Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Larangan Tertulis dan Tidak Tertulis saat Liburan ke Raja Ampat

7 min read
Larangan Tertulis dan Tidak Tertulis saat Liburan ke Raja Ampat
Potret orang snorkeling (unsplash.com/NEOM)
  • WNA asal Tiongkok diduga memburu penyu di Piaynemo, Raja Ampat, dan diamankan Imigrasi; kasus ini menegaskan wisatawan wajib mematuhi hukum serta ketentuan konservasi.
  • Wisatawan dilarang memburu, menyentuh, mengejar, atau mengganggu satwa laut, juga menginjak, mengambil, maupun merusak terumbu karang dan benda alam.
  • Pengunjung diminta tidak membuang sampah atau menjangkar sembarangan, menghormati masyarakat adat serta aturan lokal, dan mengikuti arahan pemandu demi menjaga kawasan konservasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Raja Ampat kembali menjadi sorotan setelah seorang warga negara asing (WNA) asal Tiongkok berinisial WS diamankan petugas Imigrasi di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Senin (14/9/2026). WS diamankan setelah diduga melakukan perburuan penyu di perairan Piaynemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Kasus tersebut mencuat setelah rekaman aktivitasnya beredar di media sosial dan kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah serta aparat terkait.

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa Raja Ampat bukan sekadar destinasi dengan pemandangan laut dan pulau-pulau karst yang cantik. Kawasan ini merupakan wilayah konservasi dengan kekayaan hayati yang perlu dijaga bersama. Kementerian Pariwisata pun menegaskan bahwa wisatawan yang berkunjung wajib mematuhi hukum Indonesia serta ketentuan konservasi yang berlaku, termasuk larangan merusak terumbu karang dan mengambil, melukai, atau membunuh biota laut yang dilindungi.

Karena itu, sebelum merencanakan liburan ke Raja Ampat, wisatawan perlu mengetahui sejumlah aturan yang berlaku. Selain larangan yang memiliki dasar hukum, ada pula etika tidak tertulis yang penting diperhatikan agar aktivitas wisata tidak mengganggu lingkungan maupun masyarakat setempat.

  1. 1. Jangan memburu, menangkap, atau mengonsumsi satwa laut yang dilindungi

    Penyu merupakan salah satu biota yang mendapat perhatian dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan Kepulauan Raja Ampat. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 13 Tahun 2021 tentang Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat mencantumkan penyu sebagai salah satu keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi dan dilestarikan.

    Karena itu, aktivitas seperti memburu, menangkap, melukai, membunuh, apalagi mengonsumsi satwa yang dilindungi bukanlah bagian dari aktivitas wisata. Kasus WNA asal Tiongkok yang diduga menombak dan menyantap penyu di Raja Ampat menjadi contoh bahwa tindakan terhadap satwa laut dapat berujung pada proses hukum. Hingga saat ini, kasus tersebut masih dalam penanganan dan pendalaman aparat.

  2. 2. Jangan menyentuh atau mengejar satwa laut saat snorkeling dan diving

    Potret Pulau Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat Daya
    Potret Pulau Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat Daya (IDN Times/Dewi Suci)

    Melihat penyu, ikan, pari manta, hingga berbagai biota laut lain secara langsung memang menjadi salah satu pengalaman paling menarik saat menjelajahi Raja Ampat. Namun, bukan berarti wisatawan bebas mendekati atau menyentuh satwa tersebut.

    Panduan kawasan konservasi Raja Ampat mengimbau pengunjung untuk tidak mengusik, mengejar, atau menyentuh satwa liar, baik di darat maupun di laut. Saat bertemu satwa, wisatawan dianjurkan tetap tenang dan mengamatinya dari jarak aman.

    Aturan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi penting untuk diperhatikan. Menyentuh satwa dapat membuatnya stres, sedangkan mengejar atau menghalangi pergerakannya berpotensi mengganggu perilaku alaminya.

  3. 3. Jangan menginjak atau menyentuh terumbu karang

    Pemandangan bawah laut menjadi salah satu alasan utama wisatawan datang ke Raja Ampat. Namun, keindahan tersebut juga membuat terumbu karang rentan terganggu oleh aktivitas wisata yang serampangan.

    Raja Ampat memiliki aturan khusus mengenai pengelolaan terumbu karang melalui Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat Nomor 8 Tahun 2010. Aturan tersebut mencakup pemanfaatan, pengawasan, larangan, hingga sanksi terkait pengelolaan terumbu karang.

    Dalam praktiknya, wisatawan juga perlu memperhatikan posisi tubuh saat snorkeling maupun diving. Hindari berdiri di atas karang, menyentuhnya untuk sekadar berfoto, atau memegang bagian tertentu dari ekosistem bawah laut. Selain berpotensi merusak karang, tindakan tersebut juga bisa mengganggu organisme yang hidup di dalamnya.

  4. 4. Jangan mengambil karang, kerang, atau benda alam sebagai oleh-oleh

    Potret orang snorkeling
    Potret orang snorkeling (pexels.com/Leonardo Lamas)

    Keinginan membawa pulang “suvenir” dari alam mungkin muncul ketika menemukan kerang cantik, potongan karang, atau benda lain di pesisir. Namun, sebaiknya benda-benda tersebut tetap dibiarkan berada di tempatnya.

    Kawasan konservasi Raja Ampat memiliki ketentuan yang mengatur perlindungan sumber daya alam. Panduan kawasan konservasi juga mengingatkan pengunjung untuk tidak mengambil benda-benda alam dari lingkungan wisata.

    Jadi, meskipun benda tersebut terlihat kecil dan seolah tidak memberikan dampak besar, mengambilnya satu per satu tetap dapat memengaruhi ekosistem jika banyak wisatawan yang melakukannya.

  5. 5. Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke laut

    Membuang sampah ke laut merupakan salah satu larangan yang seharusnya tidak perlu menunggu papan peringatan untuk dipatuhi. Apalagi, sampah plastik dapat membahayakan berbagai biota laut dan berpotensi merusak ekosistem terumbu karang.

    Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sebelumnya juga telah menyoroti persoalan sampah plastik yang dapat mencemari laut dan membahayakan biota, termasuk penyu. Sampah yang berada di laut bahkan dapat menutupi dan merusak terumbu karang.

    Jadi, biasakan membawa kembali sampah pribadi selama island hopping, snorkeling, diving, atau menikmati pantai. Kalau tidak menemukan tempat sampah, simpan terlebih dahulu sampai menemukan fasilitas pembuangan yang sesuai.

  6. 6. Jangan melempar jangkar sembarangan

    Potret Raja Ampat
    Potret Raja Ampat (unsplash.com/r0229 oke)

    Aturan ini mungkin lebih sering berkaitan dengan operator kapal, tetapi wisatawan juga perlu mengetahuinya. Melempar jangkar sembarangan di kawasan terumbu karang dapat menyebabkan kerusakan fisik pada ekosistem bawah laut.

    Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bahkan menyiapkan fasilitas tambat labuh atau mooring di sejumlah lokasi wisata untuk mencegah kapal membuang jangkar di sembarang tempat. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kesehatan ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi perairan Raja Ampat.

    Sebagai wisatawan, kita bisa ikut berperan dengan memilih operator tur yang menerapkan praktik wisata ramah lingkungan dan mengikuti arahan kru kapal selama berada di kawasan konservasi.

  7. 7. Jangan menganggap semua hal di alam sebagai properti wisata

    Ada pula larangan tidak tertulis yang sebenarnya sangat penting, yakni memperlakukan alam sebagai bagian dari ruang hidup, bukan sekadar latar untuk berfoto. Saat berada di pantai, pulau kecil, hutan, atau kawasan perairan Raja Ampat, hindari memindahkan benda alam hanya demi mendapatkan foto.

    Jangan merusak tanaman, mengganggu burung atau satwa lain, maupun membuat suara berlebihan ketika berada di habitat alami. Panduan kawasan konservasi Raja Ampat juga menekankan pentingnya mengamati satwa dari jarak aman dan tidak mengganggu perilaku alaminya.

  8. 8. Hormati masyarakat adat dan aturan lokal

    Potret Raja Ampat
    Potret Raja Ampat (pexels.com/teras dondon)

    Raja Ampat gak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga masyarakat dan budaya yang hidup berdampingan dengan lingkungan sekitarnya. Wisatawan sebaiknya tidak hanya memahami aturan konservasi, tetapi juga menghormati kebiasaan serta ketentuan yang berlaku di kampung-kampung wisata.

    Beberapa wilayah di Raja Ampat memiliki sistem perlindungan sumber daya alam berbasis masyarakat adat. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat juga memiliki aturan terkait perlindungan ikan, biota laut, dan sumber daya alam lainnya di wilayah pesisir, serta laut dalam petuanan adat Suku Maya.

    Artinya, jangan menganggap aturan di satu tempat otomatis berlaku sama di semua lokasi. Dengarkan arahan pemandu atau masyarakat setempat, terutama ketika berkunjung ke kampung wisata, kawasan adat, atau spot yang memiliki ketentuan khusus.

  9. 9. Jangan memaksakan aktivitas hanya demi konten

    Ini memang bukan larangan yang selalu tertulis di papan informasi, tetapi penting untuk diingat wisatawan masa kini. Raja Ampat memiliki banyak lanskap yang sangat fotogenik, sehingga wajar jika ingin mengabadikan momen sebanyak mungkin.

    Namun, jangan sampai keinginan mendapatkan foto atau video membuatmu mengabaikan keselamatan dan kelestarian lingkungan. Misalnya, memanjat area yang tidak diperuntukkan bagi wisatawan, berdiri di atas karang, mengejar satwa agar masuk ke frame, atau memasuki area yang sudah diberi batas.

    Konten perjalanan seharusnya menjadi dokumentasi pengalaman, bukan alasan untuk mengubah atau mengganggu lingkungan yang sedang dikunjungi.

  10. 10. Tinggalkan Raja Ampat seperti saat pertama datang

    Potret pantai di Raja Ampat
    Potret pantai di Raja Ampat (IDN Times/Dewi Suci)

    Pada akhirnya, salah satu etika paling sederhana ketika liburan ke Raja Ampat adalah tidak meninggalkan dampak buruk setelah perjalanan selesai. Bawa kembali sampah pribadi, jangan mengambil benda dari alam, jangan mengganggu satwa, dan ikuti arahan pemandu maupun pengelola kawasan.

    Prinsipnya sederhana: apa yang kamu temukan di Raja Ampat sebaiknya tetap bisa dinikmati wisatawan lain dalam kondisi yang sama. Raja Ampat sendiri memiliki aturan dan kebijakan yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata dan kelestarian alam. Pemerintah daerah juga menempatkan perlindungan sumber daya hayati dan nonhayati sebagai bagian dari upaya perlindungan daya tarik wisata.

    Jadi, sebelum berangkat ke Raja Ampat, jangan hanya menyiapkan itinerary, tiket, atau ide konten saja. Luangkan waktu untuk memahami aturan kawasan serta mendengarkan arahan pemandu dan masyarakat lokal. Sebab, liburan yang menyenangkan bukan hanya soal menikmati keindahan alam, tetapi juga memastikan tempat yang dikunjungi tetap terjaga setelah wisatawan pulang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More