mulai dianggap sebagai media sosial orang tua oleh sebagian pengguna muda atau Gen Z. Lalu, kenapa generasi muda mulai bosan dengan Facebook?
1. Facebook dianggap terlalu ramai dan penuh campuran konten

Beranda Facebook sekarang dipenuhi berbagai jenis konten, mulai dari berita, video acak, iklan, grup, marketplace, hingga postingan keluarga. Bagi generasi muda yang terbiasa dengan algoritma cepat dan simpel seperti TikTok, tampilan Facebook terlihat lebih berantakan. Selain itu, terlalu banyaknya konten clickbait dan postingan tidak relevan membuat pengalaman scrolling kurang nyaman. Para pengguna dari kalangan Gen Z tampaknya merasa Facebook tidak relevan karena terlalu ramai.
2. Generasi muda lebih menyukai konten video singkat

TikTok mengubah kebiasaan konsumsi media sosial secara besar-besaran lewat video pendek dengan algoritma yang sangat agresif. Instagram kemudian ikut meniru lewat Reels, sementara YouTube menghadirkan Shorts untuk mempertahankan pengguna muda. Facebook sebenarnya juga memiliki video pendek, tetapi citranya sudah terlanjur identik dengan platform lama. Sebagian Gen Z lebih memilih aplikasi yang sejak awal memang lebih modern dan cepat mengikuti tren internet terbaru.
3. Facebook identik sebagai platform orang tua

Pada masa kejayaannya, memiliki akun Facebook dianggap gaul dan modern. Namun, seiring waktu, platform tersebut mulai dipenuhi orang tua, grup keluarga, hingga pengguna lintas generasi yang membuat anak muda merasa kehilangan ruang eksklusif. Hal seperti ini sebenarnya umum terjadi dalam sejarah media sosial. Ketika platform mulai digunakan semua umur, generasi muda biasanya akan mencari tempat baru yang terasa lebih segar dan lebih mencerminkan identitas mereka sendiri
4. Terlalu banyak iklan dan konten AI

Sebagian pengguna mengeluhkan beranda Facebook yang dipenuhi iklan, rekomendasi halaman random, hingga konten hasil Meta AI yang dianggap aneh atau tidak natural. Situasi ini membuat pengalaman menggunakan Facebook berbeda jauh dibandingkan dengan era awalnya. Sebagian pengguna muda tampaknya mulai merasa Facebook terlalu berisik dibandingkan dengan platform lain. Mereka lebih menyukai aplikasi yang fokus pada hiburan cepat dan tidak terlalu dipenuhi postingan yang tidak relevan.
5. Budaya internet sudah berubah

Cara generasi muda menggunakan internet sekarang berbeda dibandingkan dengan era awal Facebook. Mereka lebih menyukai komunikasi cepat, meme singkat, video vertikal, dan konten yang bergerak sangat cepat dari satu tren ke tren lain. Facebook, yang awalnya dibangun untuk status panjang, album foto, dan interaksi pertemanan, perlahan seperti kurang cocok dengan budaya internet era sekarang. Saat ini, memang masih ada anak muda yang tetap memiliki akun Facebook, tetapi tidak sebanyak dulu.
Meski generasi muda mulai bosan dengan Facebook, media sosial tersebut tetap menjadi platform jejaring sosial terbesar di dunia dengan miliaran pengguna aktif. Hal ini membuktikan bahwa Facebook sebenarnya masih jauh dari kata sepi. Namun, fungsinya berubah dari tempat nongkrong anak muda menjadi platform sosial lintas generasi yang jauh lebih umum.

















