Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Baterai Lithium Bisa Menggembung?

Mengapa Baterai Lithium Bisa Menggembung?
ilustrasi baterai HP (unsplash.com/Tyler Lastovich)
Intinya Sih
  • Baterai lithium bisa menggembung karena gas terbentuk akibat reaksi kimia tidak normal yang merusak elektrolit di dalam sel baterai.
  • Penyebab utama pembengkakan meliputi overcharging, suhu panas berlebih, deep discharge, cacat produksi, kerusakan fisik, usia baterai tua, dan penggunaan charger tidak sesuai.
  • Jika baterai mulai menggembung, pengguna disarankan segera berhenti menggunakannya dan menggantinya untuk mencegah risiko kerusakan perangkat atau kebakaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Baterai lithium, terutama baterai lithium-ion yang digunakan pada smartphone, laptop, tablet, hingga kendaraan listrik, dikenal memiliki kapasitas besar dan daya tahan yang baik. Namun, seiring bertambahnya usia dan intensitas pemakaian, baterai jenis ini dapat mengalami pembengkakan. Kondisi tersebut bukan sekadar mengubah bentuk fisik baterai, tetapi juga menjadi tanda bahwa telah terjadi kerusakan di dalamnya yang berpotensi membahayakan jika terus digunakan.

Lantas, mengapa baterai lithium bisa menggembung? Penyebab utamanya adalah terbentuknya gas di dalam sel baterai akibat reaksi kimia yang tidak normal. Reaksi ini membuat elektrolit di dalam baterai mulai terurai dan menghasilkan berbagai jenis gas, seperti karbon dioksida, karbon monoksida, dan hidrogen. Karena baterai lithium memiliki wadah yang tertutup rapat, gas tersebut tidak dapat keluar. Akibatnya, tekanan di dalam baterai terus meningkat hingga casing baterai mengembang atau tampak membengkak. Yuk, kita bahas lebih lanjut apa saja penyebab baterai lithium bisa menggembung!

1. Terlalu sering diisi daya berlebihan (Overcharging)

Salah satu penyebab paling umum baterai menggembung adalah overcharging atau pengisian daya yang melebihi batas aman. Ketika tegangan baterai melampaui sekitar 4,2–4,25 volt per sel, elektrolit mulai mengalami penguraian. Selain itu, ion lithium akan menumpuk secara berlebihan pada elektroda negatif dan membentuk kristal lithium (lithium plating). Kondisi ini merusak struktur internal baterai sekaligus mempercepat pembentukan gas. Walaupun sebagian besar perangkat modern sudah memiliki sistem perlindungan terhadap overcharging, tapi penggunaan charger berkualitas rendah atau baterai yang sudah rusak tetap dapat meningkatkan risikonya.

2. Suhu terlalu panas

Panas berlebih juga dapat memicu pembengkakan baterai. Semakin tinggi suhu, semakin cepat reaksi kimia di dalam baterai berlangsung sehingga elektrolit lebih mudah terurai dan menghasilkan gas. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan baterai menjadi terlalu panas antara lain:

  • Menggunakan perangkat di bawah sinar matahari langsung
  • Bermain game atau mengedit video sambil mengisi daya
  • Sistem pendingin perangkat yang kurang baik
  • Menggunakan perangkat di lingkungan dengan suhu ekstrem

Jika kondisi ini terjadi berulang kali, umur baterai akan jauh lebih pendek.

3. Baterai terlalu sering habis total

Seseorang memegang ponsel dengan layar menampilkan ikon baterai hampir habis dan simbol pengisian daya di luar ruangan.
ilustrasi baterai HP habis (pexels.com/Ron Lach)

Membiarkan baterai kosong hingga benar-benar habis (deep discharge) juga dapat merusak komponen internalnya. Saat tegangan baterai turun terlalu rendah, lapisan pelindung yang disebut Solid Electrolyte Interface (SEI) mulai mengalami kerusakan. Saat baterai kemudian diisi ulang, kerusakan tersebut dapat memicu reaksi kimia yang menghasilkan gas dan menyebabkan baterai membengkak. Karena itu, banyak produsen menyarankan agar baterai tidak dibiarkan berada di level 0% terlalu sering.

4. Cacat produksi

Tidak semua baterai menggembung disebabkan oleh kesalahan penggunaan. Dalam beberapa kasus, penyebabnya adalah cacat saat proses produksi. Beberapa contoh cacat produksi meliputi:

  • Lapisan elektroda yang tidak merata
  • Masuknya partikel logam atau benda asing ke dalam baterai
  • Separator internal yang rusak sehingga memicu korsleting
  • Korsleting internal menghasilkan panas tinggi yang mempercepat penguraian elektrolit dan pembentukan gas.

5. Kerusakan fisik

Baterai yang pernah terjatuh, tertindih, atau tertusuk juga berisiko mengalami pembengkakan. Benturan dapat merusak struktur internal baterai dan menyebabkan korsleting. Reaksi kimia yang terjadi kemudian menghasilkan gas sehingga baterai mulai mengembang. Oleh sebab itu, apabila smartphone atau laptop mengalami benturan keras dan baterainya mulai berubah bentuk, sebaiknya segera hentikan penggunaannya.

6. Faktor usia

mengisi daya baterai HP
ilustrasi mengisi daya HP (unsplash.com/Andreas Haslinger)

Baterai lithium memiliki umur pakai yang terbatas. Setiap kali diisi dan dikosongkan, kapasitasnya akan sedikit demi sedikit menurun. Seiring bertambahnya usia, elektrolit mengalami oksidasi secara alami yang juga menghasilkan gas. Itulah sebabnya baterai yang sudah digunakan selama beberapa tahun lebih rentan mengalami pembengkakan dibandingkan baterai baru.

7. Menggunakan charger yang tidak sesuai

Charger berkualitas rendah atau tidak kompatibel dapat memberikan arus dan tegangan yang tidak stabil. Akibatnya, baterai menerima beban yang lebih besar dari seharusnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini mempercepat kerusakan sel baterai dan meningkatkan risiko pembengkakan. Menggunakan charger asli atau charger dari produsen terpercaya merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan baterai.

Baterai lithium menggembung karena terbentuknya gas di dalam sel baterai akibat reaksi kimia yang merusak elektrolit. Jika baterai sudah mulai menggembung, sebaiknya jangan terus digunakan. Menggantinya sesegera mungkin merupakan langkah paling aman untuk mencegah kerusakan perangkat maupun risiko kebakaran.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More