"Itulah sebabnya kami selaras dengan tujuan Pemerintah Indonesia dalam PP Tunas, dan mengapresiasi pendekatan penilaian mandiri berbasis risiko (risk-based self-assessment) yang diusungnya. Pendekatan ini memberikan insentif untuk terciptanya fitur perlindungan terintegrasi serta pengalaman digital yang sesuai dengan usia bagi kaum muda, daripada menerapkan pelarangan secara menyeluruh," kata perusahaan dalam blog resminya.
YouTube untuk Usia di Bawah 16 Tahun Dibatasi, Google Beberkan Efeknya

- Google dan YouTube mendukung pendekatan penilaian mandiri berbasis risiko dalam PP Tunas, menekankan perlindungan digital sesuai usia tanpa pelarangan menyeluruh bagi pengguna di bawah 16 tahun.
- Fitur seperti pengaturan waktu tayangan Shorts, verifikasi usia berbasis AI, serta kontrol Family Link memperkuat peran orang tua dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan digital anak-anak.
- YouTube menilai pembatasan total akun di bawah 16 tahun berpotensi menghambat akses pendidikan dan ekonomi digital, sehingga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem aman dan inklusif.
Selama lebih dari satu dekade, Google dan YouTube telah berinvestasi dalam berbagai teknologi dan sistem perlindungan yang menjaga keamanan generasi muda di dalam dunia digital, bukan membatasi mereka dari dunia tersebut.
FItur-fitur yang telah dan akan dimiliki
Raksasa teknologi ini diklaim telah membangun berbagai pengalaman digital secara cermat dan bertanggung jawab yang disesuaikan dengan setiap tahapan perkembangan anak. Regulasi yang efektif seharusnya menghargai perbedaan tahapan perkembangan anak dan remaja sesuai usianya dengan memberikan keleluasaan bagi orang tua untuk memilih, daripada langsung menerapkan pelarangan menyeluruh (blanket ban).
Pendekatan ini telah terbukti efektif bagi keluarga di Indonesia di mana 92 persen orang tua di Indonesia yang menggunakan fitur pengawasan setuju bahwa fitur-fitur ini menghadirkan lingkungan digital yang lebih aman dan terkontrol. Fitur-fitur yang mereka miliki kian menempatkan orang tua di Indonesia sebagai pemegang kendali utama:
- Pengaturan waktu tayangan di YouTube Shorts hingga nol: Fitur baru dan pertama di industri yang memungkinkan orang tua mengatur durasi waktu anak-anak mereka saat menonton atau scrolling YouTube Shorts, hingga menjadi nol.
- Verifikasi usia (age assurance): Perusahaan akan meluncurkan teknologi inferensi usia berbasis AI di Indonesia, jauh sebelum tenggat waktu penerapan PP Tunas pada Maret 2027. Teknologi ini memungkinkan untuk memberikan perlindungan yang tepat untuk remaja secara otomatis.
- Penguncian waktu layar melalui Family Link: Terlepas dari usia anak, orang tua dapat mengatur jadwal "Waktu Sekolah", penguncian layar jarak jauh, pengingat khusus untuk "Istirahat Sejenak" (Take a Break) dan waktu tidur, serta memantau penggunaan aplikasi untuk menetapkan aturan dasar digital yang sehat.
- Perlindungan kesejahteraan digital (digital wellbeing): Khusus untuk pengguna di bawah umur 18 tahun, fitur perlindungan bawaan di YouTube mencakup pengingat “Istirahat Sejenak” (Take a break), penonaktifan notifikasi setelah pukul 22.00, dan penonaktifan fitur Putar Otomatis (Autoplay).
"Pembatasan akun secara menyeluruh bagi pengguna di bawah 16 tahun justru akan membuat kaum muda yang mengakses YouTube kehilangan berbagai perlindungan, kontrol orang tua, serta fitur keamanan yang telah kami integrasikan ke dalam akun yang diawasi (supervised accounts)," lanjutnya.
Berisiko ciptakan kesenjangan pengetahuan

Dari ruang kelas hingga ruang keluarga, YouTube menjadi ruang belajar terbuka terbesar di Indonesia. Platform ini mendemokratisasi akses terhadap pembelajaran dan keterampilan kerja kelas dunia, tanpa terhambat oleh batasan geografis.
Menghapus akun pengguna di bawah 16 tahun secara menyeluruh berisiko menciptakan kesenjangan pengetahuan, serta menghalangi hak siswa di desa-desa terpencil untuk mendapatkan kesetaraan akses dalam belajar yang sama dengan mereka yang berada di kota besar.
Mengingat 90 persen orang tua di Indonesia setuju bahwa YouTube membuat pembelajaran lebih mudah diakses, pembatasan ini dapat menghambat pemerataan pendidikan bagi generasi mendatang.
Ekosistem ini ditenagai oleh para pendidik lokal. Sejak 2020, inisiatif Akademi Edukreator telah mendukung para guru-kreator dalam membangun kurikulum digital yang aman dan inklusif. Saat ini, 96 persen guru di Indonesia yang menggunakan platform mereka telah mengintegrasikan konten YouTube ke dalam rencana pembelajaran (RPP) formal.
"Dampak dari para Edukreator ini meluas jauh melampaui ruang kelas. mereka menggerakkan ekosistem digital yang menciptakan lapangan kerja dan menyumbang triliunan rupiah bagi PDB Indonesia. Dengan membatasi akses atau menerapkan sistem pembatasan usia (age-gating) pada platform ini, kita berisiko menghambat laju mesin ekonomi yang sangat vital ini," lanjutnya.
Dibanding pembatasan, hal ini yang disarankan
Melindungi generasi muda memerlukan upaya ekosistem yang menyeluruh. Itulah sebabnya perusahaan mempelopori berbagai inisiatif lokal yang membangun ketahanan komunitas dan berlandaskan pada panduan para ahli.
- Memberdayakan garda terdepan pendidikan: Berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mereka meluncurkan program percontohan untuk melatih 2.500 guru bimbingan konseling (BK) dalam menghadapi tantangan lokal seperti ketergantungan smartphone serta mendukung kesehatan mental remaja.
- Panduan Ahli bagi Keluarga: Bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan Universitas Indonesia, YouTube menyusun Buku Panduan Kesejahteraan Digital (Digital Wellbeing Guidebook) untuk memberikan panduan kelas dunia yang relevan secara budaya bagi keluarga di Indonesia.
- Ketahanan Berbasis Komunitas: Melalui program Youth Champions bersama Kemenko PMK, mereka akan melatih para advokat muda untuk memimpin dialog keamanan antar teman sebaya (peer-to-peer), guna membangun ketahanan digital secara menyeluruh.
"Kami mendorong pemerintah untuk terus melibatkan partisipasi yang bermakna dan transparan dari seluruh sektor industri guna menciptakan kerangka kerja berbasis risiko yang kontekstual. Kerangka kerja seperti inilah yang dibutuhkan agar dapat mengatasi bahaya daring secara nyata, sembari tetap menjaga akses terhadap informasi dan peluang digital bagi masa depan Indonesia," YouTube mengatakan.
Seiring dengan langkah Indonesia dalam mengimplementasikan PP Tunas, perusahaan mengaku siap untuk berpartisipasi melalui pendekatan penilaian mandiri (self-assessment) sebagaimana diatur dalam regulasi tersebut, guna menunjukkan ketegasan standar keamanan yang telah lama mereka jalankan


















