Uniknya Cara Kerja Tiket NFC ala Klub Kasta Kedua Liga Prancis

- Dijon akan memakai syal resmi berchip NFC sebagai akses stadion bagi pemegang tiket musiman 2026/2027; suporter cukup mendekatkan syal ke reader untuk verifikasi.
- Model ticketing NFC sebelumnya diuji FC Köln dan diterapkan FC St. Gallen, sekaligus menawarkan konten digital, augmented reality, serta gamifikasi berbasis aktivitas suporter.
- Indonesia telah mewajibkan tiket pertandingan daring berbasis QR Code, tetapi belum memakai NFC; pemanfaatan chip e-KTP juga belum masif akibat keterbatasan reader dan integrasi data.
Near Field Communication (NFC) sudah menjadi alat yang mulai tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi komunikasi tanpa kabel ini memungkinkan dua perangkat saling berkomunikasi atau bertukar data hanya dengan mendekatkannya ke pembaca NFC atau biasa disebut NFC reader. Berkat NFC, berbagai aktivitas pun menjadi lebih praktis, mulai dari melakukan pembayaran hingga verifikasi hanya dengan sekali tap.
Pemanfaatan NFC ternyata tidak berhenti sampai di situ, lho. Teknologi yang dikembangkan melalui kerja sama Sony dan Philips pada 2002 ini juga mulai merambah dunia olahraga. Dijon FCO, salah satu klub di Ligue 2 atau divisi kedua Liga Prancis, memperkenalkan syal resmi yang ditanam chip NFC sebagai bagian dari metode akses bagi pengunjung dan suporter yang hendak memasuki Stadion Gaston-Gerrard pada musim 2026/2027.
Bagaimana sebuah syal yang dilengkapi chip NFC dapat digunakan untuk memasuki stadion? Lantas, apakah teknologi semacam ini juga dapat diterapkan di Indonesia?
1. Sistem NFC untuk ticketing ternyata sudah diterapkan sebelum Dijon

ilustrasi cara kerja NFC (unsplash.com/SumUp) Penggunaan NFC sebagai metode ticketing sebetulnya bukanlah hal baru dalam kompetisi sepak bola Eropa. Sebelum Dijon memperkenalkannya di Prancis, FC Koln sudah lebih dahulu melakukan uji coba di Jerman tatkala menghadapi AC Milan pada 2022/2023. Tak sekadar berfungsi sebagai tiket masuk ke Stadion RheinEnergie, syal tersebut memungkinkan pemegangnya menikmati sejumlah konten digital eksklusif, seperti video ketika para pemain memasuki stadion, fitur augmented reality (AR), dan tayangan ulang pertandingan yang dilengkapi fitur-fitur interaktif.
Semusim kemudian, tepatnya pada 2023/2024, klub papan atas Swiss, FC St. Gallen, turut menerapkan metode serupa seperti yang dilakukan FC Koln. Bedanya, FC St. Gallen menambahkan unsur gamifikasi untuk meningkatkan keterlibatan suporter lewat sistem pengumpulan poin dari berbagai aktivitas, seperti menghubungkan syal dengan tiket pertandingan dan membeli merchandise. Suporter yang menempati peringkat pertama berhak mendapatkan tiket musiman FC St. Gallen untuk musim berikutnya secara gratis, sementara peringkat kedua dan ketiga masing-masing mendapatkan jersey kandang dan tandang FC St. Gallen pada 2024/2025 sebelum dipasarkan kepada publik.
2. Tiket musiman menjadi syarat mendapat syal NFC

ilustrasi syal sepak bola (shopee.com/Persib Official Store) Pada 19 Mei 2026 waktu setempat, Dijon membuka periode perpanjangan tiket musiman (season ticket/abonnement) bagi pemegang tiket pada musim sebelumnya. Dua hari kemudian, tepatnya 21 Mei 2026, klub yang kini dilatih Baptiste Ridira ini mulai menjual tiket musiman kepada publik secara online. Mirip dengan model bisnis berlangganan, tiket musiman memungkinkan pemegangnya menyaksikan seluruh pertandingan kandang Dijon di Stadion Gaston-Gerrard selama 2026/2027 tanpa perlu membeli tiket untuk tiap pertandingan secara terpisah.
Masing-masing pemegang tiket musiman bakal menerima QR Code via email setelah melakukan pembelian. QR Code tersebut akan digunakan untuk mengambil syal resmi Dijon. Selain itu, kode ini juga berfungsi untuk melakukan proses pairing antara syal dan tiket musiman pemiliknya.
3. Pemegang tiket mendekatkan syal NFC ke reader untuk verifikasi akses

ilustrasi scan ke NFC reader (unsplash.com/Jonas Leupe) Mekanisme ticketing Dijon secara garis besar sebetulnya tidak jauh berbeda dari yang diterapkan FC Koln dan FC St. Gallen. Pemegang tiket hanya perlu mendekatkan syal ke NFC reader di pintu masuk. Ketika kedua perangkat berada dalam jarak berdekatan, chip NFC pada syal akan terbaca oleh reader sehingga sistem dapat memverifikasi hak akses pemegangnya.
Setelah data berhasil dibaca, sistem yang terhubung dengan NFC reader kemudian memverifikasi apakah pemegang syal memiliki hak akses untuk memasuki stadion. Jika proses verifikasi berhasil, pemegang syal dapat melewati pintu masuk dan menuju area tribun. Namun, kalau proses verifikasi gagal, akses tidak dapat digunakan sehingga pemegang syal perlu meminta bantuan kepada petugas yang bersangkutan.
4. Indonesia sudah mengenal ticketing digital, tetapi belum berbasis NFC

ilustrasi memindai QR Code (pexels.com/Kampus Production) Melihat teknologi yang mulai ramai diintegrasikan dalam ranah sepak bola, Indonesia sebenarnya tidak jauh tertinggal dalam perkara digitalisasi ticketing. BRI Super League 2025/2026, misalnya, sudah menetapkan regulasi melalui Pasal 67 ayat 2 yang mewajibkan semua tiket pertandingan dijual melalui Ticketing Management System (TMS) secara online. BRI bahkan menyediakan pembelian tiket Liga 1 melalui aplikasi BRImo yang memungkinkan pengguna mendapatkan e-ticket via email dalam bentuk QR Code yang dapat digunakan untuk memasuki stadion atau ditukarkan dengan tiket fisik sesuai ketentuan klub penyelenggara.
Namun, jika dibandingkan dengan mekanisme berbasis chip NFC dari Dijon dan klub Eropa lainnya, sistem ticketing di Indonesia masih terlalu tergantung pada e-ticket serta QR Code. Pasalnya, penggunaan e-ticket dan QR Code sebagai akses masuk masih menyisakan sejumlah celah yang patut menjadi catatan bersama, salah satunya risiko pemalsuan dan penggandaan tiket yang pernah terjadi ketika Persik Kediri bertanding melawan Persib Bandung pada pekan ke-16 BRI Super League 2025/2026. Dalam rangka meningkatkan pengalaman digitalisasi, PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) memperkenalkan aplikasi Sobat Liga yang memanfaatkan teknologi face recognition untuk membuat proses verifikasi lebih aman dan mudah.
5. Syal NFC Dijon menunjukkan ironi e-KTP Indonesia yang kerap difotokopi

ilustrasi kartu identitas berbahasa China (unsplash.com/Maccy) Penerapan chip NFC pada syal Dijon mungkin akan mengingatkan pada teknologi serupa yang sebenarnya sudah lama tertanam dalam KTP elektronik (e-KTP) yang selalu kita pegang. Secara teknis, e-KTP telah dibekali chip yang dapat dibaca menggunakan card reader untuk membantu proses pengecekan identitas. Pada Mei 2026, Teguh Setyabudi, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri), bahkan mengungkapkan kalau pihaknya telah bekerja sama dengan sekitar 7.500 lembaga pengguna yang memanfaatkan sistem verifikasi elektronik, mulai dari card reader hingga face recognition demi mengurangi ketergantungan terhadap fotokopi e-KTP.
Meski begitu, teknologi canggih ini belum bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menggantikan praktik konvensional di lapangan. Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang masih terjebak dalam proses administrasi rumit karena diminta membuat dan menyerahkan fotokopi e-KTP, seperti saat melamar pekerjaan. Salah satu penyebabnya adalah masih ada beberapa lembaga yang belum bekerja sama dengan Dukcapil sehingga proses verifikasi masih dijalankan secara manual, sebagaimana pernah dijelaskan oleh Zudan Arif Fakrullah saat menjabat sebagai Ditjen Dukcapil Kemendagri sebelum digantikan Teguh.
Fenomena fotokopi e-KTP di Tanah Air serta chip NFC pada syal di klub sepak bola Eropa menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, pada April 2026 mengakui bahwa pemanfaatan chip pada e-KTP belum masif sebab terbatasnya infrastruktur card reader dan belum adanya regulasi yang mewajibkan integrasi data. Alhasil, teknologi yang sejak awal dirancang untuk mempermudah proses administrasi belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan malah berujung pada lembaran fotokopi yang jauh dari kata praktis.





















