5 Desa Terapung di Asia Tenggara yang Masih Dihuni, Unik dan Memikat!

Asia Tenggara dikenal sebagai kawasan yang kaya akan budaya, tradisi, dan bentang alam yang luar biasa beragam. Di antara banyak destinasi menarik yang tersebar di wilayah ini, terdapat sejumlah desa terapung yang telah menjadi rumah bagi masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun. Kehidupan yang berlangsung di atas air tersebut menghadirkan pemandangan yang unik sekaligus menunjukkan kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan.
Meski dunia terus mengalami modernisasi, beberapa desa terapung di Asia Tenggara masih mempertahankan cara hidup tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Rumah-rumah yang berdiri di atas tiang atau rakit, aktivitas ekonomi yang bergantung pada perairan, hingga budaya lokal yang tetap lestari menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kalau tertarik mengenal sisi lain kehidupan masyarakat pesisir dan perairan Asia Tenggara, yuk simak daftar berikut.
1. Desa Bajo Mola, Indonesia

Wakatobi memiliki Desa Bajo Mola yang menjadi salah satu permukiman terapung paling terkenal di Indonesia. Desa ini dihuni oleh suku Bajo yang dikenal sebagai masyarakat pelaut dengan kemampuan beradaptasi luar biasa terhadap kehidupan laut. Rumah-rumah mereka berdiri di atas tiang kayu yang tertancap di perairan dangkal dan membentuk komunitas yang unik.
Kehidupan masyarakat Bajo sangat erat dengan laut karena sebagian besar aktivitas ekonomi bergantung pada hasil perikanan. Anak-anak tumbuh dengan budaya maritim yang kuat, sementara tradisi nenek moyang tetap dijaga hingga kini. Keindahan laut Wakatobi yang berpadu dengan kehidupan tradisional masyarakat Bajo menjadikan desa ini terlihat sangat memikat sekaligus autentik.
2. Kampong Ayer di Brunei Darussalam

Kampong Ayer merupakan salah satu desa terapung paling terkenal di Asia Tenggara dan sering dijuluki sebagai "Venesia dari Timur". Desa ini berada di atas Sungai Brunei dan telah dihuni selama lebih dari seribu tahun oleh masyarakat setempat. Keberadaannya menjadi bukti bahwa kehidupan di atas air dapat berkembang menjadi komunitas yang besar dan terorganisasi dengan baik.
Menariknya, Kampong Ayer bukan sekadar kumpulan rumah kayu sederhana di atas sungai. Kawasan ini telah dilengkapi sekolah, masjid, pusat kesehatan, hingga jaringan listrik yang menunjang kehidupan modern masyarakatnya. Perpaduan antara tradisi dan fasilitas masa kini membuat desa terapung ini terlihat unik sekaligus memikat bagi siapa saja yang berkunjung.
3. Kompong Phluk di Kamboja

Kompong Phluk merupakan desa terapung yang berada di sekitar Danau Tonle Sap, danau terbesar di Kamboja. Desa ini terkenal dengan rumah-rumah panggung yang menjulang tinggi untuk menyesuaikan perubahan ketinggian air sepanjang tahun. Saat musim hujan tiba, sebagian besar wilayah desa akan dikelilingi air sehingga perahu menjadi sarana transportasi utama masyarakat.
Keindahan Kompong Phluk gak hanya terletak pada rumah-rumahnya yang unik, tetapi juga pada hutan bakau yang mengelilingi kawasan tersebut. Pemandangan pepohonan yang tumbuh di tengah perairan menciptakan suasana yang terasa eksotis dan berbeda dari desa pada umumnya. Kehidupan masyarakat yang masih bergantung pada hasil danau juga memberikan gambaran menarik tentang budaya lokal yang tetap bertahan hingga saat ini.
4. Koh Panyee di Thailand

Koh Panyee adalah desa terapung yang berada di Teluk Phang Nga, Thailand Selatan. Desa ini didirikan oleh komunitas nelayan Muslim dan hingga kini masih menjadi tempat tinggal bagi ratusan keluarga. Lokasinya yang berada di tengah laut dengan latar tebing batu kapur menjadikan pemandangannya sangat memukau.
Salah satu hal yang membuat Koh Panyee terkenal adalah lapangan sepak bola terapung yang dibangun oleh penduduk setempat. Fasilitas tersebut lahir dari kreativitas masyarakat yang ingin tetap berolahraga meski memiliki keterbatasan lahan. Selain menawarkan panorama alam yang indah, desa ini juga memperlihatkan semangat komunitas yang kuat dan inspiratif.
5. Chong Kneas di Kamboja

Chong Kneas merupakan desa terapung lain yang berada di kawasan Danau Tonle Sap, Kamboja. Desa ini dikenal karena hampir seluruh aktivitas masyarakat berlangsung di atas air, mulai dari tempat tinggal hingga kegiatan ekonomi. Perubahan musim yang memengaruhi tinggi permukaan air membuat kehidupan di desa ini terus beradaptasi sepanjang tahun.
Selain rumah-rumah terapung, Chong Kneas juga memiliki sekolah, pasar, dan tempat ibadah yang berada di atas perairan. Kondisi tersebut menciptakan pemandangan yang sangat berbeda dibanding permukiman daratan pada umumnya. Keunikan inilah yang membuat Chong Kneas menjadi salah satu destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin melihat kehidupan tradisional masyarakat perairan dari dekat.
Desa-desa terapung di Asia Tenggara menunjukkan bahwa manusia mampu menciptakan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan perairan. Keberadaan komunitas tersebut juga menjadi cerminan kekayaan budaya dan tradisi yang masih bertahan hingga sekarang. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, desa terapung tetap menjadi warisan unik yang layak dijaga dan diapresiasi.


















