perbandingan benchmark GPT-6 Astra dengan model AI lain (openai.com)
Kemampuan Astra terlihat pada pengujian OSWorld 2.0 untuk tugas sistem operasi. Model ini meraih skor 72,6 persen dengan waktu pengerjaan rata-rata 40 menit, sekitar 47 persen lebih cepat dibandingkan dengan GPT-5.6 Sol yang membutuhkan waktu 75 menit (skor 65,7 persen). Pada uji coba eksekusi terminal di Terminal-Bench 4.0, Astra juga unggul dengan skor 57,7 persen, mengalahkan Claude Fable 5.1 di angka 55,8 persen dan Sol yang tertinggal di angka 37,3 persen.
Di bidang matematika dan sains tingkat lanjut, performa Astra tergolong dominan. Pada tolok ukur riset FrontierMath Tier 4 v2, model ini mencetak skor 97,6 persen, mengalahkan Fable 5.1 (87,8 persen) dan Sol (83,0 persen). Keunggulan serupa terlihat pada pengujian sains pascasarjana GPQA Diamond, di mana Astra menempati posisi teratas dengan raihan 96,0 persen.
Meski begitu, hasil pengujian Astra tetap memiliki catatan penting. Skor 99,9 persen di ARC-AGI-3 dicapai dengan memakai adapter harness khusus berbiaya komputasi mahal, sementara pengujian standar menghasilkan skor yang lebih rendah. Selain itu, Astra masih harus mengakui keunggulan Claude Fable 5.1 pada pengujian Humanity's Last Exam dengan skor 57,2 persen berbanding 65,0 persen.
Secara keseluruhan, nilai jual Astra bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan efisiensi kerja di dunia nyata. Karena minim kesalahan dan jarang membutuhkan perbaikan berulang, biaya akhir untuk menuntaskan tugas pemrograman justru lebih hemat dibandingkan dengan model lain di kelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa tolok ukur AI kini mulai beralih dari sekadar harga per token ke efektivitas penyelesaian tugas.