Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarah Glico Man, Ikon Neon Legendaris di Dotonbori Osaka

4 min read
Sejarah Glico Man, Ikon Neon Legendaris di Dotonbori Osaka
ilustrasi Glico Man di Dotonbori, Osaka (unsplash.com/miram Oh)
  • Glico Man pertama hadir pada 1935 sebagai iklan Glico Caramel, membawa pesan energi, kesehatan, dan semangat berlari melalui figur yang terinspirasi atlet Fortunato Catalon.
  • Papan reklame ini sempat dibongkar pada 1943 untuk kebutuhan perang, lalu kembali pada 1955 dan terus berevolusi hingga generasi LED keenam beroperasi pada Oktober 2014.
  • Berlokasi dekat Jembatan Ebisu di Dotonbori, Glico Man menjadi ikon Osaka dan latar foto populer, terutama sore hingga malam saat cahaya reklame mendominasi kanal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah gemerlap lampu neon dan ramainya kawasan Dotonbori, Osaka, ada satu sosok yang nyaris selalu mencuri perhatian wisatawan. Sosok tersebut adalah seorang pria dengan kedua tangan terangkat, berlari di atas lintasan biru, yang seolah baru saja melewati garis finish. Sosok itu dikenal sebagai Glico Man, papan iklan ikonis yang telah menjadi salah satu simbol paling populer di Osaka, Jepang.

Bagi banyak pelancong, berfoto dengan latar Glico Man sudah seperti ritual kecil saat mengunjungi kota ini. Namun, di balik cahaya yang menyala terang setiap malam, tersimpan kisah panjang tentang sejarah perusahaan, semangat hidup sehat, dan perubahan wajah Osaka dari masa ke masa. Lantas, seperti apa sejarah Glico Man? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini, yuk!

  1. 1. Glico Man Osaka berawal pada tahun 1935

    ilustrasi beberapa papan reklame di Dotonbori, Osaka
    ilustrasi beberapa papan reklame di Dotonbori, Osaka (unsplash.com/Jason Rost)

    Glico Man pertama kali muncul pada 1935 melalui papan reklame yang dipasang oleh Riichi Ezaki, pendiri perusahaan makanan Ezaki Glico. Iklan ini dibuat untuk mempromosikan Glico Caramel, permen karamel yang dikembangkan sebagai sumber energi. Sosok pelari yang mengangkat kedua tangan tersebut terinspirasi dari slogan ikonik “300 meter dalam satu butir”. Slogan ini merujuk pada klaim bahwa energi dari satu butir karamel Glico cukup untuk membantu seseorang berlari sejauh 300 meter. Sementara itu, figur pelarinya disebut terinspirasi dari Fortunato Catalon, atlet lari cepat asal Filipina yang populer pada masa itu.

    Ide di balik sosok pelari tersebut konon sudah muncul sebelum papan reklamenya dibuat. Ezaki disebut mendapat inspirasi saat melihat seorang anak berlari menuju garis finis. Momen itu menggambarkan semangat, kesehatan, dan kebugaran; nilai-nilai yang ingin dihubungkan Ezaki dengan produk buatannya.

    Gagasan tersebut sejalan dengan awal berdirinya Glico. Ezaki mulai memasarkan Glico Caramel kepada publik pada Februari 1922 melalui department store Mitsukoshi di Osaka. Karena itu, Glico Man bukan sekadar figur iklan yang ikonik, melainkan juga representasi filosofi awal perusahaan dalam mengembangkan makanan yang dikaitkan dengan energi dan kesehatan.

  2. 2. Dari papan neon hingga ikon modern Osaka

    ilustrasi spot foto dengan latar Glico Man
    ilustrasi spot foto dengan latar Glico Man (unsplash.com/Buddy AN)

    Perjalanan Glico Man tidak selalu mulus. Sejak pertama kali dipasang, papan reklame ikonik ini telah mengalami beberapa kali perubahan desain dan teknologi. Menurut catatan Pemerintah Kota Osaka, papan generasi pertama dibongkar pada 1943 untuk memenuhi kebutuhan material selama perang. Setelah perang berakhir, Glico Man kembali hadir melalui papan generasi kedua yang dipasang pada 1955.

    Dari generasi ke generasi, tampilan Glico Man terus berkembang, mulai dari penggunaan efek cahaya hingga teknologi yang lebih modern. Meski begitu, ciri khasnya tetap dipertahankan, yaitu sosok pelari yang mengangkat kedua tangan ke atas. Perpaduan antara pembaruan teknologi dan desain yang konsisten membuat Glico Man tetap mudah dikenali dari masa ke masa.

    Perubahan besar terjadi pada Oktober 2014, saat papan generasi keenam mulai beroperasi. Papan ini menggunakan teknologi LED dengan tinggi sekitar 20 meter dan lebar 10,38 meter. Berbeda dari papan neon sebelumnya, layar LED tersebut memungkinkan latar visual berganti-ganti dan menghadirkan pertunjukan cahaya yang lebih dinamis.

    Meski kini tampil lebih modern, sosok pelari Glico Man tetap menjadi elemen utama yang dipertahankan. Identitas visual yang konsisten inilah yang membuatnya tetap dikenal dan menjadi salah satu ikon Osaka lintas generasi.

  3. 3. Mengunjungi Glico Man di Dotonbori, Osaka

    ilustrasi suasana Dotonbori saat malam hari
    ilustrasi suasana Dotonbori saat malam hari (unsplash.com/Juliana Barquero)

    Glico Man berada di kawasan Dotonbori, tepatnya di sekitar Jembatan Ebisu atau Ebisubashi, salah satu titik paling ramai di pusat Osaka. Dotonbori sendiri merupakan destinasi populer yang terkenal dengan papan reklame berukuran besar, restoran, serta kehidupan malam yang semarak.

    Untuk mencapai kawasan ini, kamu dapat menggunakan kereta menuju Stasiun Namba, kemudian berjalan kaki menuju Dotonbori. Lokasinya juga cocok disinggahi saat menjelajahi kawasan belanja Shinsaibashi atau mencari kuliner khas Osaka.

    Waktu sore menjelang malam menjadi pilihan menarik untuk berkunjung. Ketika langit mulai gelap, cahaya papan reklame perlahan mendominasi pemandangan dan pantulannya terlihat di sekitar kanal Dotonbori. Pada saat itulah, Glico Man tampil paling mencolok, menjadi latar foto yang hampir selalu dipenuhi oleh wisatawan.

    Di tengah gemerlap lampu neon Dotonbori, Glico Man Osaka bukan sekadar papan iklan yang menjadi latar foto para wisatawan, melainkan saksi perjalanan panjang kota ini dalam merawat identitasnya. Sejak pertama kali hadir pada tahun 1935, sosok pelari dengan tangan terangkat itu terus bertahan melewati perubahan zaman. Di sekelilingnya, suasana Osaka yang penuh kehidupan mengajak pengunjung untuk menyusuri jalanan yang ramai, mencicipi jajanan lokal, dan melihat bagaimana sebuah simbol komersial tumbuh menjadi bagian dari cerita sebuah kota.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More