Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Tidak Boleh Makan-Minum di KRL, MRT, LRT, dan Transjakarta?
Penumpang berada di dalam KRL Commuter Line jurusan Tanah Abang-Serpong (22/9/2021) (IDN Times/Herka Yanis)
  • Larangan makan-minum di KRL, MRT, LRT, dan Transjakarta menjaga kebersihan serta mencegah tumpahan yang membuat lantai licin dan berisiko mencederai penumpang.
  • Makanan beraroma tajam dapat mengganggu ruang kabin tertutup, sementara remah makanan berpotensi mengundang hama yang mengotori armada dan dapat mengganggu sistem kendaraan.
  • Saat Ramadan, penumpang boleh berbuka dengan makanan ringan dan air putih kemasan; ada batas waktu, serta seluruh sampah wajib dibawa turun dari kendaraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

KRL (Commuter Line), MRT, LRT, dan Transjakarta merupakan moda transportasi umum favorit masyarakat perkotaan. Selain menawarkan efisiensi waktu dan harganya terjangkau, transportasi tersebut juga sangat mengutamakan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan para penumpangnya.

Saat berada di dalam salah satu armada, kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan stiker larangan untuk melakukan beberapa kegiatan. Salah satunya larangan makan dan minum. Aturan tersebut kerap kali memicu pertanyaan, terutama bagi para komuter yang menempuh perjalanan jauh pada jam-jam sibuk dan perut sudah mulai keroncongan.

Kebijakan ini diterapkan dengan berbagai pertimbangan dan dasar yang kuat oleh pihak yang berwenang. Selengkapnya, simak informasinya tentang alasan penumpang dilarang makan dan minum di transportasi publik berikut ini!

1. Menjaga kebersihan armada

Penumpang KRL Solo-Palur (IDN Times/Larasati Rey)

Alasan paling utama di balik larangan makan dan minum di dalam KRL, MRT, LRT, dan Transjakarta adalah demi menjaga kebersihan armada. Pergerakan transportasi publik yang dinamis, seperti pengereman mendadak, akselerasi cepat, atau guncangan di lintasan, sangat berisiko membuat makanan terlempar atau minuman tumpah.

Ceceran makanan atau minuman yang tumpah di lantai tidak membuatnya terlihat kotor, tetapi juga membuat lantai jadi licin. Penumpang yang berdiri atau berjalan di atasnya bisa terpeleset, bahkan berisiko cedera.

2. Mencegah hama dan bau menyengat

Potret penumpang KRL (IDN Times/Herka Yanis)

Interior transportasi umum dirancang sebagai ruang tertutup, berpendingin udara (AC), dan sirkulasi yang berputar di dalam ruangan. Mengonsumsi makanan yang memiliki aroma tajam, seperti durian, cempedak, dan olahan terasi, akan membuat baunya terperangkap dan menyebar ke seluruh ruangan.

Hal ini tentu sangat mengganggu kenyamanan penumpang lain yang mungkin sensitif terhadap aroma tertentu atau sedang mengalami mual perjalanan. Selain itu, remah-remah makanan yang tertinggal di sela-sela kursi atau lantai menjadi magnet yang memancing datangnya hama, seperti kecoa, semut, dan tikus.

Keberadaan serangga atau tikus di dalam transportasi umum tidak hanya mengurangi kebersihan, tetapi juga sangat berbahaya bagi kendaraan tersebut. Mereka suka menggigit materi keras, seperti kabel, sehingga menyebabkan sistem mengalami gangguan.

3. Menghormati kenyamanan dan toleransi antarpenumpang

Potret penumpang KRL Solo-Yogyakarta (IDN Times/Larasati Rey)

Transportasi publik adalah area komunal yang digunakan jutaan orang dengan berbagai latar belakang setiap harinya. Menyantap makanan atau membuang sampah sembarangan saat kondisi padat berdesakan dapat memicu rasa risih dan konflik sosial antarpenumpang. Suasana perjalanan yang penuh saat rush hour sudah cukup melelahkan, sehingga menjaga ketertiban bersama menjadi bentuk simpati serta toleransi yang nyata.

Dengan menahan diri untuk tidak makan dan minum selama berada di dalam transportasi umum, kamu turut berkontribusi menciptakan suasana perjalanan yang tenang, teratur, dan higienis bagi semua orang. Kamu juga turut menjaga etika di ruang publik dan memastikan pengguna moda transportasi dapat menikmati perjalanan dengan nyaman.

4. Pengecualian khusus saat berbuka puasa di bulan Ramadan

Buka puasa dengan kurma (pexels.com/Zak Chapman)

Meski aturan larangan makan dan minum diberlakukan sangat ketat pada hari-hari biasa, manajemen KRL, MRT, LRT, dan Transjakarta memiliki kebijakan khusus saat bulan Ramadan. Penumpang boleh membatalkan puasa ketika azan magrib berkumandang di tengah perjalanan. Aturan ini diterapkan sebagai bentuk toleransi dan kemudahan fasilitas ibadah bagi masyarakat yang sedang berpuasa.

Namun, ada aturan yang wajib dipatuhi para penumpang. Makanan yang diperbolehkan untuk disantap terbatas antara lain kurma, roti, atau camilan ringan yang tidak berbau tajam dan tidak berpotensi mengotori kabin. Jenis minuman yang diizinkan juga hanya hanya air putih dalam kemasan tertutup rapat, seperti botol atau tumbler.

Penumpang diminta untuk segera menyelesaikan kegiatan membatalkan puasa dalam waktu singkat, maksimal 10 menit untuk Transjakarta, MRT, dan LRT, sedangkan KRL maksimal satu jam setelah azan. Selanjutnya, sisa sampah makanan atau minuman wajib dimasukkan ke dalam tas atau kantong kecil dan dibawa turun dari transportasi umum.

Nah, sekarang kamu sudah tahu alasan tidak boleh makan dan minum di dalam transportasi umum, seperti KLR, LRT, MRT, dan Transjakarta. Sebaiknya patuhi aturan yang berlaku selama kamu naik moda transportasi umum tersebut, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article