Celeste mengatakan, dengan bahu-membahu melalui inisiatif seperti AKSI Digital, generasi mendatang akan memiliki pengetahuan dan ketangguhan yang mereka butuhkan untuk berkembang di era digital.
"Filosofi kami dalam mendukung generasi muda itu sederhana: Kami bertujuan untuk melindungi mereka di dunia digital, bukan dari dunia digital," lanjutnya.
Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook) merupakan jembatan penting antara kebijakan, platform dan orang tua. Pembuatannya berkolaborasi dengan para pakar seperti Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Universitas Indonesia, serta didukung Komdigi guna mengubah tantangan psikologis yang rumit menjadi panduan yang sederhana dan dapat diterapkan.
Namun, keefektifan sebuah buku panduan bergantung pada orang-orang yang menggunakannya. Sebagai bagian dari peluncuran program percontohan berkelanjutan, mereka melatih 2.500 guru9f bimbingan konseling (BK), membekali pendidik dan orang tua dengan strategi yang disesuaikan secara lokal dan relevan secara budaya untuk menangani perundungan siber, pengelolaan waktu layar, dan tekanan sosial dalam kehidupan.
"Saat kita mengajarkan seorang anak cara mengendarai sepeda, kita tidak hanya memberikan sepeda dan membiarkannya begitu saja. Kami memberi mereka helm, mengajarkan aturan lalu lintas dan berlari di samping mereka sampai mereka menemukan keseimbangan. Buku panduan ini adalah cara kami untuk berlari di samping setiap keluarga," Celeste mengatakan.