Kenapa Pendakian Gunung Fuji Tidak Dibuka Sepanjang Tahun?

- Pendakian Gunung Fuji hanya dibuka sekitar Juli–September karena di luar musim panas cuaca ekstrem, suhu bisa di bawah nol derajat, dan angin kencang membahayakan pendaki.
- Risiko cedera meningkat saat jalur tertutup es dan salju, sehingga pengelola membatasi waktu pendakian demi mencegah kecelakaan dan menjaga keselamatan para pendaki.
- Pemerintah Jepang menutup akses resmi serta fasilitas pendakian di luar musim, sesuai aturan keselamatan nasional yang juga melarang aktivitas dari stasiun kelima ke puncak.
Saat pelesir ke Jepang, pastinya melihat Gunung Fuji tidak boleh ketinggalan dalam daftar itinerary, nih. Bahkan, banyak wisatawan dari seluruh dunia tertarik untuk mendaki titik tertinggi Negeri Sakura tersebut. Sayangnya, Gunung Fuji dikenal melalui aturan pendakiannya yang sangat ketat.
Oleh karena itu, pendakian Gunung Fuji tidak dibuka sepanjang tahun. Pihak pengelola hanya mengizinkan wisatawan naik ke gunung tersebut pada waktu-waktu tertentu saja, lho. Kira-kira kenapa, ya? Bagi yang berencana muncak ke Gunung Fuji, cari tahu alasannya lebih dulu lewat ulasan berikut, yuk!
1. Cuaca ekstrem di puncak Gunung Fuji

Tahukah kamu bahwa pendakian Gunung Fuji hanya dibuka saat musim panas sekitar Juli hingga September? Namun, di luar periode tersebut, pihak pengelola akan menutup akses para pendaki ke gunung itu. Cuaca adalah alasan utama Gunung Fuji tidak dibuka sepanjang tahun.
Di luar musim panas, puncak Gunung Fuji mengalami suhu ekstrem dan angin kencang sehingga cukup berisiko bagi para pendaki. Kemudian, saat musim gugur dan musim semi, sekitar Oktober hingga Mei, angin kencang akan menyelimuti puncak Gunung Fuji. Selain itu, suhu sering kali berada di bawah 0 derajat Celsius. Di periode ini, salju pertama biasanya juga akan turun pada pertengahan hingga akhir Oktober.
Sementara itu, musim dingin yang berlangsung dari Desember hingga Februari menjadi puncak musim bersalju dengan suhu sangat dingin. Meski kerap terjadi angin kencang, cuaca pada periode ini cenderung lebih cerah dibandingkan dengan bulan lainnya. Namun, pendakian tetap ditutup dan wisatawan disarankan untuk melihat keindahan Gunung Fuji dari kejauhan.
2. Risiko cedera pendaki yang tinggi

Karena suhu yang ekstrem dan angin kencang, naik ke puncak Gunung Fuji terlalu berbahaya di luar musim panas. Bahkan, jalur pendakian yang tertutup es dan salju akan meningkatkan risiko cedera fisik para pendaki akibat terpeleset atau jatuh.
Maka dari itu, pihak pengelola memutuskan untuk membatasi waktu pendakian di Gunung Fuji setiap tahunnya. Tak hanya berisiko mengalami cedera fisik, kondisi yang riskan tersebut juga bisa saja mengancam nyawa para pendaki, lho.
3. Fasilitas pendakian tutup karena larangan pemerintah setempat

Dilansir Mt. Fuji Climbing Official Website, berdasarkan Undang-Undang Jalan Raya Jepang, pemerintah setempat akan menutup akses dari stasiun kelima menuju puncak Gunung Fuji di luar musim pendakian demi keselamatan. Pelanggaran dapat berakibat pada sanksi tegas.
Karena kebijakan tersebut, pondok peristirahatan, toilet umum, dan pos pertolongan pertama di sepanjang jalur pendakian Gunung Fuji juga akan berhenti beroperasi. Mereka hanya melayani para pendaki saat musim pendakian sekitar Juli hingga Agustus setiap tahun.
Saat pendakian Gunung Fuji dibuka, pihak pengelola juga akan menerapkan aturan yang ketat, seperti tarif wajib dan batasan waktu harian. Langkah ini diambil untuk mencegah "pendakian tektok" yang berbahaya dan menghindari kepadatan yang berlebihan.



















