Benarkah Asap Mesin Diesel Lebih Berpolusi dari Mobil Bensin?

Perdebatan mengenai mana yang lebih merusak lingkungan antara mesin diesel dan mesin bensin telah berlangsung selama puluhan tahun. Secara visual, asap hitam yang terkadang keluar dari knalpot mobil diesel sering kali menciptakan persepsi bahwa mesin ini jauh lebih kotor dan berbahaya bagi kualitas udara dibandingkan mesin bensin yang asapnya cenderung tidak terlihat.
Namun, menilai tingkat polusi hanya berdasarkan tampilan fisik asap dapat memberikan kesimpulan yang kurang akurat. Setiap jenis bahan bakar memiliki karakteristik emisi yang berbeda, di mana masing-masing menyumbangkan polutan yang unik dengan dampak kesehatan dan lingkungan yang juga bervariasi, terutama seiring dengan kemajuan teknologi penyaringan udara pada kendaraan modern.
1. Perbedaan kandungan materi partikulat dan nitrogen oksida

Karakteristik utama yang membuat asap diesel sering dianggap lebih berpolusi adalah kandungan Materi Partikulat (PM) yang tinggi. Partikel mikroskopis yang dikenal sebagai jelaga ini dihasilkan dari proses pembakaran kompresi yang tidak sempurna. Jika terhirup, partikel-partikel halus ini dapat masuk ke dalam sistem pernapasan dan menyebabkan masalah kesehatan serius. Inilah alasan mengapa asap diesel terlihat lebih pekat dan berbau menyengat dibandingkan gas buang mesin bensin.
Selain partikulat, mesin diesel secara alami menghasilkan Nitrogen Oksida (NOx) dalam jumlah yang lebih besar karena suhu pembakaran yang sangat tinggi di dalam ruang bakar. Gas NOx merupakan kontributor utama pembentukan kabut asap (smog) dan hujan asam. Meskipun mobil bensin juga menghasilkan gas ini, volumenya biasanya lebih rendah sehingga mesin diesel sering kali menjadi target regulasi emisi yang lebih ketat di kota-kota besar untuk menekan polusi udara perkotaan.
2. Keunggulan diesel dalam emisi karbon dioksida

Meskipun kalah dalam hal partikulat dan NOx, mesin diesel justru lebih unggul dibandingkan mesin bensin dalam hal emisi Karbon Dioksida ($CO_2$). Karena memiliki efisiensi termal yang lebih tinggi, mesin diesel mengonsumsi bahan bakar lebih sedikit untuk menempuh jarak yang sama. Hal ini mengakibatkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah secara keseluruhan, yang menjadikannya pilihan yang lebih baik dalam konteks upaya menekan laju pemanasan global.
Mesin bensin, walaupun menghasilkan asap yang lebih bersih secara visual, cenderung mengeluarkan lebih banyak $CO_2$ karena konsumsi bahan bakarnya yang lebih boros. Dalam skala global, kontribusi mesin bensin terhadap akumulasi gas rumah kaca di atmosfer sering kali lebih besar daripada mesin diesel. Oleh karena itu, predikat "lebih berpolusi" sangat bergantung pada sudut pandang polutan mana yang menjadi fokus utama, apakah polusi udara lokal yang berdampak pada kesehatan pernapasan atau polusi gas rumah kaca yang berdampak pada iklim dunia.
3. Peran teknologi penyaringan pada standar emisi modern

Di tahun 2026 ini, kesenjangan tingkat polusi antara diesel dan bensin semakin menipis berkat penerapan standar emisi yang ketat. Mobil diesel modern telah dilengkapi dengan Diesel Particulate Filter (DPF) yang mampu menyaring hingga 99% jelaga sebelum keluar dari knalpot. Selain itu, penggunaan cairan AdBlue dalam sistem Selective Catalytic Reduction (SCR) telah berhasil memecah gas NOx yang berbahaya menjadi nitrogen dan uap air yang aman bagi atmosfer.
Teknologi ini membuat mobil diesel terbaru memiliki emisi partikulat yang hampir setara dengan mobil bensin. Tantangan utamanya kini beralih pada pemeliharaan komponen-komponen canggih tersebut. Jika sistem penyaringan ini dilepas atau tidak dirawat, mobil diesel akan kembali menjadi penyumbang polusi yang sangat besar. Pada akhirnya, mesin diesel modern yang dirawat dengan benar bukanlah "mesin kotor" seperti persepsi publik di masa lalu, melainkan unit tenaga yang efisien dengan manajemen limbah yang sangat kompleks.

















