Deretan Desa Adat yang Masih Tersisa di Indonesia, Pernah ke Sini?

- Kebakaran hebat di Desa Sade, Lombok, menyoroti kerentanan warisan budaya dan arsitektur tradisional di tengah modernisasi, sehingga pelestarian desa adat menjadi penting.
- Desa Kanekes, Kampung Naga, dan Penglipuran mempertahankan tradisi melalui batasan modernisasi, arsitektur alami, tata permukiman khas, serta kehidupan warga yang berlandaskan kearifan lokal.
- Wae Rebo, Kete Kesu, dan Ratenggaro menawarkan rumah adat, situs budaya, serta lanskap khas; pengunjung diminta mematuhi aturan adat, menjaga kebersihan, dan menghormati nilai lokal.
Peristiwa kebakaran hebat yang melanda Desa Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (22/8/2026) menjadi duka mendalam, sekaligus pengingat berharga bagi kita semua. Musibah tersebut memperlihatkan betapa rentannya warisan budaya dan arsitektur tradisional peninggalan leluhur terhadap ancaman kepunahan.
Di tengah gempuran modernisasi yang masif seperti saat ini, keberadaan desa adat yang masih melestarikan tradisinya pun menjadi "harta karun" yang sangat bernilai dan patut dijaga bersama. Desa-desa tersebut tak hanya menawarkan "museum hidup," tetapi juga pengalaman untuk mempelajari kearifan lokal yang dijaga selama berabad-abad.
Jika kamu merencanakan liburan yang bermakna, sekaligus ingin merasakan atmosfer kehidupan masa lalu yang autentik, mengunjungi desa-desa tradisional bisa menjadi pilihan terbaik. Berikut rekomendasi desa adat yang masih tersisa di Indonesia yang menarik dikunjungi untuk mengenal budaya dan memahami sejarah masa lalu secara lebih dekat.
1. Desa Kanekes, Lebak, Banten

Potret Desa Kanekes di Lebak, Banten (IDN Times/Muhamad Iqbal) Terletak di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, Desa Kanekes merupakan desa adat yang dihuni Suku Baduy. Mereka terbagi menjadi dua golongan, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Orang-orang Baduy Dalam secara konsisten menolak pengaruh teknologi modern, listrik, hingga penggunaan kendaraan bermotor demi menjaga amanah leluhur. Sementara itu, warga Baduy Luar lebih terbuka, meski tetap ada batasan yang dijaga. Misalnya seperti boleh keluar wilayah untuk berdagang atau membeli kebutuhan sehari-hari.
Saat berkunjung ke sini, kamu akan disambut lanskap perbukitan yang hijau, barisan rumah panggung berbahan kayu dan bambu, serta aliran sungai jernih yang membelah kawasan pemukiman.
Kamu juga bisa berinteraksi langsung dengan warga lokal yang ramah, menyaksikan proses menenun kain tradisional, hingga mempelajari kearifan masyarakat Baduy dalam menjaga kelestarian hutan adat secara turun-temurun.
2. Kampung Naga

Potret Kampung Naga (commons.wikimedia.org/Arabsalam) Kampung Naga tersembunyi di dalam lembah subur kawasan Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakat yang terdiri dari Suku Sunda mendiami kawasan ini dan masih memegang teguh ajaran para leluhur.
Mereka menolak modernisasi, seperti tidak menggunakan listrik dan bahan bangunan modern demi menjaga keseimbangan alam sekitar. Seluruh bangunan di kampung ini dibangun menggunakan material alami, seperti bambu, kayu, dan atap dari daun nipah atau ijuk.
Untuk menuju ke Kampung Naga, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga batu di tepi sungai yang jernih. Suasana kehidupan pedesaan yang tenang, pemandangan hamparan sawah berundak, dan keramahan warga lokal membuat kunjungan ke sini makin berkesan.
3. Desa Adat Penglipuran

Potret Desa Penglipuran di Bangli, Bali (unsplash.com/satria setiawan) Bergeser ke Pulau Dewata, Desa Adat Penglipuran yang terletak di wilayah Bangli dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Pemukiman warga di desa ini tersusun rapi dan membentang dari utara ke selatan. Setiap gerbang rumah warga memiliki arsitektur angkul-angkul yang seragam, jalanan desa yang bebas dari kendaraan bermotor, serta pekarangan bunga yang tertata asri di sepanjang lorong utama.
Atmosfer di Desa Penglipuran terasa sangat tenang, sejuk, dan ramah bagi para wisatawan dari berbagai kalangan. Selain menikmati keindahan arsitektur dan kebersihan kawasannya, kamu juga bisa mencicipi kuliner khas setempat di restoran yag ada di sana, belajar membuat kerajinan tangan, hingga menginap di rumah warga.
4. Desa Adat Wae Rebo

Potret Desa Adat Wae Rebo (unsplash.com/Ash Hayes) Berada di dataran tinggi dan pedalaman Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Adat Wae Rebo sering dijuluki sebagai "desa di atas awan." Daya tarik utama dari desa adat ini adalah tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang. Rumah-rumah kayu beratap ijuk tersebut telah bertahan selama beberapa generasi dan menjadi tempat tinggal bersama bagi warga Suku Manggarai.
Untuk menjangkau Wae Rebo, wisatawan perlu melakukan trekking menanjak dan menembus hutan tropis selama kurang lebih 3-4 jam. Lelahnya perjalanan akan terbayar tuntas saat tiba di padang hijau dan disambut secara hangat lewat upacara adat oleh tetua desa, kemudian bisa mengeksplorasi keindahan desa dan menginap di sana.
5. Desa Adat Kete Kesu

Potret Desa Adat Kete Kesu di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (IDN Times/Lia Hutasoi) Terletak di wilayah Toraja Utara, Desa Adat Kete Kesu merupakan cagar budaya yang menyuguhkan kompleks pemukiman kuno Suku Toraja. Di sana terdaat barisan Tongkonan atau umah adat beratap melengkung menyerupai perahu. Rumah-rumah tersebut dibuat dengan ukiran kayu yang sarat makna dan deretan tanduk kerbau yang dipajang di bagian depan bangunan.
Selain arsitektur Tongkonan yang megah, Kete Kesu juga terkenal dengan situs pemakaman tebing batu purba yang berusia ratusan tahun. Di sini, wisatawan dapat melihat peti mati gantung (erong) dan patung kayu pengganti jenazah (tau-tau).
6. Desa Adat Ratenggaro

Kampung Adat Ratenggaro (commons.wikimedia.org/Allwyn Wawyn) Terletak di pesisir Kabupaten Sumba Barat Daya, Desa Adat Ratenggaro menyuguhkan pemandangan eksotis berupa perpaduan kebudayaan megalitikum dan lanskap samudra yang megah. Ciri khas utama desa ini adalah deretan rumah adat bernama Uma Kelada yang memiliki atap menara ijuk dan menjulang tinggi hingga mencapai 15–30 meter.
Di sekitar pemukiman warga, terdapat puluhan kubur batu tua peninggalan era megalitikum dan masih dikeramatkan. Suasana di Ratenggaro terasa sangat magis dengan latar belakang muara sungai dan deburan ombak pantai selatan. Wisatawan yang berkunjung ke sini bisa menyewa kuda untuk berkeliling desa, berfoto mengenakan kain tenun Sumba yang indah, serta menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Nah, itu dia deretan desa adat yang bisa kamu kunjungi untuk mengenal budaya Indonesia lebih dekat, sekaligus turut melestarikannya. Selalu patuhi aturan adat setempat, jaga kebersihan, dan hormati nilai-nilai lokal di mana pun kamu berkunjung, ya!












![[QUIZ] Destinasi Wisata Pilihanmu Bisa Ungkap Caramu Menghadapi Masalah Lho!](https://image.idntimes.com/post/20250530/felipe-souza-xhyg0crzreu-unsplash-8656588e425b787fe5f397b37ec60c04-ce75b184aded703d214c95c563f1f71b.jpg)
![[QUIZ] Dari Series Upin Ipin Favoritmu, ke Mana Kamu akan Liburan?](https://image.idntimes.com/post/20250603/screenshot-20250603-112950-youtube-5857d0eeb251b500a35866248bd9abd3.jpg)





