8 Tempat Wisata Populer yang Sebaiknya Gak Dikunjungi 2026

- Antartika mengalami lonjakan kunjungan yang tinggi dan berpotensi merusak ekosistem.
- Kepulauan Canary di Spanyol menghadapi masalah kepadatan lalu lintas, biaya hidup, dan tekanan lingkungan.
- Glacier National Park di Amerika Serikat menerapkan sistem reservasi waktu untuk mengendalikan arus pengunjung dan mengatasi kemacetan serta gangguan satwa.
Pernahkah kamu merasa frustrasi karena destinasi impianmu terlalu penuh sesak, harga melambung, atau keasliannya tergerus? Ternyata kamu gak sendirian, lho. Semakin banyak orang yang traveling, ternyata membawa dampak yang tidak ringan bagi lingkungan dan masyarakat lokal.
Menurut data United Nations World Tourism Organization, kedatangan turis internasional pada paruh pertama 2025 meningkat 5 persen dan telah melampaui tingkat sebelum pandemi. Menanggapi hal ini, Fodor's, sebuah perusahaan panduan perjalanan ternama, merilis “No List” tahunan.
Daftar ini bukanlah larangan mutlak, tapi ajakan untuk bijak memilih destinasi agar kita gak menjadi bagian dari masalah overtourism. Berikut delapan tempat wisata populer yang sebaiknya kamu pertimbangkan ulang untuk dikunjungi pada 2026.
1. Antartika

Antartika mungkin terlihat sepi, tetapi jumlah pengunjungnya meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Organisasi konservasi internasional mencatat kunjungan melonjak berkali-kali lipat sejak awal 1990-an—2020. Jejak karbon perjalanan ke wilayah ini tergolong tinggi dan berpotensi mengganggu satwa liar. Tekanan tersebut membuat banyak pihak mendorong perlindungan lebih ketat demi menjaga ekosistem rapuh di sana.
2. The Canary Islands, Spanyol

Kepulauan Canary di Spanyol menarik jutaan wisatawan setiap tahun berkat iklim hangat sepanjang musim. Lonjakan kunjungan memicu masalah kepadatan lalu lintas, biaya hidup melonjak, dan tekanan lingkungan. Warga lokal beberapa kali turun ke jalan untuk menyuarakan batasan pariwisata. Situasi ini membuat liburan berisiko kurang nyaman sekaligus menambah beban komunitas setempat.
3. Glacier National Park, Amerika Serikat

Glacier National Park di Montana ini mencatat jutaan pengunjung dalam setahun dan terus menjadi magnet wisata alam. Sistem reservasi waktu diterapkan saat musim ramai demi mengendalikan arus pengunjung. Tantangan masih muncul berupa kemacetan, gangguan satwa, dan peningkatan emisi kendaraan. Pengalaman menikmati alam pun bisa terasa terburu-buru karena antrean panjang.
4. Isola Sacra, Italia

Isola Sacra merupakan kawasan pesisir bersejarah dekat Roma dengan peninggalan Romawi kuno. Rencana pembangunan pelabuhan kapal pesiar besar memicu kontroversi di kalangan warga. Kelompok komunitas menilai proyek tersebut berisiko merusak ekosistem lokal. Otoritas setempat menyebut manfaat ekonomi, tetapi ketegangan sosial masih terasa.
5. The Jungfrau Region, Swiss

Wilayah Jungfrau terkenal dengan Danau Alpine dan puncak dramatis Pegunungan Alpen. Ledakan wisata membuat pengelolaan lingkungan semakin menantang. Kualitas hidup warga lokal ikut terpengaruh oleh keramaian musiman. Upaya menyeimbangkan pariwisata dan konservasi masih terus diuji.
6. Mexico City

Mexico City mengalami pertumbuhan wisata pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya terlihat pada kenaikan sewa, gentrifikasi, serta kekhawatiran hilangnya identitas budaya di pusat kota. Aksi protes sempat terjadi untuk menyoroti masalah tersebut. Berkunjung saat situasi sensitif berisiko menimbulkan gesekan sosial.
7. Mombasa, Kenya

Kota pelabuhan bersejarah di Kenya ini menerima lonjakan wisatawan, terutama dari kapal pesiar. Situs budaya mulai kewalahan oleh keramaian, sementara pantai menghadapi masalah sampah. Kepadatan jalan turut meningkat dan mengganggu aktivitas warga. Pemerintah daerah menyatakan sedang menyiapkan langkah pengendalian agar dampak negatif bisa ditekan.
8. Montmartre, Prancis

Kawasan ikonik Paris ini terkenal dengan suasana artistik dan sudut fotogenik. Overtourism memicu kenaikan harga serta perpindahan warga lokal dari lingkungan tersebut. Penduduk setempat menilai area ini semakin kehilangan fungsi sehari-hari. Antrean panjang wisatawan membuat pengalaman berjalan santai jadi sulit dinikmati.
Memilih destinasi liburan bukan sekadar mengikuti tren atau daftar populer. Pertimbangan dampak sosial serta lingkungan membantumu menjadi traveler lebih bertanggung jawab. Menunda kunjungan ke tempat-tempat padat bisa memberi ruang pemulihan bagi alam dan komunitas lokal.
Banyak alternatif destinasi menarik dengan tekanan wisata lebih rendah dan pengalaman lebih autentik. Liburan bijak memberi keuntungan bukan hanya buat kamu, tapi juga bagi tempat tujuan.

















