Dermaga Taman Nasional Tanjung Puting (commons.wikimedia.org/Ilham Mufti Laksono)
Hari ketiga digunakan untuk perjalanan kembali menuju Kumai sehingga tidak perlu diisi dengan terlalu banyak agenda tambahan. Pagi bisa dimulai dengan sarapan di atas klotok sambil menikmati perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer untuk terakhir kalinya. Suasana perjalanan pulang tetap menarik karena kamu bisa melihat kembali kawasan hutan dari arah berlawanan dengan perjalanan saat masuk.
Sesampainya di Kumai, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Pangkalan Bun. Jika setelah itu kamu harus mengejar penerbangan dari Bandara Iskandar, berikan jeda yang cukup antara perkiraan waktu klotok tiba dan jadwal pesawat. Waktu perjalanan sungai tidak selalu bisa dipastikan sampai hitungan menit karena kondisi sungai, cuaca, serta kecepatan perahu dapat memengaruhi perjalanan.
Untuk durasi 3 hari 2 malam, rute Kumai–Sungai Sekonyer–Tanjung Harapan–Pondok Tanggui–Camp Leakey–Kumai sudah cukup untuk mengenal bagian utama perjalanan di Tanjung Puting dengan klotok. Kamu memang tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi kawasan secara lebih luas, tetapi itinerary ini memungkinkan tiga lokasi penting masuk tanpa membuat perjalanan darat dan sungai terlalu padat. Kamu mesti ingat, jangan membuat jadwal penerbangan pulang terlalu mepet karena perjalanan terakhir dengan klotok tetap membutuhkan waktu dan tidak sebaiknya dikejar-kejar
Itinerary 3 hari tersebut bukan jadwal baku yang berlaku untuk seluruh perjalanan di Tanjung Puting. Waktu keberangkatan, durasi menyusuri sungai, lokasi bermalam, dan jadwal kunjungan ke stasiun orangutan dapat mengikuti pengaturan operator serta ketentuan pengelola taman nasional. Oleh karena itu, tanyakan susunan perjalanan secara rinci ketika memesan klotok, termasuk titik penjemputan, fasilitas tidur, makanan, kamar mandi, tiket masuk, pemandu, dan biaya lain yang termasuk dalam paket.
Kamu juga sebaiknya tidak menjadikan kemunculan orangutan sebagai sesuatu yang pasti terjadi sesuai jadwal. Beberapa lokasi memang memiliki kegiatan pemberian pakan, tetapi satwa liar tetap bisa datang terlambat, tidak muncul, atau berada jauh dari jalur pengunjung. Justru pengalaman menyusuri sungai, tidur di atas klotok, dan melihat hutan hujan dari dekat merupakan bagian yang membuat perjalanan di Tanjung Puting terasa berbeda dari wisata alam biasa.