Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Mitos Mengemudi Hemat BBM yang Justru Bisa Bikin Salah Strategi

4 min read
5 Mitos Mengemudi Hemat BBM yang Justru Bisa Bikin Salah Strategi
ilustrasi mengemudi mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Mematikan mesin saat berhenti singkat, mengisi tangki secara berlebihan, dan melaju sangat pelan tidak otomatis membuat konsumsi BBM lebih irit.
  • Menetralkan transmisi saat turunan bukan jaminan hemat BBM; menggunakan gigi sesuai kondisi membantu kendali melalui engine braking dan pada sistem tertentu mengurangi suplai bahan bakar.
  • Membuka jendela tidak selalu lebih hemat daripada memakai AC karena hambatan udara meningkat pada kecepatan tinggi; kecepatan stabil dan berkendara halus lebih relevan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Harga bahan bakar yang terus menjadi perhatian membuat banyak pengemudi mencari berbagai cara agar konsumsi BBM kendaraan terasa lebih irit. Sayangnya, gak semua kebiasaan yang selama ini dipercaya mampu menghemat bahan bakar benar-benar bekerja secara efektif. Beberapa strategi bahkan dapat mengganggu kenyamanan berkendara hingga membuat komponen kendaraan bekerja kurang optimal.

Mitos seputar mengemudi hemat BBM biasanya bertahan karena terdengar masuk akal dan diwariskan dari pengalaman pengemudi lain. Padahal, teknologi mesin terus berkembang sehingga kebiasaan yang mungkin relevan pada kendaraan lama belum tentu cocok diterapkan pada mobil modern. Supaya usaha menghemat BBM gak berakhir dengan strategi yang keliru, yuk kenali beberapa mitos yang masih sering dipercaya.

  1. 1. Mematikan mesin setiap berhenti sebentar selalu lebih hemat

    ilustrasi starter mobil
    ilustrasi starter mobil (pexels.com/My Car Key Hero)

    Mematikan mesin setiap kali kendaraan berhenti sering dianggap sebagai cara paling sederhana untuk mengurangi pemakaian bahan bakar. Anggapan tersebut memang terdengar logis karena mesin yang mati otomatis gak menggunakan BBM untuk mempertahankan putaran langsam. Namun, keputusan untuk mematikan mesin perlu mempertimbangkan durasi berhenti, kondisi lalu lintas, dan teknologi kendaraan yang digunakan.

    Mobil modern yang dilengkapi teknologi start-stop otomatis memang dirancang agar mesin dapat mati dan menyala kembali dalam situasi tertentu secara efisien. Sebaliknya, mematikan mesin secara manual dalam jeda yang sangat singkat belum tentu memberikan manfaat berarti dan malah dapat terasa merepotkan. Jadi, kebiasaan ini gak perlu dilakukan secara berlebihan setiap kali kendaraan berhenti hanya beberapa saat.

  2. 2. Mengisi BBM sampai benar-benar penuh membuat konsumsi lebih irit

    ilustrasi mengisi bensin mobil
    ilustrasi mengisi bensin mobil (pexels.com/ClickerHappy)

    Tangki penuh terkadang dipercaya dapat membuat kendaraan lebih hemat karena pengemudi gak perlu terlalu sering mampir ke stasiun pengisian bahan bakar. Padahal, jumlah BBM di dalam tangki gak secara langsung meningkatkan efisiensi pembakaran mesin. Semakin banyak bahan bakar yang dibawa, bobot kendaraan juga bertambah meskipun pengaruhnya terhadap konsumsi dalam penggunaan sehari-hari biasanya relatif kecil.

    Kebiasaan memaksa pengisian setelah nosel berhenti otomatis juga bukan strategi tepat untuk memperoleh jarak tempuh ekstra. Tangki dan sistem penguapan bahan bakar memiliki rancangan tertentu sehingga ruang yang tersedia gak semestinya selalu dipaksa terisi sampai batas paling atas. Lebih baik hentikan pengisian sesuai mekanisme normal daripada mengejar tambahan BBM hanya karena berharap kendaraan menjadi lebih irit.

  3. 3. Melaju sangat pelan pasti menghemat lebih banyak BBM

    ilustrasi mobil di jalan
    ilustrasi mobil di jalan (pexels.com/Matthew Goeckner)

    Kecepatan rendah sering disamakan dengan konsumsi bahan bakar yang lebih sedikit karena mesin dianggap bekerja lebih ringan. Kenyataannya, efisiensi kendaraan gak hanya ditentukan oleh seberapa pelan mobil bergerak, tetapi juga putaran mesin, posisi gigi, beban kendaraan, dan kondisi perjalanan. Berkendara terlalu lambat pada situasi yang gak sesuai justru dapat membuat perjalanan berlangsung lebih lama tanpa memberikan keuntungan efisiensi yang sebanding.

    Cara yang lebih masuk akal adalah menjaga kecepatan secara stabil dan menghindari akselerasi maupun pengereman agresif ketika kondisi jalan memungkinkan. Perubahan kecepatan yang terlalu sering membuat mesin harus berulang kali menyesuaikan tenaga untuk menggerakkan kendaraan. Jadi, mengemudi dengan halus dan konsisten lebih relevan daripada sekadar mengejar kecepatan serendah mungkin.

  4. 4. Menetralkan transmisi saat jalan menurun selalu menghemat BBM

    ilustrasi transmisi mobil matic
    ilustrasi transmisi mobil matic (vecteezy.com/pakpoom phummee)

    Memindahkan transmisi ke posisi netral ketika melewati jalan menurun masih dianggap sebagai trik agar mobil dapat meluncur tanpa banyak menggunakan bahan bakar. Kebiasaan tersebut berasal dari anggapan bahwa mesin akan bekerja lebih ringan ketika gak terhubung langsung dengan roda. Pada mobil modern, strategi ini gak selalu memberikan penghematan seperti yang dibayangkan.

    Tetap menggunakan gigi yang sesuai saat menurun juga membantu pengemudi memanfaatkan efek engine braking untuk mengendalikan laju kendaraan. Pada sejumlah sistem injeksi modern, komputer mesin bahkan dapat mengurangi atau menghentikan sementara suplai bahan bakar dalam kondisi deselerasi tertentu ketika gigi masih terhubung. Karena itu, mempertahankan kendali kendaraan dan memilih posisi transmisi sesuai kondisi jalan jauh lebih penting daripada sengaja meluncur dalam posisi netral.

  5. 5. Membuka jendela selalu lebih hemat daripada memakai AC

    ilustrasi mengemudi mobil dengan kaca terbuka
    ilustrasi mengemudi mobil dengan kaca terbuka (pexels.com/Atlantic Ambience)

    Mematikan AC lalu membuka jendela sering dipercaya sebagai cara mudah untuk menekan beban mesin dan menghemat bahan bakar. Strategi tersebut memang dapat mengurangi kerja sistem pendingin kabin, terutama ketika kendaraan bergerak dengan kecepatan rendah. Namun, efeknya dapat berubah ketika mobil melaju lebih cepat karena jendela terbuka menambah hambatan udara pada kendaraan.

    Hambatan aerodinamis yang meningkat membuat mesin membutuhkan tenaga tambahan untuk mempertahankan kecepatan tertentu. Kondisi tersebut membuat perbandingan antara penggunaan AC dan jendela terbuka gak sesederhana memilih salah satunya dalam semua situasi. Faktor kecepatan, cuaca, desain kendaraan, dan kebutuhan kenyamanan perlu dipertimbangkan agar strategi penghematan BBM tetap realistis.

    Menghemat BBM bukan sekadar mengikuti trik yang terdengar logis, tetapi memahami cara kendaraan bekerja dalam berbagai kondisi perjalanan. Kebiasaan menjaga kecepatan stabil, menghindari akselerasi agresif, dan menggunakan kendaraan sesuai karakter teknologinya cenderung lebih masuk akal daripada mengandalkan mitos. Dengan memahami perbedaannya, strategi berkendara dapat menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan kenyamanan maupun kendali kendaraan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian

Related Articles

See More