Event Birthday S.Coups SEVENTEEN, Langkah Kecil Menjaga Bumi

- Acaranya antimainstream, bukan lagi event birthday cafe dengan hidangan lezat dan bonus pernak-pernik pada umumnya.
- Transportasi umum menuju wisata pantai di Cilacap masih terbatas, kendaraan pribadi sangat penting kalau ingin berwisata ke pantai selatan Cilacap.
- Kemeriahan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia mewarnai perjalanan, konservasi penyu menjadi langkah kecil untuk membantu keseimbangan alam.
Budaya KPop berkembang dan mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun, termasuk di kalangan penggemar. Kesamaan minat bukan sekadar untuk mendukung idola, tapi juga bisa menjadi wadah untuk interaksi sosial dalam hal positif. Perayaan comeback, anniversary, hingga ulang tahun idol seolah sudah menjadi hal lumrah di kalangan penggemar.
Kali ini penulis mendapatkan kesempatan untuk mengikuti event perayaan ulang tahun S.Coups SEVENTEEN ke-30 di Cilacap pada Sabtu (23/8/2025). Acaranya antimainstream, bukan lagi event birthday cafe dengan hidangan lezat dan bonus pernak-pernik pada umumnya. Penulis diajak menuju sebuah konservasi penyu, mendapatkan edukasi, dan turut melepaskan tukik sebagai langkah kecil untuk menjaga Bumi.
1. Akhir pekan yang nyaman di Joglosemarkerto

Penulis mengawali perjalanan pagi hari dari Stasiun Solo Balapan pada pukul 06.10 WIB. Sebuah kereta api andalan warga Jawa Tengah dan Yogyakarta, Joglosemarkerto, sudah ada di jalurnya. Kelas Ekonomi kereta api ini sudah upgrade menggunakan rangkaian New Generation Modifikasi sejak Desember 2024.
Jadwal keberangkatan tersebut melalui jalur selatan, durasinya lebih singkat bagi penumpang yang ingin turun di Purworejo, Kebumen, Gombong, dan Kroya. Namun, lebih lama untuk penumpang dengan tujuan Slawi, Tegal, Semarang dan wilayah utara lainnya. Jika kamu ingin menuju wilayah utara lebih cepat, maka naiklah KA Joglosemarkerto yang mengarah ke utara dengan jadwal berbeda.
Perjalanan dari Solo belum terlalu ramai, masih banyak tempat kosong hingga sampai di Yogyakarta. Penumpang jadi lebih padat dan setiap gerbong nyaris penuh. Ditambah lagi, kereta api tersebut berhenti di Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu Yogyakarta.
Penumpang masih ramai hingga penulis sampai tujuan, Stasiun Kroya, Kabupaten Cilacap. Stasiun ini memang tidak terlalu besar dan ramai, tapi punya banyak jalur serta cukup sibuk. Keberadaannya sangat penting sebagai titik persimpangan kereta api.
2. Transportasi umum menuju wisata pantai di Cilacap masih terbatas

Setelah tiba di Stasiun Kroya, penulis harus melanjutkan perjalanan menuju Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap. Lokasi konservasi tersebut berjarak sekitar 14 km dari stasiun. Sayangnya, transportasi umum, seperti ojek online, angkutan desa, atau semacamnya belum tersedia.
Sebelumnya, pernah beroperasi angkutan perintis DAMRI yang melayani rute Benteng Pendhem, Teluk Penyu–Nusawungu, Pantai Jetis (PP). Angkutan tersebut beroperasi mulai 2021. Namun, saat ini media sosial resminya terakhir mengunggah jadwal tahun 2022 dan nomor yang tertera sudah tidak sesuai.
Beruntung, salah seorang penggemar SEVENTEEN (CARAT) sekaligus inisiator event “Charity for S.Coups: Melestarikan Penyu Laut (Chelonioidea) Bersama Babeh S.Coups”, Windhita Apsari, bersedia menemani perjalanan ini. Alumnus Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Yogyakarta, tersebut juga menyatakan bahwa kendaraan pribadi sangat penting kalau ingin berwisata ke pantai selatan Cilacap. Ketersediaan transportasi umum yang terbatas menjadi salah satu pertimbangan bagi wisatawan dari luar kota.
3. Kemeriahan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia mewarnai perjalanan

Kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi konservasi menggunakan kendaraan roda dua. Kondisi medannya landai, jalannya sudah cukup bagus, beraspal, bahkan jalan desa yang lebih dekat dengan pantai. Lalu lintasnya pun lengang dan nyaman untuk berkendara, meski saat akhir pekan.
Ada hal menarik yang dapat ditemukan di setiap perjalanan. Demikian pula perjalanan kali ini, kami menjumpai masyarakat setempat yang tengah bersiap untuk karnaval. Panasnya Cilacap gak mengurangi antusiasme mereka dalam mengisi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bulan Agustus menjadi sangat meriah di berbagai daerah, termasuk di beberapa desa di Cilacap. Sebuah lapangan yang tidak terlalu luas disulap menjadi lokasi Start dan Finish karnaval. Setiap dusun berpartisipasi dengan mengenakan kostum dan ornamen unik yang tetap memiliki unsur budaya Nusantara.
Karnaval tersebut tampak tertib, lalu lintas memang sedikit terhambat, tapi tidak menyebabkan kemacetan parah. Kemeriahan tetap terasa, tanpa perlu suara musik yang terlalu keras maupun tarian yang berlebihan. Warga lain yang menonton dari pinggir jalan pun tampak menikmatinya.
4. Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap

Setelah sekitar 20 menit berkendara, kami pun tiba di Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap. Lokasinya di kawasan Pantai Sodong, tepatnya di Jalan Seloka Maya, Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Sebelum masuk ke area konservasi, kamu harus melalui pintu masuk Pantai Sodong dan membayar tiket masuk seharga Rp6.500 per orang.
Konservasi tersebut terletak di sisi kanan dari pintu masuk kawasan pantai. Dilengkapi dengan area parkir yang cukup luas dan teduh. Sambil menunggu, kami menyempatkan diri untuk melihat tukik, penyu, dan beberapa media untuk menetaskan telur penyu.
Sebelum melepaskan tukik, kami diberikan edukasi terlebih dulu oleh Mas Jumawan selaku pengelola konservasi. Mulai dari awal berdirinya konservasi, tantangan yang dihadapi, orang-orang baik yang membantu perkembangannya, dan tentunya tentang penyu. Hal ini menjadi langkah kecil untuk membantu keseimbangan alam.
Sepak terjangnya di dunia konservasi tidak mudah, karena harus mengedukasi masyarakat nelayan. Bergulat dengan mereka yang menjadikan ekonomi dan stigma bahwa telur penyu memberikan efek baik untuk kesehatan. Lambat laun, aksinya membuahkan hasil, kini siapa saja dapat mengadopsi tukik untuk dilepasliarkan dan bisa bekerja sama dengan peneliti maupun akademisi.
Penyu sangat rentan terhadap perubahan lingkungan dan iklim. Perkembangbiakannya yang lambat juga menjadi alasan utama satwa ini dilindungi. Setidaknya membutuhkan waktu belasan tahun untuk penyu bertahan dari telur, tukik, dan menjadi penyu dewasa yang siap berkembang biak.
Tukik yang dapat dilepasliarkan setidaknya sudah berusia 1 bulan. Sedangkan masa penyu bertelur hingga menetas hanya terjadi pada musim kemarau, antara bulan April hingga September. Namun, kondisi musim seperti kemarau basah juga berpengaruh pada perkembangbiakan mereka.
Ia juga menerangkan saat ini sedang darurat sampah, terutama di kawasan pesisir. Sampah tersebut seringkali terbawa dari hulu, sehingga sesuai dengan pernyataan bahwa kehidupan di darat juga berpengaruh pada kehidupan laut. Mas Jumawan turut menunjukkan beberapa sampah plastik yang ditemukan telah dikonsumsi penyu yang diselamatkan dan diserahkan ke pihak konservasi.
5. Melepas tukik di Pantai Sodong

Sudah puas melihat penyu, tukik, dan berbincang seru di Konservasi Penyu Nagaraja. Kini saatnya, kami melepas tukik di Pantai Sodong hanya berjarak beberapa ratus meter. Dua orang mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Airlangga yang sedang magang membantu kami untuk membawa puluhan tukik yang akan dilepasliarkan.
Meski kemungkinan tukik tersebut dapat bertahan di alam liar hingga dewasa hanya 10 persen –menurut penuturan Mas Jumawan. Namun, sekecil apapun langkahnya akan tetap berdampak pada lingkungan. Satu per satu tukik dikeluarkan dari kotak dan membiarkannya tersapu ombak menuju habitatnya.
Sedikit gambaran, Pantai Sodong punya garis pantai yang landai dan panjang dengan pasir kehitaman. Tepinya masih dapat dijumpai pohon kelapa serta cemara laut yang rimbun. Gak jauh dari spot pelepasan tukik, tampak menjulang tinggi cerobong dan beberapa bagian dari bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala di sisi barat.
Mengadopsi dan melepaskan tukik ke habitatnya menjadikan event birthday S.Coups SEVENTEEN ke-30 lebih bermakna. Di sisi lain, S.Coups SEVENTEEN dapat menjadi inspirasi bagi penggemar untuk berbuat kebaikan saat merayakan ulang tahunnya pada 8 Agustus. Ia mendonasikan 50 juta won Korea Selatan (sekitar Rp500 juta) untuk anak-anak kurang mampu melalui Community Chest of Korea.
6. Mecicipi kelezatan seafood di Pantai Jetis

Pelepasliaran tukik di Pantai Sodong sudah selesai, tapi perjalanan kami berlanjut ke Pantai Jetis. Kedua pantai tersebut berjarak sekitar 23 km, meski sama-sama menghadap Samudra Hindia tapi nuansanya sangat berbeda. Pantai Jetis jauh lebih ramai, karena terdapat wisata kuliner dan tempat pelelangan ikan.
Pantai Jetis terletak di Jalan Jetis–Banjareja, Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Pantai ini merupakan pantai paling timur di Cilacap dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Harga tiket masuknya Rp7.500 per orang dan tarif parkir Rp5.000 untuk kendaraan roda dua.
Area pantai ini terbilang luas dengan adanya Sungai Ijo dan bukit yang sudah menjadi bagian dari Kabupaten Kebumen. Ada sebuah jembatan yang membentang di atas Sungai Ijo. Jembatan inilah yang menghubungkan antara bukit dan Pantai Jetis.
Kami menyusuri area tepi Sungai Ijo yang terdapat salah satu atraksi wisata, yaitu wahana perahu, tapi belum sempat menyusuri area sekitar bibir pantai. Kemudian, memilih untuk kulineran dan berbincang santai. Ada banyak pilihan tempat makan seafood dan kios pedagang ikan mentah maupun kering yang bisa dipilih.
Tempat makan di sini lebih cocok untuk keluarga atau rombongan. Sebab, porsinya yang besar dan dihitung dalam ukuran gram. Satu porsi lauk yang dipesan bisa disantap untuk 3—4 orang dengan harga wajar, bahkan relatif terjangkau untuk porsi besar.
Beberapa jam berlalu, kami memutuskan kembali ke Kroya untuk mengakhiri perjumpaan hari itu. Perjalanan dari Pantai Jetis menuju Stasiun Kroya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Kemudian, penulis melakukan perjalanan kembali ke Solo pada pukul 17.00 WIB menggunakan KA Jaka Tingkir.
Kelas Ekonomi di KA Jaka Tingkir sudah menggunakan rangkaian New Generation Stainless Steel yang lebih nyaman. Nuansanya sangat berbeda dari saat berangkat, jauh lebih sepi dan cocok untuk beristirahat di perjalanan. Durasi perjalanannya pun lebih singkat, tepat 3 jam untuk sampai di tujuan akhir, Stasiun Solo Balapan.
Perjalanan kali ini bukan sekadar tentang event birthday S.Coups SEVENTEEN ke-30, tapi juga menjadi langkah kecil untuk menyelamatkan Bumi. Selain itu, mendapatkan bonus kekayaan budaya, alam, dan kuliner di Cilacap. Sampai jumpa di perjalanan lainnya!