Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Tips Mengatasi Jet Lag Oksigen di Gunung Tinggi, Biar Gak Lemas!

7 Tips Mengatasi Jet Lag Oksigen di Gunung Tinggi, Biar Gak Lemas!
Ilustrasi pendaki terkena AMS (flickr.com/UBC Media Relations)
Intinya Sih
  • Jet lag oksigen atau Acute Mountain Sickness terjadi karena tubuh belum terbiasa dengan kadar oksigen rendah di ketinggian di atas 2.500 meter.

  • Langkah penting untuk mencegah AMS meliputi aklimatisasi, menjaga hidrasi, mengatur ritme pendakian, konsumsi makanan bergizi, serta istirahat cukup sebelum dan selama mendaki.

  • Jika gejala berat muncul seperti mual parah atau sulit bernapas, pendaki disarankan segera berhenti dan turun ke ketinggian lebih rendah demi keselamatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kalau kamu sering mendaki gunung dengan ketinggian di atas 2.500 meter, mungkin pernah mengalami gejala seperti pusing, mual, atau tubuh terasa lemas. Nah, kondisi ini dikenal sebagai jet lag oksigen atau Acute Mountain Sickness (AMS).

Hal ini terjadi karena tubuh belum terbiasa dengan kadar oksigen yang rendah di dataran tinggi. Tapi tenang aja, ada beberapa tips simpel yang bisa bantu kamu atasi jet lag oksigen biar tetap kuat mendaki.

1. Aklimatisasi itu penting, jangan langsung ngegas!

Ilustrasi pendaki gunung
Ilustrasi pendaki gunung (unsplash.com/Ales Krivec)

Buat kamu yang mau mendaki ke ketinggian tertentu, penting banget untuk aklimatisasi atau adaptasi terlebih dulu. Ini artinya, beri waktu buat tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan tekanan udara dan kadar oksigen.

Misalnya, kalau kamu mendaki gunung di atas 3.000 mdpl, cobalah bermalam dulu di basecamp atau pos awal sebelum lanjut ke titik yang lebih tinggi. Hindari langsung naik drastis dalam sehari karena tubuh bisa kaget dan mengalami jet lag oksigen.

2. Minum air yang cukup, jangan sampai dehidrasi

Ilustrasi dua pendaki gunung
Ilustrasi dua pendaki gunung (unsplash.com/Getty Images)

Udara di pegunungan tinggi biasanya kering, dan kamu bakal kehilangan cairan tubuh lebih cepat lewat napas maupun keringat. Jadi, penting banget buat tetap hidrasi.

Minumlah air secara berkala meski gak merasa haus. Hindari minuman berkafein dan beralkohol karena bisa memperparah dehidrasi. Ingat, cairan yang cukup bantu darah mengalir optimal dan oksigen bisa tersebar ke seluruh tubuh.

3. Jangan buru-buru, atur ritme jalanmu

Ilustrasi pendaki gunung
Ilustrasi pendaki gunung (unsplash.com/Getty Images)

Mendaki gunung bukan soal siapa yang cepat sampai puncak. Kalau kamu naik terlalu cepat, tubuh bakal bekerja keras menyuplai oksigen yang jumlahnya minim. Ini bisa bikin kamu pusing, mual, bahkan sesak napas.

Makanya, atur ritme pendakian dengan perlahan dan stabil. Istirahatlah setiap 30-60 menit dan pastikan kamu bisa ngobrol santai saat jalan. Kalau masih ngos-ngosan saat bicara, berarti kamu harus pelan-pelan lagi.

4. Konsumsi makanan bergizi, jangan skip sarapan!

Ilustrasi dua pendaki menggunakan trekking pole
Ilustrasi dua pendaki menggunakan trekking pole (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Tubuh butuh energi buat beradaptasi dan tetap aktif selama pendakian. Maka dari itu, penting banget untuk makan makanan bergizi yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan sedikit lemak sehat.

Hindari makan mie instan terus-menerus saat di gunung. Bawalah bekal seperti nasi, telur, tempe, atau oatmeal yang bisa bantu jaga stamina dan daya tahan tubuh kamu.

5. Istirahat cukup dan tidur nyenyak

Ilustrasi dua pendaki gunung
Ilustrasi dua pendaki gunung (pexels.com/Kampus-Production)

Kurang tidur sebelum atau saat pendakian bisa bikin jet lag oksigen makin parah. Pasalnya, tubuh yang lelah jadi makin sulit beradaptasi dengan tekanan udara di dataran tinggi.

Tidurlah minimal 6–8 jam sebelum mendaki, dan pastikan kamu tetap punya waktu istirahat yang cukup di setiap pos. Kalau kamu bermalam di gunung, pastikan suhu tubuh tetap hangat agar kualitas tidur tetap bagus.

6. Kenali gejala serius dan jangan memaksa

ilustrasi mendaki gunung
ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Oziel Gómez)

Jet lag oksigen ringan biasanya bisa diatasi dengan istirahat dan hidrasi. Tapi kalau gejala seperti mual parah, sulit bernapas, kebingungan, atau tubuh melemah ekstrem, itu bisa jadi tanda AMS berat yang butuh penanganan cepat.

Jangan ragu untuk berhenti mendaki dan turun ke ketinggian yang lebih rendah kalau kondisi tubuh makin memburuk. Keselamatan tetap nomor satu, ya!

7. Bawa obat anti AMS bila diperlukan

Ilustrasi P3K
Ilustrasi P3K (pixabay.com/Hans)

Beberapa pendaki yang rentan mengalami AMS biasanya membawa obat seperti acetazolamide (Diamox) atas rekomendasi dokter. Obat ini bisa bantu tubuh menyesuaikan diri lebih cepat dengan ketinggian.

Tapi ingat, obat bukan solusi utama. Tetaplah utamakan aklimatisasi dan perawatan tubuh secara alami. Konsultasikan dulu ke dokter sebelum menggunakan obat-obatan saat mendaki.

Jet lag oksigen di gunung tinggi bukan hal sepele. Tapi dengan persiapan yang matang, tubuh kamu bisa beradaptasi dengan baik.

Mulai dari aklimatisasi, pola makan yang sehat, ritme jalan santai, sampai istirahat cukup, semuanya penting buat bantu kamu tetap kuat dan aman selama pendakian. Yuk, jaga tubuhmu biar tetap fit sampai ke puncak!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More