Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Desa Sade, Warisan Budaya Nusantara yang Tinggal Kenangan

Desa Sade, Warisan Budaya Nusantara yang Tinggal Kenangan
Potret Desa Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (IDN Times/Sunariyah)
  • Kebakaran hebat pada 22 Agustus 2026 melanda Desa Adat Sade di Lombok, permukiman Sasak berusia lebih dari lima abad yang menjadi ikon wisata dan warisan budaya Indonesia.
  • Api menghancurkan rumah-rumah Bale dan Bale Lumbung, termasuk simbol filosofi hidup, tata krama, serta penyimpanan pangan tradisional masyarakat Sasak.
  • Alat tenun, songket, pusaka, naskah kuno, dan atmosfer perkampungan autentik turut hilang; penyelamatan sisa fisik serta dokumentasi pengetahuan tetua adat diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Peristiwa kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) mengiris hati banyak orang. Bagaimana tidak, desa yang dihuni Suku Sasak ini merupakan ikon wisata Pulau Lombok dan menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia yang dijaga secara turun-temurun selama lebih dari lima abad.

Saat berkunjung ke sini, wisatawan akan disambut pemandangan rumah-rumah tradisional berlantaikan tanah dan beratapkan ilalang atau ijuk kering. Suku Sasak tinggal di rumah-rumah tersebut dan melakukan kegiatan sehari-hari di sana seperti masyarakat Indonesia pada umumnya.

Peristiwa kebakaran di Desa Adat Sade telah "menghilangkan" banyak hal yang sudah dijaga dengan penuh perjuangan dari generasi ke generasi. Apa saja itu? Simak ulasan lengkap IDN Times berikut ini, yuk!

  1. 1. Rumah adat Bale yang sarat akan filosofi hidup

    Wisatawan mancanegara berkunjung ke Desa Wisata Adat Sade Lombok Tengah, Jumat (23/5/2025)
    Wisatawan mancanegara berkunjung ke Desa Wisata Adat Sade Lombok Tengah, Jumat (23/5/2025) (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Rumah Adat Bale merupakan daya tarik utama Desa Sade yang sarat akan filosofi hidup. Rumah tersebut memiliki nama dan fungsi masing-masing. Seperti Bale Tani sebagai tempat tinggal masyarakat umum atau petani, Bale Jajar dihuni warga dengan status ekonomi menengah ke atas, Bale Bonter untuk tempat tinggal pejabat desa atau tempat pertemuan, dan Bale Beleq menjadi kediaman kepala adat atau tokoh masyarakat.

    Dinding rumah Bale terbuat dari anyaman bambu dan atapnya dari ilalang atau ijuk kering. Setiap rumah hanya memiliki satu pintu dan tanpa jendela. Pintu dibuat rendah, agar setiap tamu atau penghuni menundukkan kepala saat masuk. Hal ini merupakan wujud tata krama dan hormat kepada pemilik rumah.

    Lantai rumah adat Bale terbuat dari tanah, tidak dilapisi tegel maupun keramik. Lantai tersebut rutin dipel atau dilapisi kotoran kerbau atau sapi yang dicampur abu. Cara ini diyakini bisa menguatkan lantai agar padat dan kokoh, mencegah keretakan, mengusir nyamuk dan serangga, dan meminimalisir debu.

    Kini pemandangan rumah-rumah Bale di Desa Sade tidak bisa ditemukan lagi, atau setidaknya selama beberapa tahun ke depan kalau pun ada upaya rekonstruksi dari pemerintah. Desa ini pun seakan kehilangan "karakter" utamanya.

  2. 2. Bale Lumbung sebagai simbol rasa syukur

    Desa Adat Sade sebelum hangus terbakar pada Sabtu, 22/8/2026. (IDN Times/Ernia Karina)
    Potret wisatawan berfoto di Desa Adat Sade sebelum hangus terbakar (IDN Times/Ernia Karina)

    Selain yang disebutkan di atas, ada satu lagi bale yang punya fungsi tak kalah penting, yakni Bale Lumbung. Struktur bale ini berupa panggung, atapnya menyerupai payung terbalik atau gunungan, dan bangunannya menggembung di bagian tengah. 

    Sesuai dengan namanya, Bale Lumbung berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen dan bahan pangan, seperti padi dan biji-bijian. Jika disimpan di sini, bahan-bahan tersebut aman dari hama dan kelembapan, serta awet dalam jangka waktu lama.

    Hal ini menunjukkan bahwa Suku Sasak memiliki konsep ketahanan pangan yang sangat baik sejak ratusan tahun lalu. Api yang berkobar telah meruntuhkan simbol ketahanan pangan itu beserta isinya. Hanya tersisa puing-puing yang kini berpelukan dengan tanah.

  3. 3. Wastra dan alat tenun tradisional

    Desa Adat Sade sebelum hangus terbakar pada Sabtu, 22/8/2026. (IDN Times/Linggauni)
    Potret wisatawan belajar menenun bersama warga lokal di Desa Adat Sade sebelum hangus terbakar (IDN Times/Linggauni)

    Para perempuan di Desa Sade memiliki keterampilan menenun kain songket yang diajarkan secara turun-temurun dari nenek moyang. Kegiatan menenun ini menjadi daya tarik wisata yang ditampilkan di desa ini.

    Wisatawan bisa menyaksikan mereka secara langsung di teras bale. Kain-kain yang sudah jadi kemudian dipajang di sekeliling bale dan artshop untuk dijual langsung kepada wisatawan, terutama para pencinta wastra.

    Selain keterampilan, alat tenun yang digunakan untuk merangkai benang menjadi sebuah mahakarya ini juga sudah cukup tua. Alat-alat tersebut tak hanya berperan dalam melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menjadi penyambung hidup masyarakat. Generasi muda bisa mengenyam pendidikan terbaik dari hasil keringat ibu mereka.

    Kini, alat tenun, gulungan benang dengan pewarna alami, lembaran kain songket yang sedang atau telah selesai dikerjakan warga turut terbakar. Tak hanya materi yang hilang, tetapi juga hasil karya seni autentik dan yang bernilai tinggi pupus sekejap mata.

  4. 4. Benda pusaka dan naskah peninggalan leluhur

    Potret keindahan Desa Adat Sade sebelum hangus terbakar pada Sabtu (22/8/2026)
    Potret keindahan Desa Adat Sade sebelum hangus terbakar pada Sabtu (22/8/2026). (IDN Times/Linggauni)

    Melasir berita di berbagai sumber, benda-benda pusaka, naskah, dan warisan budaya masyarakat Sasak yang memiliki nilai spiritual tinggi juga ikut dilalap si jago merah. Umumnya, benda-benda tersebut disimpan di rumah masing-masing dan diwariskan secara turun-temurun. Di antaranya seperti keris, klewang, tombak, peralatan seni Peresean, gendang beleg, gong ritual, hingga naskah berbahasa Sansekerta.

    Hilangnya benda-benda tersebut menjadi pukulan telak bagi bangsa Indonesia. Warisan yang sangat berharga, terutama naskah dan manuskrip kuno yang terbakar, tidak bisa diperbaharui lagi. Masyarakat dengan dukungan pemerintah harus segera menyelamatkan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik secara fisik maupun non-fisik.

    Penyelamatan fisik dilakukan dengan mencari sisa-sisa reruntuhan, seperti sisa kain tenun, benda pusaka, dan naskah atau manuskrip kuno yang hangus. Sedangkan, penyelamatan non-fisik berupa pendokumentasian ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional langsung dari para tetua adat.

  5. 5. Suasana dan atmosfer asli dari perkampungan kuno

    Kondisi Desa Adat Sade Lombok Tengah yang ludes terbakar dan rata dengan tanah, Minggu (23/8/2026).
    Kondisi Desa Adat Sade Lombok Tengah yang ludes terbakar dan rata dengan tanah, Minggu (23/8/2026) (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Desa Sade bukan hanya sekadar tempat masyakarat Sasak bermukim, tetapi juga ruang hidup untuk menjalankan tradisi dan menggerakkan roda ekonomi. Peristiwa kebakaran yang melanda desa ini menjadi pukulan telak bagi bangsa Indonesia, karena telah kehilangan salah satu wilayah perkampungan kuno yang autentik.

    Proses rekonstruksi untuk mengembalikan bangunan dan atmosfer desa ini secara utuh tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, ada hal yang akan terus diingat dan dibawa oleh masyarakat Sasak pascakebakaran, yakni trauma, rasa kehilangan, dan rasa bersalah kepada leluhur. Warisan yang mereka jaga selama berabad-abad habis dalam waktu semalam.

    Peristiwa kebakaran bukan hanya meluluhlantakkan rumah, tetapi juga harapan yang selama ini dipupuk masyarakat Sasak yang telah menjaga warisan budaya dengan sepenuh hati dari abad ke abad. Puing-puing asa dan doa kini dilangitkan, agar mereka lekas bangkit.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More