Indonesia menjadi salah satu pasar sasaran besar untuk penggunaan teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI). Menurut data dari Oxford Insight, tingkat kesiapan Indonesia untuk penggunaan AI telah mencapai 65,85 persen, terutama di bidang pemerintahan dan data.
Namun, pertumbuhan pesat negara ini tidak hanya mengubah ekosistem digitalnya, tetapi juga menciptakan peningkatan skema kejahatan siber. Kaspersky dalam laporan keamanan tahunannya (KSN) mengungkapkan bahwa sebanyak 14.909.665 serangan berbasis web terdeteksi dan berhasil diblokir di Indonesia tahun lalu.
Angka yang dijabarkan tersebut setara dengan 40.848 upaya serangan siber online per hari. Secara umum, lebih dari 1 dari setiap 4 (22,4 persen) pengguna menghadapi ancaman online selama periode Januari hingga Desember 2025. Hal ini juga menempatkan Indonesia di peringkat ke-84 di dunia dalam hal bahaya terkait dengan berselancar di web.
