Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Mitos Terkait TV yang Sebaiknya Jangan Dipercaya

5 Mitos Terkait TV yang Sebaiknya Jangan Dipercaya
ilustrasi TV (Unsplash/Piotr Cichosz)
Intinya Sih
  • Industri TV bernilai ratusan miliar dolar sering memanfaatkan jargon teknis dan fitur berlebihan untuk mendorong pembelian produk yang tidak selalu sesuai kebutuhan konsumen.
  • Banyak mitos populer seperti keharusan resolusi 4K di layar kecil, kabel HDMI premium, dan garansi tambahan ternyata lebih menguntungkan produsen serta toko daripada pembeli.
  • Penilaian spesifikasi seperti rasio kontras dan isu burn-in pada TV OLED modern sering disalahpahami karena faktor pemasaran dan perkembangan teknologi yang sudah jauh lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Industri TV merupakan bisnis raksasa yang nilainya diperkirakan akan melampaui US$500 miliar pada 2030 dan sebagian besar keuntungan itu bukan berasal dari menjual TV yang benar-benar sesuai kebutuhan pembeli, melainkan dari menjual fitur-fitur yang sebetulnya tidak diperlukan. Ini bukan sekadar kebetulan, tapi memang sudah menjadi strategi bisnis. Ketika membeli TV, kebanyakan orang mudah terkecoh oleh jargon teknis dan klaim berlebihan dari sales di toko, sehingga akhirnya pulang dengan TV yang terlalu mahal atau justru tidak sesuai kebutuhan. Agar tidak mudah terjebak di situasi semacam itu, ada lima mitos seputar TV yang ada baiknya untuk tidak dipercaya. Berikut daftarnya.

1. Butuh resolusi 4K di TV dengan layar kecil

jonas-leupe-XE6PBDd7_FQ-unsplash.jpg
ilustrasi TV (Unsplash/Jonas Leupe)

Banyak orang beranggapan bahwa TV beresolusi 4K selalu lebih baik, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Peneliti dari Universitas Cambridge dan Meta Reality Labs menemukan bahwa mata manusia punya keterbatasan dalam menangkap detail resolusi tinggi, terutama pada layar kecil. Untuk TV berukuran 44 inci ke bawah yang ditonton dari jarak sekitar 2,5 meter, perbedaan antara 4K dan 1080p hampir tidak terasa sama sekali. Ini karena otak kita tidak mampu memproses detail warna secara maksimal melampaui batas tertentu, sehingga menambah resolusi tidak selalu berarti gambar terlihat lebih tajam di mata.

2. Kabel HDMI premium itu wajib

Sejumlah produsen kabel HDMI sengaja membuat konsumen percaya bahwa kabel premium adalah keharusan untuk mendapatkan kualitas gambar 4K terbaik, padahal ini tidak benar. HDMI bekerja dengan sinyal digital yang sifatnya biner. Artinya, tidak ada "kualitas sinyal" yang bisa ditingkatkan hanya karena kabelnya lebih mahal. Bahkan, kabel HDMI lama yang tersimpan bertahun-tahun pun hampir pasti menghasilkan gambar yang sama persis dengan kabel HDMI mahal. Satu hal yang perlu diluruskan adalah istilah "versi" HDMI seperti 2.0 atau 2.1 yang mana itu merujuk pada spesifikasi port di perangkat, bukan pada kabelnya.

3. Garansi tambahan sangat diperlukan

jonas-leupe-dZmNJKFDuVI-unsplash.jpg
ilustrasi TV (Unsplash/Jonas Leupe)

Pernahkah kamu langsung ditawari garansi tambahan ketika membeli TV baru? Ternyata, produk itu jauh lebih menguntungkan bagi toko daripada TV-nya sendiri, di mana lebih dari separuh biaya garansi tambahan yang kamu bayar masuk ke kantong mereka. TV saat ini sebenarnya sangat jarang rusak dan kalau pun ada kerusakan, biaya servisnya biasanya tidak jauh beda dari biaya garansi tambahan yang kamu keluarkan. Biaya garansi itu juga bukan angka asal, melainkan sudah diperhitungkan dengan cermat berapa unit yang mungkin bermasalah, lalu harganya ditetapkan namun tetap menguntungkan mereka.

4. Spesifikasi rasio kontras sangat penting

Rasio kontras mengukur seberapa gelap warna hitam dan seberapa terang warna putih yang bisa dihasilkan layar, dan ini merupakan salah satu faktor terpenting dalam hal kualitas gambar. Masalahnya, tidak ada standar baku yang mengatur cara pengukurannya, sehingga setiap produsen bebas menggunakan metode mereka sendiri. Banyak TV saat ini memiliki fitur dynamic contrast yang secara otomatis menyesuaikan tingkat kecerahan layar tergantung konten yang ada di layar, sehingga angkanya bisa jauh lebih besar dibanding native contrast ratio alias kemampuan asli layar itu sendiri. Nah, angka besar itulah yang sering kali ditulis di brosur sebagai daya tarik pemasaran.

5. Burn-in di TV OLED masih menjadi masalah serius

thibault-penin-GrzoKN1aqSg-unsplash.jpg
ilustrasi TV (Unsplash/Thibault Penin)

Banyak orang masih takut membeli TV OLED karena khawatir soal burn-in yaitu kondisi di mana gambar statis "membekas" secara permanen di layar. Padahal, kekhawatiran ini sebetulnya sudah tidak terlalu relevan untuk TV OLED modern. Kebanyakan kasus yang dikira burn-in ternyata hanyalah image retention yang bersifat sementara dan hilang dengan sendirinya. Burn-in sejati memang pernah jadi masalah nyata pada TV OLED generasi, tapi sekarang butuh kondisi yang benar-benar ekstrem untuk bisa terjadi. Hal ini diperkuat oleh studi komprehensif yang dilakukan RTINGS selama 3 tahun terhadap lebih dari 100 unit TV dengan total lebih dari 10.000 jam penggunaan. Meski semua TV OLED yang diuji akhirnya mengalami burn-in, itu terjadi karena kondisi pengujian yang memang sengaja dibuat ekstrem.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa mitos terkait TV yang sebaiknya jangan dipercaya. Selain itu beberapa mitos di atas, mitos soal TV apa lagi yang hingga kini masih dipercaya banyak orang?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More