ilustrasi baterai di dalam mobil listrik (Pexels.com/Ayyeee Ayyeee)
Untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan dari limbah baterai mobil listrik, baterai yang sudah tidak layak digunakan kembali dapat menjalani proses daur ulang. Baterai yang memang kapasitasnya benar-benar habis akan melewati tahap ini. Proses tersebut bertujuan memulihkan material yang masih bisa dimanfaatkan dari baterai bekas.
Meski proses tersebut sangat sulit dilakukan, logam langka di dalamnya, litium, kobalt, nikel, dan tembaga adalah bahan yang penting untuk membuat baterai baru. Pengambilan material-material ini juga dianggap merupakan cara yang lebih baik daripada harus kembali menambang. Perusahaan teknologi dari AS, Redwood Materials, mengatakan cara ini dapat mengurangi emisi karbon hingga 70 persen lebih rendah daripada menambang untuk mendapatkan bahannya.
Seiring meningkatnya penggunaan mobil listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, kebutuhan baterai dan bahan baku mineral juga ikut meningkat. Akibatnya, permintaan mobil listrik meningkat yang secara tidak langsung juga melonjakkan permintaan jumlah baterai. Bahan-bahan untuk mendapatkan pembuatan baterai baru ini terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu. Indonesia misalnya, yang merupakan penyumbang separuh Nikel di dunia ini memiliki masalah HAM yang berkelanjutan dalam operasi pertambangan. Karena itu, banyak perusahaan lebih memilih untuk mengembangkan teknologi untuk mendaur ulang baterai bekas untuk mendapatkan bahannya.
Baterai mobil listrik yang sudah tidak terpakai tidak selalu langsung dibuang. Dengan proses pengecekan kembali, baterai bekas yang layak masih bisa dimanfaatkan kembali. Sementara itu, baterai yang sudah tidak layak digunakan akan dikirim ke fasilitas daur ulang untuk memulihkan material yang masih bisa dimanfaatkan.