Kenapa Pengajuan Visa Sekarang Lebih Lama dan Lebih Mahal?

Sistem keamanan dan verifikasi semakin ketat Standar keamanan internasional meningkat, memperketat proses verifikasi data pemohon visa, membuat waktu pemrosesan lebih panjang.
Lonjakan permintaan visa pasca pembatasan global Minat traveling internasional meningkat secara signifikan setelah pembatasan perjalanan global, menyebabkan antrean pemohon yang padat.
Biaya administrasi dan layanan tambahan yang bertambah Biaya dasar visa ditambah biaya layanan pihak ketiga, biometrik, hingga administrasi digital, membuat pengajuan visa jauh lebih mahal.
Dulu, mengurus visa sering dianggap sekadar formalitas sebelum liburan ke luar negeri. Selama dokumen lengkap dan dana mencukupi, banyak traveler merasa prosesnya akan berjalan lancar. Namun, belakangan pengalaman itu mulai berubah. Banyak orang mengeluhkan waktu tunggu visa yang makin panjang, biaya yang melonjak, hingga persyaratan yang semakin detail dan ketat.
Perubahan ini bukan sekadar perasaan semata. Dalam beberapa tahun terakhir, sistem perjalanan global memang mengalami banyak penyesuaian. Mulai dari kebijakan keamanan, arus migrasi, hingga tekanan ekonomi global, semuanya ikut memengaruhi cara negara-negara mengatur pintu masuknya. Alhasil, traveler, termasuk dari Indonesia, perlu bersiap menghadapi realitas baru saat mengajukan visa.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat pengajuan visa kini terasa lebih lama dan lebih mahal dibanding sebelumnya? Berikut beberapa faktor utama yang sering luput dari perhatian.
1. Sistem keamanan dan verifikasi semakin ketat

Salah satu alasan paling mendasar adalah meningkatnya standar keamanan internasional. Banyak negara kini memperketat proses verifikasi data pemohon visa, mulai dari riwayat perjalanan, latar belakang pekerjaan, hingga konsistensi data pribadi. Proses ini tidak lagi sekadar mencocokkan dokumen, tetapi juga melibatkan pengecekan digital lintas sistem. Akibatnya, waktu pemrosesan pun menjadi lebih panjang.
Petugas imigrasi membutuhkan waktu ekstra untuk memastikan setiap data benar-benar valid dan tidak berisiko. Bagi traveler, ini berarti masa tunggu visa bisa bertambah dari hitungan hari menjadi berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan pada periode tertentu.
2. Lonjakan permintaan visa pasca pembatasan global

Setelah periode pembatasan perjalanan global, minat traveling internasional meningkat secara signifikan. Banyak orang menunda liburan selama bertahun-tahun, lalu mengajukan visa dalam waktu yang berdekatan. Lonjakan permintaan ini membuat kantor visa dan kedutaan menghadapi antrean pemohon yang jauh lebih padat dari biasanya.
Ketika jumlah pemohon meningkat drastis sementara kapasitas pemrosesan terbatas, waktu tunggu otomatis menjadi lebih lama. Di sisi lain, beberapa negara juga menerapkan sistem janji temu terbatas, sehingga pemohon harus bersaing mendapatkan slot pengajuan sejak tahap awal.
3. Biaya administrasi dan layanan tambahan yang bertambah

Jika dulu biaya visa terasa lebih sederhana, kini banyak komponen tambahan yang ikut membengkak. Selain biaya dasar visa, pemohon sering kali dikenai biaya layanan pihak ketiga, biaya biometrik, hingga biaya administrasi digital. Meski nominalnya terlihat kecil satu per satu, totalnya bisa cukup signifikan. Belum lagi jika pemohon menggunakan jasa percepatan atau agen untuk mengejar waktu. Opsi ini memang memudahkan, tetapi juga menambah beban biaya yang tidak sedikit. Tak heran jika banyak traveler merasa pengajuan visa kini jauh lebih mahal dibanding beberapa tahun lalu.
4. Persyaratan dokumen semakin detail dan spesifik

Negara tujuan kini cenderung meminta dokumen yang lebih rinci untuk memastikan tujuan perjalanan pemohon benar-benar jelas. Mulai dari bukti keuangan yang lebih detail, surat keterangan kerja yang spesifik, hingga rencana perjalanan yang masuk akal dan terstruktur.
Proses menyiapkan dokumen ini sering kali memakan waktu dan biaya tambahan. Misalnya, pemohon harus mencetak rekening koran resmi, menerjemahkan dokumen tertentu, atau menyesuaikan format sesuai ketentuan masing-masing negara. Kesalahan kecil saja bisa berujung pada pengajuan ulang yang tentu memperpanjang proses.
5. Kebijakan imigrasi yang lebih selektif

Di tengah dinamika global, banyak negara menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih selektif untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial. Visa turis tidak lagi dipandang sekadar kunjungan singkat, tetapi juga dinilai dari potensi risikonya. Kondisi ini membuat proses penilaian menjadi lebih hati-hati.
Petugas imigrasi tidak hanya melihat kelengkapan dokumen, tetapi juga menilai profil pemohon secara keseluruhan. Proses seleksi yang lebih mendalam inilah yang turut memengaruhi lamanya waktu pengajuan visa.
6. Pengaruh kondisi ekonomi global

Fluktuasi ekonomi global juga berdampak pada biaya pengurusan visa. Nilai tukar mata uang, biaya operasional kedutaan, hingga inflasi di negara tujuan bisa memengaruhi besaran biaya yang dibebankan kepada pemohon. Meski tidak selalu diumumkan secara luas, perubahan ini terasa langsung di kantong traveler.
Bagi warga negara berkembang, termasuk Indonesia, kenaikan biaya ini terasa lebih signifikan, karena selisih nilai mata uang yang cukup besar. Akibatnya, liburan ke luar negeri kini membutuhkan perencanaan finansial yang jauh lebih matang.
7. Digitalisasi yang belum sepenuhnya efisien

Meski banyak negara sudah menerapkan sistem visa online, proses digitalisasi ini belum selalu berjalan mulus. Beberapa sistem justru menambah tahapan baru, seperti unggah dokumen berulang, verifikasi tambahan, atau antrean digital yang panjang. Alih-alih mempercepat, sistem ini kadang membuat pemohon harus lebih teliti dan sabar. Kesalahan teknis kecil bisa berdampak besar pada waktu pemrosesan, terutama jika tidak segera ditangani.
Pengajuan visa yang kini terasa lebih lama dan lebih mahal bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari berbagai perubahan global yang saling berkaitan. Mulai dari peningkatan keamanan, lonjakan permintaan, hingga kebijakan imigrasi yang lebih selektif, semuanya berkontribusi pada proses yang lebih kompleks.
Bagi traveler, memahami faktor-faktor ini bisa membantu menyusun strategi perjalanan dengan lebih realistis. Mengajukan visa lebih awal, menyiapkan dokumen dengan teliti, dan memperhitungkan biaya tambahan sejak awal menjadi langkah penting agar rencana liburan tidak berujung pada stres. Di era traveling modern, visa bukan lagi sekadar formalitas, melainkan bagian krusial dari perencanaan perjalanan itu sendiri.





![[QUIZ] Dari Jenis Paspor Ini, Kami Tahu Mana Negara Impianmu](https://image.idntimes.com/post/20251114/upload_4a4acf2d0fc3ea46ebfc90276dd47932_c972b8fc-cf6d-406c-93a9-67cf6cd05313_watermarked_idntimes-2.jpeg)
![[QUIZ] Cari Tahu Wisata Luar Negeri yang Cocok dengan Shio Kamu](https://image.idntimes.com/post/20251226/hobby-51_aef47009-510c-4893-ab6d-54b98318c62f.jpg)










