Bolehkah Traveling di Jepang Saat Shōgatsu?

- Libur nasional mempengaruhi pola perjalanan wisatawan
- Jam operasional tempat wisata tidak selalu berjalan normal
- Akomodasi memiliki harga dan ketersediaan berbeda
Wisata musim dingin Jepang selalu menarik perhatian, karena menawarkan lanskap bersalju, festival cahaya, hingga suasana kota yang terasa lebih tenang dibanding musim lain. Pada periode ini, Shōgatsu atau Tahun Baru Jepang sering menjadi pertimbangan khusus bagi pelancong, karena bertepatan dengan libur nasional terpenting di negara tersebut.
Banyak wisatawan bertanya-tanya apakah bepergian saat Shōgatsu justru merepotkan atau masih layak dimasukkan ke rencana perjalanan musim dingin? Berikut penjelasan yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan menjelajah Jepang saat Shōgatsu.
1. Kalender libur nasional mempengaruhi pola perjalanan wisatawan

Shōgatsu berlangsung setiap 1—3 Januari dan menjadi momen pulang kampung terbesar di Jepang, sehingga arus perjalanan domestik meningkat tajam. Kondisi ini membuat kereta jarak jauh, seperti Shinkansen serta penerbangan domestik, dipadati penumpang lokal sejak akhir Desember. Bagi wisatawan asing, situasi ini berarti perencanaan transportasi harus dilakukan lebih awal agar tidak kehabisan kursi.
Di sisi lain, kepadatan tersebut tidak merata di semua wilayah karena kota besar, seperti Tokyo dan Osaka, justru mengalami penurunan aktivitas perkantoran. Beberapa area wisata urban terasa lebih lengang dibanding hari kerja biasa, terutama di pusat bisnis. Hal ini menciptakan pengalaman berbeda dalam menikmati kota tanpa hiruk pikuk rutinitas.
2. Jam operasional tempat wisata tidak selalu berjalan normal

Saat Shōgatsu, sebagian tempat wisata menyesuaikan jam buka, terutama museum, toko kecil, dan restoran keluarga. Beberapa lokasi bahkan tutup penuh pada 1 Januari sebagai bentuk perayaan Tahun Baru. Informasi ini sering luput diperhatikan wisatawan yang terbiasa dengan jam operasional reguler.
Namun, destinasi populer seperti kuil, shrine, taman kota, dan area observasi justru menjadi pusat aktivitas. Tradisi hatsumōde membuat lokasi-lokasi tersebut ramai sejak malam pergantian tahun hingga beberapa hari setelahnya. Wisatawan tetap bisa menikmati wisata musim dingin Jepang selama memahami pola buka-tutup destinasi yang dituju.
3. Akomodasi memiliki harga dan ketersediaan berbeda

Hotel bisnis di pusat kota biasanya menawarkan harga relatif stabil karena target tamu utamanya sedang libur. Sebaliknya, ryokan di daerah onsen atau resor salju mengalami lonjakan permintaan karena banyak warga Jepang memanfaatkan Shōgatsu untuk berlibur singkat. Perbedaan ini memengaruhi pilihan menginap wisatawan asing.
Bagi pelancong yang fleksibel, menginap di kota besar dapat menjadi strategi hemat selama periode ini. Selain harga yang lebih terkendali, akses transportasi publik tetap berjalan normal. Pendekatan ini membantu menyeimbangkan anggaran tanpa mengurangi kenyamanan perjalanan.
4. Transportasi umum tetap berjalan tetapi perlu antisipasi

Kereta lokal, subway, dan bus tetap beroperasi selama Shōgatsu, meskipun jadwalnya mengikuti pola hari libur. Frekuensi perjalanan bisa berkurang, terutama di daerah pinggiran atau kota kecil. Kondisi ini menuntut wisatawan lebih teliti membaca jadwal dan rute.
Untuk perjalanan jarak jauh, reservasi kursi menjadi hal krusial karena banyak warga Jepang sudah memesan sejak jauh hari. Tanpa perencanaan, risiko perjalanan tertunda cukup besar. Dengan persiapan matang, wisata musim dingin Jepang saat Shōgatsu tetap bisa dijalani secara efisien.
5. Pengalaman wisata memberi nuansa yang berbeda dari hari biasa

Traveling saat Shōgatsu menawarkan sisi Jepang yang jarang terlihat oleh wisatawan. Suasana kota terasa lebih hening, ritme perjalanan melambat, dan interaksi di tempat umum cenderung lebih santai. Kondisi ini memberi ruang untuk menikmati detail perjalanan tanpa tekanan jadwal padat.
Bagi wisatawan yang menghindari keramaian ekstrem ala musim sakura atau gugur, Shōgatsu justru menjadi alternatif menarik. Selama ekspektasi disesuaikan dengan kondisi lapangan, pengalaman yang didapat bisa terasa lebih personal. Inilah nilai tambah yang sering luput dari pembahasan umum tentang traveling di awal tahun.
Wisata musim dingin Jepang saat Shōgatsu bukanlah pilihan yang keliru, melainkan keputusan yang menuntut persiapan lebih spesifik. Dengan memahami pola libur, jam operasional, serta strategi transportasi dan akomodasi, perjalanan tetap bisa berjalan nyaman dan efisien. Apakah kamu siap menyesuaikan gaya perjalanan demi merasakan Jepang dari sisi yang jarang dijumpai wisatawan lain?


















