Hino Perkuat Pendidikan Vokasi untuk Industri Transportasi

- Hino memperkuat pendidikan vokasi kendaraan niaga lewat kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, dan diler untuk menyiapkan SDM yang mampu mengikuti perkembangan teknologi industri transportasi.
- Program Hino Indonesia Partnership School menyelaraskan kurikulum, melatih guru, menyediakan media belajar, sertifikasi kompetensi, dan praktik kerja agar siswa lebih siap memasuki dunia kerja.
- Jaringan diler berperan sebagai lokasi praktik, pembinaan kompetensi, serta peluang karier lulusan, melengkapi rantai pengembangan SDM dari pendidikan hingga lingkungan industri.
Jakarta, IDN Times - Industri kendaraan niaga tidak hanya membutuhkan perkembangan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengoperasikan, merawat, dan memberikan layanan purna jual.
Kebutuhan tersebut mendorong PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) memperkuat ekosistem pendidikan vokasi melalui kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, dan jaringan diler.
Upaya tersebut dibahas dalam panel bertajuk “Membangun Generasi Vokasi Unggul untuk Industri Transportasi Indonesia Masa Depan” yang digelar Hino pada ajang GIIAS 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah, Hino, dan diler untuk membahas kesiapan tenaga kerja menghadapi perkembangan teknologi kendaraan niaga.
1. Hino dorong kolaborasi industri dan pemerintah

Hino menilai pendidikan vokasi memiliki posisi penting dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Karena itu, perusahaan mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan agar materi pendidikan tidak berhenti pada pembelajaran di sekolah, tetapi memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dunia kerja.
Sales & After Sales Director HMSI Susilo Darmawan mengatakan dukungan terhadap pendidikan merupakan bagian dari kontribusi Hino terhadap pengembangan SDM Indonesia.
“Bagi Hino, mendukung dunia pendidikan merupakan bagian dari kontribusi kami untuk Indonesia. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, kami ingin membantu mencetak lulusan yang siap bekerja dan menjawab kebutuhan industri,” ujar Susilo Darmawan, beberapa waktu lalu.
Dalam diskusi tersebut, Hino menghadirkan Direktur SMK Kemendikdasmen Arie Wibowo Khurniawan, Hino Academy & Customer Center Division Head HMSI Pieter Andre, serta Direktur PT Duta Cemerlang Motors (DCM) Christian Hemasurya.
Sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan, dan jaringan diler dinilai penting karena kebutuhan industri kendaraan niaga terus berkembang seiring perubahan teknologi.
2. HIPS hubungkan sekolah dengan kebutuhan industri

Komitmen Hino terhadap pendidikan vokasi salah satunya diwujudkan melalui Hino Indonesia Partnership School (HIPS).
Program tersebut dirancang sebagai kemitraan antara sekolah kejuruan dan dunia industri agar proses pembelajaran memiliki keterkaitan lebih erat dengan kebutuhan pekerjaan di sektor kendaraan niaga.
Melalui HIPS, Hino melakukan sejumlah kegiatan, mulai dari penyelarasan kurikulum, pelatihan guru, penyediaan media pembelajaran, sertifikasi kompetensi, hingga program praktik kerja industri.
Pendekatan tersebut ditujukan agar siswa mendapatkan pengalaman yang lebih relevan sebelum memasuki dunia kerja.
Selain pendidikan di tingkat sekolah, Hino mengembangkan Hino Indonesia Academy sebagai pusat peningkatan kompetensi bagi mekanik, pengemudi, dan tenaga profesional di sektor transportasi.
Program pelatihannya disusun mengikuti perkembangan teknologi kendaraan Hino sehingga kompetensi peserta dapat terus diperbarui.
3. Diler jadi penghubung lulusan dan dunia kerja

Pengembangan SDM tidak berhenti ketika siswa menyelesaikan pendidikan. Dalam ekosistem yang dibangun Hino, jaringan diler juga memiliki peran dalam proses transisi dari sekolah menuju dunia kerja.
Diler Hino dapat menjadi lokasi pelaksanaan praktik kerja industri sekaligus tempat pembinaan kompetensi siswa.
Jaringan tersebut juga membuka peluang karier bagi lulusan yang telah memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan industri.
“Bagi diler, keberadaan lulusan vokasi yang telah mendapatkan pembelajaran sesuai kebutuhan industri sangat membantu proses adaptasi di dunia kerja. Mereka lebih siap bekerja, memahami budaya industri, dan mampu memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan sejak hari pertama,” ujar Direktur DCM Christian Hemasurya.
Bagi Hino, pola tersebut membentuk rantai pengembangan SDM yang lebih berkesinambungan, mulai dari pendidikan, pelatihan, praktik kerja, hingga masuk ke lingkungan industri.




















