Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AWS Summit 2026 Bahas Penggunaan AI di Indonesia, Fokus ke Dampak

AWS Summit 2026 Bahas Penggunaan AI di Indonesia, Fokus ke Dampak
AWS Summit 2026 (IDN Times/Fatkhur Rozi)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Studi AWS mencatat 40 persen pelaku usaha di Indonesia telah memanfaatkan AI dalam operasional.
  • Organisasi pengadopsi AI melaporkan peningkatan produktivitas, percepatan inovasi, dan pertumbuhan pendapatan.
  • Mayoritas pengadopsi masih berada dalam fase eksperimen, dengan keterampilan digital dan AI menjadi hambatan utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, AI di perusahaan kini ada di tahap mana?
Share Article

Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Studi terbaru AWS bertajuk Unlocking Indonesia's AI Potential 2026 mengungkapkan bahwa 40 persen pelaku usaha di Indonesia kini telah memanfaatkan AI dalam operasional mereka. Pergeseran ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi eksperimental, melainkan mulai menjadi bagian dari strategi bisnis.

Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa manfaat AI mulai dirasakan secara nyata oleh perusahaan. Sebanyak 75 persen organisasi yang telah mengadopsi AI melaporkan peningkatan produktivitas, sementara 72 persen mengaku siklus inovasi mereka menjadi lebih cepat dan 62 persen mencatat pertumbuhan pendapatan yang didorong oleh pemanfaatan AI. Pada saat yang sama, adopsi cloud di Indonesia turut meningkat menjadi 62 persen dari sebelumnya 54 persen.

AI mulai menjadi fondasi bisnis, bukan sekadar pelengkap

ilustrasi AI
ilustrasi AI (vecteezy.com/Muchlis Nugroho)

Laporan AWS menyoroti bagaimana sejumlah perusahaan mulai membangun AI langsung di inti operasional mereka. Salah satu contohnya adalah hibank yang memanfaatkan AI untuk proses penilaian kelayakan kredit, deteksi kecurangan, hingga layanan pelanggan. Pendekatan tersebut menghasilkan proses pengambilan keputusan yang lebih cepat sekaligus membantu menekan risiko operasional.

AWS menilai perubahan ini menjadi penanda bahwa organisasi di Indonesia telah melewati tahap mempertanyakan apakah AI layak digunakan. Kini perhatian perusahaan bergeser pada bagaimana memperluas implementasinya, mengelola teknologi tersebut secara bertanggung jawab, serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung transformasi tersebut dalam jangka panjang.

Agentic AI mulai menarik perhatian pelaku usaha

ilustrasi penerapan Agentic AI dalam pekerjaan
ilustrasi penerapan Agentic AI dalam pekerjaan (freepik.com/user4894991)

Studi tersebut juga menunjukkan munculnya minat terhadap agentic AI. Teknologi ini dinilai mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding implementasi AI konvensional karena dapat membantu organisasi menjalankan berbagai proses secara lebih otomatis dan terintegrasi.

Di antara perusahaan yang telah mengadopsi agentic AI, sebanyak 84 persen melaporkan peningkatan produktivitas. Selain itu, 47 persen menyebut proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, 44 persen mengalami peningkatan efisiensi operasional, dan 38 persen memperoleh skalabilitas operasional yang lebih baik.

Kesadaran terhadap konsep agentic AI memang masih berkembang. Sebanyak 38 persen pelaku usaha mengaku sudah pernah mendengar istilah tersebut, sedangkan setelah memperoleh penjelasan, 58 persen menyatakan berencana mengadopsi atau sedang mempertimbangkan penerapannya di perusahaan masing masing.

Startup AI native mencatat pertumbuhan lebih tinggi

Laporan ini juga menyoroti perbedaan pendekatan antara perusahaan konvensional dan startup AI native. Jika perusahaan mapan umumnya masih mengintegrasikan AI ke dalam proses yang sudah berjalan, startup AI native justru membangun produk, operasional, dan model bisnis mereka dengan AI sebagai fondasi utama sejak awal.

Strategi tersebut menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Startup AI native di Indonesia mencatat rata rata pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 142 persen, jauh melampaui rata rata startup nasional sebesar 60 persen. Mereka juga memiliki peluang 4,8 kali lebih besar untuk menghasilkan pendapatan tahunan di atas 1 juta dolar Amerika Serikat, sementara 97 persen di antaranya meyakini AI akan terus mendorong pertumbuhan bisnis pada tahun mendatang.

Contoh implementasi lainnya datang dari perusahaan healthtech Rey yang memanfaatkan Amazon Bedrock untuk membangun Olvo AI. Platform tersebut mampu mengotomatisasi proses klaim sehingga waktu penyelesaian yang sebelumnya memakan satu hingga dua minggu kini dapat dipersingkat menjadi kurang dari satu hari, dengan kapasitas memproses lebih dari 7.000 klaim setiap hari untuk lebih dari 500.000 anggota asuransi.

Tantangan berikutnya adalah memperluas skala AI

Anthony Amni, Country Manager, AWS Indonesia at the AWS Jakarta Summit 2026.jpeg
Anthony Amni, Country Manager, AWS Indonesia (dok. AWS Indonesia)

Meski adopsi AI terus meningkat, sebagian besar organisasi masih berada pada tahap eksplorasi. Sebanyak 56 persen pengadopsi AI masih berada dalam fase eksperimen, sedangkan hanya 12 persen yang telah mengintegrasikan AI sepenuhnya ke dalam strategi bisnis mereka. Di sisi lain, 78 persen pelaku usaha memperkirakan penggunaan AI di perusahaan akan meningkat dalam 12 bulan mendatang dan 72 persen memiliki ambisi memperluas penerapannya ke lebih banyak lini bisnis.

AWS menilai fase berikutnya membutuhkan fondasi yang lebih kuat. Saat ini baru 24 persen perusahaan memiliki strategi AI formal, 21 persen telah menerapkan tata kelola data, dan 17 persen memiliki kerangka AI yang bertanggung jawab. Selain itu, sebanyak 56 persen organisasi masih menganggap kurangnya keterampilan digital dan AI sebagai hambatan utama dalam memperluas implementasi teknologi tersebut.

Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia, mengatakan perjalanan AI di Indonesia kini telah memasuki babak baru.

"Kisah AI di Indonesia telah bergeser dari eksperimen menuju eksekusi. Hasilnya berbicara dengan sendirinya. Yang terpenting sekarang adalah mengubah kemenangan kemenangan awal menjadi transformasi di seluruh perusahaan. Infrastruktur, layanan, dan program pengembangan talenta sudah tersedia. Perusahaan perusahaan yang bergerak cepat dan tegas akan menentukan arah dekade berikutnya bagi ekonomi digital Indonesia."

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More