Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Menyembunyikan Rasa Lelah di Gunung Sangat Berbahaya?

4 min read
Kenapa Menyembunyikan Rasa Lelah di Gunung Sangat Berbahaya?
ilustrasi sekelompok pendaki yang sedang beristirahat (pexels.com/PNW Production)
  • Pendaki perlu mengabarkan rasa lelah kepada kelompok karena kelelahan ekstrem menurunkan fokus, meningkatkan risiko tergelincir di jalur, dan dapat memicu hipotermia.
  • Komunikasi soal kondisi fisik membantu kelompok menyesuaikan ritme, beristirahat bersama, serta mencegah anggota tertinggal atau terpisah selama pendakian.
  • Melaporkan kelelahan memungkinkan penataan ulang beban logistik; keselamatan harus diutamakan daripada ego mencapai puncak agar tidak merepotkan rombongan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendaki gunung secara bersama, baik dengan teman-teman maupun mengikuti jasa open trip adalah pengalaman yang mungkin akan menjadi memori terbaik dari naik gunung yang tak bisa dilupakan. Menikmati setiap langkah perjalanan bisa mengatasi rasa lelah yang tertutupi dengan obrolan dan tawa dari satu sama lain. Sebagai pendaki yang sering melakukan pendakian berkelompok, kamu pasti tidak akan menjadi pendaki pasif yang banyak diam.

Seorang pendaki harus memberitahukan apa yang terjadi pada dirinya kepada anggota kelompok. Anggota tim tidak akan tahu kondisi fisik yang terjadi pada dirimu. Akibatnya, mereka juga tidak akan pernah menyangka jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Kali ini juga akan dibahas empat alasan pendaki tidak boleh diam saja jika merasa lelah. Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

  1. 1. Menghindari risiko cedera fisik hingga serangan hipotermia

    ilustrasi lutut seseorang yang mengalami cedera
    ilustrasi lutut seseorang yang mengalami cedera (pexels.com/Funkcinės Terapijos Centras)

    Kelelahan ekstrem bisa memicu banyak risiko berbahaya untuk diri kamu sendiri. Karena kelelahan, fokus kamu terhadap perjalanan mendaki akan sangat turun drastis, sehingga kamu tidak waspada terhadap jalur terjal, seperti jalan yang licin atau becek, bebatuan, hingga tepi jurang yang bisa membuat kamu tergelincir. Ditambah, kamu harus terus membawa beban dari tas carrier jika kamu tetap memilih diam dan tidak ingin memberitahukan kondisi fisik yang sebenarnya.

    Kondisi seperti ini jelas tidak baik untuk diterapkan ketika pendakian. Jangan salah, kelelahan ekstrem bisa jadi salah satu pintu masuk datangnya hipotermia, penyakit yang sangat ditakuti oleh banyak pendaki. Seandainya benar terkena hipotermia, itu akan jauh lebih berbahaya karena nyawa seorang pendaki sedang di ambang kematian.

  2. 2. Bisa menurunkan ritme jalan kelompok pendaki

    ilustrasi sekelompok pendaki
    ilustrasi sekelompok pendaki (pexels.com/Masi)

    Jangan pernah membandingkan atau menyamakan ritme suatu kelompok pendaki dengan kelompok lainnya. Semuanya bergantung pada anggota yang mengisi kelompok pendakian tersebut. Jika sebuah tim pendakian diisi oleh mayoritas pendaki pemula atau minim pengalaman mendaki gunung, biasanya mereka memiliki ritme perjalanan yang relatif lambat, begitupun sebaliknya. Biasanya, ritme pendakian ini ditentukan oleh seorang leader atas kesepakatan seluruh anggota tim.

    Ritme yang telah ditetapkan pada sebuah kelompok pendakian akan menentukan durasi perjalanan mereka. Ketika kamu merasa lelah, berhenti sejenak bukanlah hal tabu yang tidak diperbolehkan. Ketika ada satu anggota saja yang merasa lelah, setidaknya ada beberapa orang yang ikut berhenti untuk menunggu pendaki tersebut. Selain agar tidak tertinggal atau terpisah dari kelompok, menunggu anggota tim yang sedang kelelahan adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa solidaritas dan kekompakan sebuah kelompok pendakian.

  3. 3. Bisa mempermudah mengatur ulang manajemen logistik rombongan

    ilustrasi seorang wanita bersama peralatan pendakian
    ilustrasi seorang wanita bersama peralatan pendakian (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Pembagian logistik yang akan dibawa dalam tas carrier biasanya telah ditentukan sebelum pendakian dimulai berdasarkan kapasitas beban maksimal yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok. Pendaki yang biasanya membawa barang penting seperti tenda akan ditaruh di posisi terdepan agar mereka bisa berjalan cepat demi secepatnya membangun tenda di area camp untuk anggota kelompok nantinya. Sementara yang membawa beban yang tidak terlalu penting dan berat akan ditaruh di barisan tengah hingga belakang karena beban yang dibawa relatif ringan.

    Ketika kamu merasa lelah dalam perjalanan, kamu harus memberitahukannya kepada seluruh anggota tim lainnya agar mereka bisa memberikan solusi untuk mengurangi rasa lelah kamu. Biasanya, anggota kelompok yang baik akan menawari menukar barang berat yang dibawa. Jika kamu membawa barang berat seperti nesting atau kompor portable, anggota kelompok yang masih memiliki tenaga fisik yang kuat akan rela menukar barang berat kamu dengan barang yang lebih ringan.

  4. 4. Jangan pernah termakan ego hanya demi keindahan puncak gunung

    ilustrasi puncak gunung saat pagi hari
    ilustrasi puncak gunung saat pagi hari (pexels.com/Brilian Yoga)

    Seperti kebanyakan pesan yang disampaikan oleh pendaki yang baik bahwa keselamatan hidup seorang pendaki jauh lebih penting dibandingkan kesempatan mencapai puncak gunung yang bisa datang berkali-kali. Gunung adalah destinasi ekstrem dan bukanlah ajang untuk memamerkan gengsi dan ego. Buang jauh-jauh ego dan pastikan kamu sudah tidak memiliki rasa itu sebelum mendaki gunung.

    Saat tubuh kamu merasa lelah, itu adalah tanda alami tubuh kamu untuk meminta segera istirahat dan tidak melanjutkan seluruh kegiatan yang akan meruntuhkan pertahanan tubuh. Tak bisa dimungkiri kode alami itu masih saja diabaikan oleh para pendaki yang memiliki ambisi kuat untuk melihat pemandangan di puncak gunung. Alhasil, tubuh mereka akan tumbang dengan sendirinya dan itu akan merepotkan seluruh anggota kelompok dalam perjalanan turun gunung.

    Berkata bahwa tubuh lelah kepada seluruh anggota tim adalah hal wajar yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap pendaki yang mengalaminya. Bukan soal malu atau ego, tapi ini tentang keselamatan dan dampak bahaya yang bisa saja dirasakan oleh satu kelompok pendakian. Jadi, kamu sudah tahu kenapa menyembunyikan rasa lelah di gunung sangat berbahaya, kan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More