Perbedaan Transit dan Connecting Flight di Bandara, Kamu Sudah Tahu?

- Transit umumnya memakai pesawat dan nomor penerbangan yang sama, berhenti singkat untuk kebutuhan teknis sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi akhir.
- Connecting flight mengharuskan penumpang berganti pesawat dengan nomor penerbangan berbeda; pengelolaan bagasi bergantung pada kode booking, kerja sama maskapai, dan rute.
- Pada connecting flight, penumpang menjalani pemeriksaan ulang dan berisiko ketinggalan penerbangan lanjutan saat delay; maskapai biasanya menjadwalkan ulang jika tiket berada dalam satu booking.
Bagi kamu yang sering bepergian naik pesawat terbang, terutama untuk rute jauh atau penerbangan internasional, ada beberapa istilah yang mungkin sudah tidak asing di telingamu, seperti transit, connecting flight, boarding gate, take off, landing, dan sebagainya.
Dari beberapa istilah tersebut, tak sedikit penumpang yang masih kerap tertukar antara transit dan connecting flight. Meskipun sama-sama melakukan pemberhentian di satu atau lebih bandara sebelum mencapai destinasi akhir, dua kegiatan tersebut rupaanya memiliki perbedaan yang signifikan dan harus dipahami para penumpang.
Yuk, simak ulasan lengkap mengenai perbedaan transit dan connecting flight berikut ini, supaya perjalananmu berikutnya makin lancar dan bebas stres! Dengan memahaminya, kamu juga akan terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan, seperti ketinggalan pesawat misalnya.
1. Jumlah pesawat dan nomor penerbangan

Perbedaan yang paling mendasar antara transit dan connecting flight terletak pada armada pesawat, serta kode penerbangan yang digunakan. Pada penerbangan transit, kamu umumnya hanya menggunakan satu unit pesawat yang sama dari kota asal hingga destinasi akhir.
Pesawat tersebut hanya berhenti sejenak di bandara perantara untuk keperluan teknis. Misalnya seperti pengisian bahan bakar, pembersihan kabin, atau menaikkan dan menurunkan beberapa penumpang.
Sementara itu, connecting flight atau penerbangan lanjutan mengharuskan kamu untuk berpindah dari satu pesawat ke pesawat lainnya di bandara penghubung. Karena menggunakan dua atau lebih armada yang berbeda, kamu akan memiliki dua tiket atau dua nomor penerbangan (flight number) yang berbeda untuk masing-masing perjalanan.
2. Penanganan bagasi tercatat

Pada sistem transit flight, kamu tidak perlu repot mengurus atau mengambil ulang bagasi tercatat di bandara perantara. Semua barang bawaan yang masuk ke dalam bagasi pesawat (checked baggage) akan tetap berada di dalam kargo hingga kamu tiba di tujuan akhir perjalanan.
Lain halnya dengan connecting flight. Penanganan bagasi bergantung pada kebijakan maskapai dan rute yang ditempuh. Jika kamu memesan penerbangan lanjutan dalam satu kode pemesanan (booking code) atau maskapai yang berada dalam satu aliansi, bagasi biasanya ditransfer otomatis.
Sebaliknya, apabila kamu membeli dua tiket dari maskapai berbeda yang tidak bekerja sama, kamu wajib mengambil bagasi di area klaim bagasi lalu mendaftarkannya kembali (checkin ulang) untuk penerbangan berikutnya.
Beberapa maskapai memiliki interline baggage agreement, yakni perjanjian kerjasama yang memungkinkan dua maskapai atau lebih untuk memindahkan bagasi terdaftar secara otomatis antar pesawat saat proses transfer. Biasanya hal ini berlaku untuk penumpang dengan satu kode PNR (Passenger Name Record) atau kode booking.
3. Prosedur menunggu dan keluar bandara

Saat melakukan transit, penumpang biasanya diminta untuk tetap berada di dalam kabin pesawat atau diarahkan menuju ke transit lounge khusus di terminal bandara. Karena durasi transit umumnya relatif singkat, berkisar antara 30-90 menit, penumpang tidak diperkenankan untuk keluar dari area steril bandara atau melewati pemeriksaan imigrasi untuk penerbangan internasional.
Sementara itu, connecting flight memberikan waktu tunggu yang cenderung lebih lama, mulai dari beberapa jam hingga belasan jam (layover). Pada penerbangan lanjutan ini, kamu harus melewati area pemeriksaan keamanan ulang. Jika jeda waktu tunggu sangat panjang, serta regulasi visa negara tersebut mengizinkan, kamu diperbolehkan untuk keluar dari bandara untuk jalan-jalan singkat di kota persinggahan.
4. Risiko keterlambatan (delay) dan tanggung jawab maskapai

Risiko penerbangan tertinggal atau missed connection adalah hal yang paling ditakuti pada connecting flight. Jika penerbangan pertamamu mengalami delay, sehingga kamu melewatkan pesawat kedua, maskapai biasanya akan bertanggung jawab dan menjadwalkan ulang penerbanganmu secara gratis dengan syarat kedua penerbangan berada dalam satu kode booking yang sama.
Sebaliknya, jika kamu memesan dua tiket secara terpisah dari maskapai berbeda, risiko kerugian akibat tiket hangus menjadi tanggung jawab pribadi. Namun, tak ada salahnya untuk mendatangi customer service maskapai yang delay untuk meminta kompensasi berupa penggantian tiket pesawat. Jika beruntung, kamu akan mendapatkan penggantian tersebut.
Hal ini sangat jarang terjadi pada transit flight, karena kamu menumpangi pesawat yang sama dari awal hingga akhir. Jika terjadi keterlambatan pada rute awal, jadwal keberangkatan tahap berikutnya secara otomatis akan menyesuaikan karena seluruh penumpang dan awak kabin yang digunakan adalah sama.
Dengan memahami perbedaan mendasar antara transit dan connecting flight ini, kamu kini bisa lebih cermat dan bijak dalam merencanakan penerbangan.





















