Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

10 Pertanyaan tentang AI yang Paling Sering Dicari

Pertanyaan tentang AI
ilustrasi AI membantu pembelajaran (pexels.com/Shantanu Kumar)
Intinya sih...
  • Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang meniru kecerdasan manusia untuk memproses data, mengenali pola, hingga membuat keputusan dalam berbagai bidang.
  • AI memiliki berbagai jenis, dari Artificial Narrow Intelligence hingga Artificial Superintelligence.
  • Meski membawa manfaat besar, AI tidak bisa memiliki emosi atau menggantikan manusia sepenuhnya. AI berfungsi sebagai alat pendukung produktivitas jika digunakan dengan etis dan bijak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pertanyaan tentang AI semakin banyak dicari karena teknologi ini kini hadir di hampir semua aspek kehidupan mulai dari pendidikan, hiburan, hingga pekerjaan. Namun, masih banyak orang yang penasaran dengan AI, terutama hal-hal yang mendasar.

Kalau kamu juga masih ingin tahu banyak hal tentang AI, artikel ini akan membahas pertanyaan seputar AI yang paling sering dicari. Pertanyaannya dilengkapi dengan penjelasan komprehensif dan sederhana agar mudah dipahami.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, baca selengkapnya di bawah ini!

1. Apa itu AI?

Pertanyaan tentang AI
ilustrasi ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)

Pertanyaan seputar AI biasanya dimulai dari definisi paling dasar, yaitu apa sebenarnya AI. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan Artificial adalah teknologi di bidang komputer yang dirancang supaya mesin bisa “berpikir” dan melakukan hal-hal yang biasanya hanya bisa dilakukan manusia. Contohnya, mengenali suara, memahami bahasa, memecahkan masalah, atau membantu mengambil keputusan.

Singkatnya AI itu seperti otak buatan untuk komputer atau mesin. Tujuannya, agar mereka bisa belajar, mengenali pola, hingga bekerja layaknya manusia dalam beberapa hal.

Stanford EdTech Lab menyebut AI sebagai simulation of human intelligence processes by machines, particularly computer systems. Jadi, fungsinya mencakup proses belajar, bernalar, memecahkan masalah, persepsi, serta memahami bahasa alami. Contoh paling sederhana dari penerapan AI adalah virtual assistant seperti Siri, Google Assistant, atau Alexa yang mampu memahami perintah suara dan meresponsnya secara real‑time.

AI tidak hanya terbatas pada chatbot atau mesin pencari. Teknologi ini juga dipakai dalam kesehatan untuk membaca hasil rontgen, di industri otomotif untuk kendaraan otonom, serta di keuangan untuk mendeteksi potensi penipuan.

2. Siapa penemu AI pertama kali?

Banyak orang mencari jawaban atas pertanyaan tentang siapa penemu AI. Kecerdasan buatan tidak diciptakan oleh satu orang saja, melainkan hasil kontribusi dari banyak ilmuwan.

Namun, salah satu tokoh paling berpengaruh adalah John McCarthy, ilmuwan komputer dari Amerika Serikat yang pertama kali memperkenalkan istilah Artificial Intelligence pada 1956 dalam konferensi Dartmouth. Melansir Dartmouth Edu, pertemuan di Dartmouth itulah yang dianggap sebagai titik lahirnya AI sebagai bidang studi.

Selain McCarthy, ada juga tokoh penting lain seperti Alan Turing, matematikawan asal Inggris yang lebih dulu merumuskan ide bahwa mesin bisa “berpikir” layaknya manusia. Tes Turing yang dikenalkan pada 1950 hingga kini masih sering dipakai sebagai tolok ukur apakah sebuah sistem bisa dianggap cerdas atau tidak.

3. Apakah ChatGPT termasuk AI?

Pertanyaan seputar penggunaan AI sering mengarah pada chatbot populer seperti ChatGPT. Lantas, apakah ChatGPT termasuk AI? Jawabannya, iya.

ChatGPT adalah salah satu bentuk AI yang dikembangkan oleh OpenAI, lebih tepatnya berbasis pada teknologi Large Language Model (LLM). ChatGPT dirancang untuk memahami bahasa manusia dan menghasilkan jawaban yang relevan sesuai konteks percakapan.

Melansir Tech Radar, ChatGPT bekerja dengan memproses miliaran kata dari data pelatihan sehingga mampu menebak kata atau frasa berikutnya dalam sebuah kalimat. Itulah sebabnya ChatGPT bisa memberikan jawaban yang terdengar alami.

Namun, ChatGPT tidak memiliki kesadaran atau emosi. Ia hanya memprediksi berdasarkan pola data.

4. Mengapa AI dapat berpikir seperti manusia?

Pertanyaan tentang AI yang sering muncul selanjutnya adalah mengapa teknologi ini bisa terlihat seperti sedang berpikir layaknya manusia. Jawabannya, AI memiliki algoritma pembelajaran mesin atau machine learning. Karena itu, AI mampu menganalisis data dalam jumlah besar, mengenali pola, lalu mengambil keputusan berdasarkan informasi tersebut.

Menurut riset Harvard Business Review, kemampuan AI meniru cara manusia berpikir bukan berarti ia benar-benar sadar. AI hanya memproses data dan pola matematika yang menyerupai cara otak manusia bekerja. Misalnya, saat kamu berbicara dengan ChatGPT, sistem ini sebenarnya sedang menghitung probabilitas kata mana yang paling mungkin muncul berikutnya dalam percakapan.

Kemampuan tersebut membuat AI terlihat pintar dan natural. Namun, pada kenyataannya, AI hanya menjalankan instruksi yang ditanamkan oleh manusia melalui algoritma. Jadi, AI bukanlah makhluk yang benar-benar bisa berpikir atau merasa, melainkan alat canggih yang dirancang untuk meniru proses berpikir manusia.

5. Apakah AI berbahaya?

Pertanyaan tentang AI
ilustrasi AI (unsplash.com/Mohamed Nohassi)

AI memang membawa manfaat besar, tetapi juga memiliki potensi bahaya jika tidak digunakan dengan bijak. Misalnya, deepfake yang bisa menyebarkan informasi palsu, atau sistem otomatis yang dapat disalahgunakan untuk kejahatan siber.

Melansir World Economic Forum, salah satu bahaya utama AI adalah bias data. Jika data yang digunakan untuk melatih AI tidak seimbang, maka hasil yang dikeluarkan juga bisa diskriminatif. Selain itu, ada pula kekhawatiran terkait privasi karena AI sering mengandalkan data pribadi pengguna untuk memberikan hasil yang lebih akurat.

Namun, banyak pakar menekankan bahwa risiko AI bisa diminimalisasi dengan regulasi yang tepat dan pengawasan ketat. Jadi, AI memang berpotensi berbahaya, tetapi bukan berarti teknologi ini tidak boleh digunakan. Sama seperti pisau, manfaat atau bahayanya tergantung bagaimana manusia menggunakannya.

6. Apakah AI bisa menggantikan manusia sepenuhnya?

Jawabannya, tidak. AI bisa menggantikan sebagian tugas yang repetitif atau berbasis data, tetapi tetap ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan manusia. Terutama hal-hal yang melibatkan kreativitas, empati, dan etika.

Menurut laporan McKinsey Global Institute, pekerjaan rutin seperti input data, analisis cepat, atau layanan pelanggan sederhana bisa digantikan oleh AI. Namun, pekerjaan yang membutuhkan sentuhan manusia seperti seni, konseling, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan masih sulit digantikan.

AI lebih cocok dipandang sebagai alat pendukung yang membuat manusia lebih produktif, bukan sebagai pengganti total. Manusia dan AI bisa saling melengkapi. AI mengurus hal teknis, sementara manusia fokus pada aspek kreatif dan emosional.

7. Apa contoh penerapan AI dalam kehidupan sehari-hari?

Banyak orang yang penasaran dengan pertanyaan tentang AI di kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, tanpa sadar bisa jadi kamu sudah menggunakan AI hampir setiap hari. Contoh paling nyata adalah rekomendasi film di Netflix, playlist musik di Spotify, dan iklan yang muncul di media sosial yang semuanya dikendalikan oleh algoritma AI.

AI juga dipakai dalam aplikasi navigasi seperti Google Maps yang bisa memprediksi jalur tercepat berdasarkan kondisi lalu lintas. Di bidang kesehatan, AI membantu dokter membaca hasil MRI atau rontgen dengan lebih akurat. Selain itu, perangkat rumah pintar seperti robot vacuum cleaner dan smart speaker juga mengandalkan AI untuk memudahkan aktivitas sehari-hari.

8. Apa saja jenis-jenis AI yang ada saat ini

Secara umum, AI dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan kemampuan dan fungsinya. Melansir IBM Research, ada tiga kategori utama di antaranya:

  • Artificial Narrow Intelligence (ANI): AI yang hanya bisa melakukan satu tugas tertentu, misalnya Siri atau Google Translate.

  • Artificial General Intelligence (AGI): AI yang bisa meniru kecerdasan manusia secara menyeluruh. Jenis ini masih berupa konsep dan belum sepenuhnya tercapai.

  • Artificial Superintelligence (ASI): AI yang jauh lebih pintar dari manusia dalam segala hal. Sampai sekarang masih menjadi prediksi dan perdebatan di kalangan ilmuwan.

Selain kategori kemampuan, AI juga bisa dibagi berdasarkan teknologi yang digunakan. Misalnya AI berupa machine learning, deep learning, hingga natural language processing.

9. Apa saja pertanyaan bagus yang bisa ditanyakan pada AI?

pertanyaan tentang AI
ilustrasi ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)

Banyak orang penasaran mengenai pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan pada AI seperti ChatGPT atau asisten virtual lainnya. Jawabannya bergantung pada kebutuhanmu. Pertanyaan bagus biasanya bersifat spesifik, jelas, dan sesuai dengan kemampuan AI.

Contoh pertanyaan atau prompt yang bisa diajukan ke AI seperti ChatGPT adalah:

  • "Bisakah kamu jelaskan teori evolusi dengan bahasa sederhana?”

  • “Rekomendasikan film komedi terbaru yang ratingnya bagus.”

  • “Bagaimana cara membuat presentasi yang menarik?”

  • “Tolong terjemahkan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.”

Semakin spesifik pertanyaanmu, semakin relevan jawaban yang diberikan AI. Jadi, daripada bertanya “Ceritakan tentang teknologi,” lebih baik kamu menanyakan “Apa manfaat teknologi AI di bidang kesehatan?” Dengan begitu, AI bisa memberikan jawaban yang lebih detail dan bermanfaat.

10. Apakah AI bisa memiliki emosi atau perasaan?

Pertanyaan tentang AI yang tak kalah sering ditanyakan adalah apakah teknologi ini bisa benar-benar memiliki emosi seperti manusia. Jawabannya, tidak. AI hanya mampu mensimulasikan emosi melalui bahasa, ekspresi wajah digital, atau respons yang terlihat “manusiawi.”

Melansir Scientific American, AI bekerja berdasarkan data dan algoritma, bukan pengalaman hidup atau kesadaran diri. Ketika sebuah chatbot tampak “peduli” atau “ramah,” itu hanyalah hasil pemrograman agar interaksi terasa lebih alami, bukan karena AI benar-benar merasakan sesuatu.

Namun, ada bidang riset yang disebut Affective Computing, yaitu upaya membuat sistem yang bisa mengenali dan merespons emosi manusia. Contohnya, kamera yang bisa mendeteksi ekspresi wajah lalu menyesuaikan layanan.

Hanya saja, itu tetap tidak berarti AI memiliki perasaan. Pada akhirnya, AI hanyalah alat yang meniru emosi, bukan entitas yang benar-benar bisa merasakan seperti manusia.

Kesimpulan

Pertanyaan tentang AI akan terus berkembang seiring teknologi ini semakin dekat dengan kehidupan manusia. Dari definisi dasar, sejarah, hingga penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, AI telah menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.

Demikian penjelasan tentang AI. Baca artikel menarik lainnya hanya di IDN Times untuk menambah wawasanmu seputar teknologi dan tren terbaru!

FAQ lainnya seputar AI

  1. Apa saja manfaat utama AI?
    Manfaat AI antara lain efisiensi kerja, otomatisasi tugas, peningkatan akurasi analisis data, dan membantu manusia mengambil keputusan lebih cepat.

  2. Apakah AI bisa belajar sendiri tanpa manusia?
    AI bisa belajar melalui machine learning, tetapi tetap membutuhkan data dan arahan dari manusia agar prosesnya terarah.

  3. Apakah semua chatbot termasuk AI?
    Tidak semua chatbot adalah AI. Beberapa hanya menggunakan skrip otomatis, sementara yang berbasis machine learning atau LLM seperti ChatGPT baru bisa disebut AI.

  4. Apakah AI bisa menciptakan karya seni?
    Ya, AI bisa menghasilkan musik, gambar, atau teks. Namun, kreativitas AI berbeda dengan manusia karena berbasis pola dari data yang dipelajari.

  5. Bagaimana cara belajar AI untuk pemula?
    Mulailah dengan dasar pemrograman, statistik, dan logika. Banyak kursus daring gratis dari universitas maupun platform teknologi yang bisa membantu.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim konten IDN Times.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati
Follow Us