Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kawasan Retro di Incheon, Jejak Kota Pelabuhan yang Penuh Cerita

5 min read
5 Kawasan Retro di Incheon, Jejak Kota Pelabuhan yang Penuh Cerita
Incheon Chinatown, Korea Selatan (commons.wikimedia.org/Mobius6)
  • Pembukaan Pelabuhan Incheon pada 1883 membentuk identitas kota melalui pengaruh asing yang masih terlihat pada bangunan, jalan, pasar, dan bekas permukiman bersejarah.
  • Gaehangjang, Japanese Street, dan Chinatown merekam jejak konsulat, arsitektur Jepang, serta komunitas Tionghoa yang berkembang bersama perdagangan dan migrasi di Incheon.
  • Baedari Secondhand Bookstore Alley dan Gyodongdo Daeryong Market mempertahankan suasana nostalgia melalui toko buku, mural, gang pasar, serta sejarah pengungsi Perang Korea.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Incheon mungkin lebih familier sebagai kota tempat berdirinya salah satu bandara internasional tersibuk di Korea Selatan, tetapi wajah kota ini jauh lebih berlapis daripada sekadar gerbang menuju Seoul. Pembukaan Pelabuhan Incheon pada 1883 membawa pengaruh budaya dan arsitektur dari berbagai negara yang jejaknya masih dapat ditemukan di sejumlah sudut kota hingga sekarang. Bangunan tua, gang pertokoan, pasar tradisional, dan kawasan bekas permukiman asing membuat perjalanan menyusuri Incheon terasa seperti membuka album sejarah kota pelabuhan.

Menariknya, atmosfer masa lalu tersebut gak hanya tersimpan di museum karena beberapa kawasan lawas masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Ada jalan dengan bangunan kayu bergaya Jepang, lorong toko buku bekas, sampai pasar yang seolah membawa suasana Korea beberapa dekade ke belakang. Kalau tertarik melihat sisi Incheon yang jauh berbeda dari gedung modern Songdo, yuk telusuri lima kawasan retro berikut ini.

  1. 1. Gaehangjang open port area

    Gaehangjang Open Port Area, Korea Selatan
    Gaehangjang Open Port Area, Korea Selatan (commons.wikimedia.org/Kim Jiyeon)

    Gaehangjang Open Port Area menjadi salah satu kawasan terbaik untuk memahami perubahan Incheon setelah pelabuhannya dibuka pada 1883. Area bersejarah ini masih menyimpan berbagai bangunan yang berkaitan dengan periode keterbukaan pelabuhan, termasuk bekas kantor konsulat Jepang, bangunan bank, Incheon Art Platform, dan Jemulpo Club. Deretan peninggalan tersebut membuat suasana jalanannya terasa seperti museum terbuka yang mempertemukan sejarah Korea dengan berbagai pengaruh asing.

    Nuansa retronya semakin terasa karena kawasan ini gak sepenuhnya berubah menjadi area museum yang kaku. Sejumlah bangunan lama kini berdampingan dengan kafe dan ruang budaya, sehingga jejak masa lalu tetap terasa dekat dengan kehidupan kota masa kini. Wisatawan yang menyukai fotografi arsitektur juga bisa menemukan banyak sudut yang menyerupai latar film periode dengan detail bangunan yang khas.

  2. 2. Incheon Japanese Street

    Incheon Japanese Street, Korea Selatan
    Incheon Japanese Street, Korea Selatan (commons.wikimedia.org/Jjw)

    Incheon Japanese Street menawarkan gambaran lain dari sejarah kota pelabuhan melalui peninggalan bekas kawasan konsesi Jepang. Kawasan ini berkembang setelah pembukaan pelabuhan pada 1883 dan masih mempertahankan sejumlah rumah kayu serta struktur batu bergaya Jepang. Beberapa bangunan memiliki bentuk khas berupa tempat usaha yang menyatu dengan hunian, sebuah detail arsitektur yang langsung membawa suasana jalanan menuju periode berbeda.

    Sebagian bangunan tua tersebut telah mendapat fungsi baru sebagai kafe dan ruang pameran tanpa sepenuhnya kehilangan karakter aslinya. Lokasinya juga berdekatan dengan Chinatown dan Gaehangjang Open Port Area, sehingga perjalanan menyusuri sejarah Incheon dapat dilakukan dalam satu kawasan yang relatif terhubung. Perubahan karakter arsitektur dari satu jalan ke jalan lainnya membuat area ini terasa menarik untuk dijelajahi perlahan.

  3. 3. Incheon Chinatown

    Incheon Chinatown, Korea Selatan
    Incheon Chinatown, Korea Selatan (commons.wikimedia.org/Mobius6)

    Incheon Chinatown lahir dari perubahan besar yang terjadi setelah Pelabuhan Incheon dibuka pada 1883 dan kawasan tersebut menjadi tempat bermukim komunitas Tionghoa. Pada masa lalu, area ini dipenuhi toko yang memperdagangkan berbagai barang impor dari Tiongkok, sementara sekarang restoran menjadi salah satu bagian paling menonjol dari kawasan tersebut. Budaya generasi awal komunitas Tionghoa tetap meninggalkan identitas kuat yang membedakannya dari kawasan lain di Incheon.

    Berjalan di antara gerbang, bangunan, dan berbagai ornamen khas di kawasan ini memberi gambaran tentang pertemuan budaya yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Chinatown juga terhubung dengan sejumlah titik bersejarah seperti Jayu Park, Jemulpo Club, dan bangunan modern awal yang menjadi bagian dari perjalanan kota pelabuhan. Karena itu, kawasan ini gak sekadar menarik secara visual, tetapi juga menyimpan cerita tentang bagaimana perdagangan dan migrasi membentuk identitas Incheon.

  4. 4. Baedari Secondhand Bookstore Alley

    Baedari Secondhand Bookstore Alley, Korea
    Baedari Secondhand Bookstore Alley, Korea (commons.wikimedia.org/메이)

    Baedari Secondhand Bookstore Alley menghadirkan atmosfer retro melalui deretan toko buku bekas yang erat dengan kehidupan masyarakat Incheon pada masa lalu. Gang ini masih memiliki beberapa toko yang menawarkan buku dari beragam kategori, mulai dari seni, musik, sastra anak, sampai kamus. Mural yang menggambarkan kehidupan zaman dahulu turut mempertegas kesan nostalgia sejak memasuki kawasan tersebut.

    Suasana sederhananya justru menjadi daya tarik karena Baedari terasa jauh dari citra metropolitan Korea Selatan yang identik dengan gedung tinggi dan teknologi. Lorong sempit, rak penuh buku lama, dan ruang budaya kecil membuat pengalaman menjelajah terasa lebih personal sekaligus autentik. Popularitas kawasan ini juga bertambah setelah menjadi lokasi pengambilan gambar drama Guardian: The Lonely and Great God, sehingga pencinta drama Korea mungkin merasa familier dengan beberapa sudutnya.

  5. 5. Gyodongdo Daeryong Market

    ilustrasi Gyodongdo Daeryong Market, Korea
    ilustrasi Gyodongdo Daeryong Market, Korea (unsplash.com/Luo Jin Hong)

    Gyodongdo Daeryong Market membawa nuansa retro Incheon menuju periode yang lebih dekat dengan kehidupan Korea pada pertengahan abad ke-20. Pasar ini tumbuh ketika warga dari Yeonbaek-gun, Hwanghae-do, mengungsi ke Pulau Gyodongdo selama Perang Korea dan membangun tempat berdagang untuk mempertahankan kehidupan mereka. Jejak sejarah tersebut masih terasa melalui gang pasar yang kini dikenal memiliki tampilan menyerupai latar film Korea era 1960-an.

    Pesonanya terletak pada suasana pasar sederhana dengan mural, papan toko, dan berbagai elemen nostalgia yang terasa berbeda dari pusat Incheon modern. Gyodongdo sendiri dikenal sebagai tempat yang mempertahankan atmosfer dekade 1960-an dan 1970-an, terutama melalui pasar serta bangunan sekolahnya. Meski lokasinya lebih jauh karena berada di wilayah Ganghwa-gun, perjalanan ke sini menawarkan pengalaman retro yang punya hubungan kuat dengan sejarah perpindahan penduduk dan kehidupan masyarakat Korea setelah perang.

    Incheon memperlihatkan bahwa identitas kota pelabuhan gak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi juga bertahan melalui jalan, pasar, dan bangunan yang masih dapat dijelajahi sampai sekarang. Setiap kawasan memiliki lapisan cerita berbeda, mulai dari kedatangan komunitas asing setelah pembukaan pelabuhan hingga kehidupan pengungsi yang membentuk sebuah pasar di Pulau Gyodongdo. Menyusuri kawasan-kawasan retro tersebut bisa menjadi cara menarik untuk mengenal Incheon dari sisi yang lebih intim, nostalgis, dan penuh cerita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More