Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Banyak Gunung yang Kini Melarang Menyalakan Api Unggun?

Kenapa Banyak Gunung yang Kini Melarang Menyalakan Api Unggun?
ilustrasi api unggun (pexels.com/Alfo Medeiros)
  • Banyak gunung di Indonesia melarang api unggun karena percikan bara dapat memicu kebakaran hutan dan lahan serta suhu tinggi berpotensi merusak struktur tanah alami.
  • Aturan diperketat menyusul kecerobohan pendaki yang tidak memadamkan api hingga tuntas; pelanggar dapat masuk daftar hitam dan kehilangan akses pendakian.
  • Api unggun mendorong pengambilan ranting atau penebangan pohon di area camp, sementara asap dan pembakaran sampah mengganggu serta membahayakan satwa liar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gunung telah menjadi destinasi wisata impian bagi banyak kalangan belakangan ini. Tak bisa dimungkiri bahwa setiap tahun selalu ada lonjakan jumlah orang yang mendaki gunung. Di satu sisi, hal ini membuat pihak basecamp dan pemerintah memperketat banyak aturan demi menjaga kelestarian gunung itu sendiri, salah satunya adalah penggunaan api unggun.

Dahulu, menyalakan api unggun adalah hal yang boleh dilakukan pendaki di gunung. Namun, hal itu justru dilarang keras oleh pihak pengelola sebagian besar gunung di Indonesia saat ini, karena dapat memicu banyak risiko berbahaya.

Mungkin kamu juga masih bertanya-tanya kenapa penggunaan api unggun di gunung kini sudah dilarang, kan?Ada empat alasan sebagian besar gunung kini sudah memiliki aturan ketat terhadap penggunaan api unggun.

  1. 1. Bisa menimbulkan kebakaran hutan dan lahan

    ilustrasi kebakaran hutan dan lahan
    ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

    Salah satu alasan utama penggunaan api unggun sudah dilarang adalah karena bisa menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ancaman ini jelas sangat ditakuti karena berdampak sangat berbahaya bagi keselamatan lingkungan di gunung.

    Meskipun api unggun sudah terlihat mati, percikan api kecil dari api unggun tersebut bisa terbawa oleh angin gunung dan hinggap di area semak yang kering. Tumbuhan kering mudah saja terbakar oleh api sekecil apa pun, dan proses api membesar bisa cepat terjadi.

    Selain ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penggunaan api unggun dapat merusak struktur tanah wilayah gunung secara permanen. Apa akibatnya? Suhu tinggi dari api unggun bisa saja merusak tanah subur alami di gunung sehingga banyak makhluk hidup kecil yang tidak berfungsi untuk mengurai tanah.

  2. 2. Banyaknya kasus pendaki yang tidak bertanggung jawab

    ilustrasi seseorang sedang menyalakan api unggun
    ilustrasi seseorang sedang menyalakan api unggun (pexels.com/Nataly Grb)

    Perubahan aturan penggunaan api unggun didorong oleh minimnya rasa tanggung jawab yang tertanam di dalam diri para pendaki. Faktanya, hampir seluruh kebakaran di gunung akibat api unggun disebabkan oleh kecerobohan pendaki itu sendiri. Bahkan masih banyak pendaki yang tidak tahu cara mematikan api unggun hingga benar-benar tidak menyisakan bara api kecil yang bisa menyebabkan kebakaran.

    Tingginya rasa egois serta kurangnya pemahaman yang dimiliki oleh pendaki membuat pihak basecamp dan pemerintah mulai kehilangan kepercayaan. Untuk mencegah dan mengatasi risiko yang tidak diinginkan, akhirnya banyak gunung melarang penggunaan api unggun. Bahkan, jika ada pendaki yang masih nekat menyalakan api unggun di gunung, pendaki tersebut akan dimasukkan ke dalam blacklist (daftar hitam), yang memungkinkan pendaki tersebut tidak bisa menaiki gunung-gunung lainnya di Indonesia.

  3. 3. Merusak pohon-pohon di area camp

    ilustrasi pohon-pohon di gunung
    ilustrasi pohon-pohon di gunung (pexels.com/Heber Vazquez)

    Proses menyalakan api unggun membutuhkan logistik alam yang memadai. Para pendaki akan mencari ranting pohon dan tak jarang mereka memotong pohon-pohon kecil yang masih hidup di sekitar area berkemah. Hanya demi kehangatan pribadi atau tim, itu jelas tidak sebanding dengan kerusakan vegetasi alami di gunung yang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh kembali.

    Jika larangan penggunaan api unggun tidak ada sampai detik ini, jelas akan berisiko fatal. Di tengah maraknya orang yang mendaki gunung, jumlah penggunaan api unggun di gunung mungkin bisa saja jauh lebih banyak dan itu akan melenyapkan seluruh pohon-pohon yang tumbuh secara alami di gunung.

  4. 4. Mengganggu kehidupan satwa liar

    ilustrasi api unggun
    ilustrasi api unggun (pexels.com/Alfo Medeiros)

    Gunung adalah rumah alami bagi sebagian satwa liar yang hidup di dataran tinggi. Bayangkan saja jika rumah mereka dipenuhi oleh asap api unggun yang berbahaya. Tak jarang pendaki menyalakan api unggun yang dibarengi dengan pembakaran sampah, sehingga menciptakan gas beracun yang mematikan kehidupan satwa liar.

    Asap api unggun juga sangat memengaruhi aktivitas hewan malam (nokturnal). Pada dasarnya, hewan-hewan tersebut sangat mengandalkan indera penglihatan untuk berburu. Jika asap memenuhi area gunung, itu jelas akan membuat pandangan satwa liar yang beraktivitas di malam hari menjadi kabur sehingga tidak bisa berburu secara maksimal.

    Larangan penggunaan api unggun yang mulai diterapkan di banyak gunung di Indonesia merupakan langkah preventif yang sangat tepat untuk kelestarian gunung di masa depan. Masih banyak kelestarian di gunung yang harus dijaga di tengah ramainya tren mendaki gunung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More