Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, bersama CEO Tancorp, Hermanto Tanoko, dan kurator seni Suwarno Wirosetrotomo dalam acara pembukaan Pameran Lukisan Tunggal SBY di Voza Tower Surabaya, Selasa (15/9/2026) (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Momen peresemian Pameran Tunggal SBY juga ditandai dengan peluncuran buku monografi berjudul "Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono." Buku ini lahir dari gagasan CEO Tancorp, Hermanto Tanoko, yang terinspirasi sosok dan perjalanan kepemimpinan SBY.
"Ini adalah wujud dari rasa kagum, hormat dan cinta kami atas perjalanan Pak SBY yang penuh pengabdian tak terhingga bagi negeri ini, stabilitas, dan dedikasi yang telah beliau berikan bagi Indonesia dan dunia usaha," ujar Hermanto dalam sambutannya.
Hermanto kemudian menggandeng kurator seni Suwarno Wisetrotomo untuk mendokumentasikan karya-karya lukis SBY dalam sebuah buku monografi.
"Tidak pernah membayangkan, tidak pernah terbayang saya menulis dari dekat sosok penting dan besar ini bagi bangsa Indonesia. Saya mendapat kesempatan itu," ucap Suwarno dalam kesempatan yang sama.
Dalam proses penyusunannya, Suwarno juga melakukan wawancara eksklusif bersama SBY untuk menggali cerita, pemikiran, dan pengalaman yang melatarbelakangi setiap karya. Lukisan yang ditampilkan dalam pameran ini menggambarkan atau menjadi narasi visual isi buku monografi.
Ia menyusunnya dalam tiga kategori, yaitu lanskap memori berupa renungan personal SBY dan usahanya melewati jebakan melankoli, lanskap sosial politik yang menunjukkan suara kritis terhadap krisis kemanusiaan dan keadilan, serta lanskap tatapan langsung atau on the spot berupa objek-objek alam dan cara SBY mendekatkan diri dengan semesta.
Suwarno menambahkan bahwa semua karya lukisan SBY memiliki nilai arsip yang penting. Setiap goresan tinta di atas kanvas adalah upayanya dalam merawat ingatan dan mengabadikannya. Tidak ada yang menjamin tempat-tempat dalam lukisan SBY akan sama atau bahkan eksis selamanya.
"Kalau pun berubah oleh apa pun penyebabnya, Pak SBY sudah merekamnya hari ini. Lima, sepuluh, lima belas, dua puluh tahun depan, itu menjadi arsip yang sangat penting untuk siapa pun. Nilai karya itu sungguh melampaui sekedar percakapan sekali lagi seni lukis, tetapi menjadi yang yang bernilai arsip," kata Suwarno.