Kasus Seal Akbar Faizal, BYD: Telah Mencapai Penyelesaian secara Baik

- BYD Motor Indonesia memastikan kasus antara Akbar Faizal dan pihak diler telah diselesaikan secara baik dan damai setelah melalui komunikasi dengan seluruh pihak terkait.
- Masalah bermula dari gangguan teknis pada mobil BYD Seal Premium milik Akbar Faizal yang membuat kendaraan tidak stabil, diikuti proses perbaikan lambat dan koordinasi antar pihak yang kurang efektif.
- Sebagai tindak lanjut, BYD menegaskan komitmennya untuk mendorong diler merespons cepat setiap keluhan konsumen agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Jakarta, IDN Times - Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menyampaikan update terbaru mengenai kasus yang dialami oleh mantan anggota DPR RI, Akbar Faizal, yang sempat viral di media sosial beberapa waktu belakangan.
"Update terakhir, diler telah melakukan komunikasi dengan seluruh pihak terkait termasuk konsumen secara langsung," ujar Luther dalam keterangan resmi yang diterima IDN Times, Selasa (14/4/2026).
1. Masalah sudah diselesaikan dengan damai

Kasus ini mencuat setelah ia membagikan kronologi masalah yang dialaminya di media sosial resmi miliknya di Instagram @akbarfaizal68, mulai dari gangguan teknis kendaraan hingga langkah somasi terhadap beberapa pihak terkait.
"Kami mengapresiasi atas keterbukaan semua pihak dalam proses tersebut, sehingga kini telah mencapai penyelesaian secara baik dan damai antara konsumen, diler, asuransi dan leasing," jelas Luther.
2. Kronologi masalah yang dialami Akbar Faizal

Permasalahan bermula tak lama setelah Akbar Faizal membeli BYD Seal Premium pada Desember 2025. Mobil tersebut dilaporkan mengalami gangguan serius berupa kondisi tidak stabil saat dikendarai, yang ia gambarkan seperti “oleng” atau “joget”.
Kondisi ini membuat kendaraan tidak nyaman digunakan, dan keluhan tersebut kemudian dilaporkan ke pihak dealer dan jaringan resmi untuk dilakukan pemeriksaan.
Namun, proses penanganan justru berjalan lambat. Mobil disebut sempat tidak jelas statusnya selama lebih dari dua bulan tanpa kepastian hasil perbaikan.
Setelah akhirnya masuk ke bengkel yang direkomendasikan, perbaikan yang dilakukan tidak memberikan hasil sesuai harapan. Bahkan, analisa teknis yang dilakukan disebut tidak tepat dan justru memperparah kondisi kendaraan.
Situasi ini diperburuk oleh kurangnya koordinasi antara berbagai pihak yang terlibat, mulai dari dealer, bengkel, perusahaan pembiayaan, hingga asuransi. Akbar menilai terjadi saling lempar tanggung jawab, sehingga penyelesaian masalah menjadi terhambat.
Hingga memasuki bulan keempat, kendaraan tersebut belum juga mendapatkan solusi yang jelas. Kondisi ini membuat konsumen merasa dirugikan karena tidak bisa menggunakan mobil dalam waktu lama.
3. BYD minta diler untuk merespons cepat masalah konsumen

Sebagai bentuk protes, Akbar Faizal mulai menunda pembayaran cicilan pada Maret 2026, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikannya pada April. Keputusan ini diambil karena mobil yang dibeli tidak dapat digunakan secara normal.
Terakhir, Luther juga menyampaikan kalau BYD Indonesia akan terus mendorong diler untuk mengedepankan respon yang cepat dan penanganan yang optimal dalam setiap keluhan konsumen.


















